Seberapa sering kamu mengecek smartphone-mu?

Setiap 30 menit sekali? Setiap 15 menit sekali? Atau bahkan setiap 5 menit sekali? Hanya untuk sekedar melihat adakah notifikasi yang masuk atau snapgram orang yang kamu follow.

Kamu tidak sendirian, kebanyakan orang memang melakukan hal itu.

Lalu apa dampaknya?

 

Smartphone mengurangi kemampuan kognitif

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of the Association for Consumer Research (JACR), didapatkan hasil bahwa ketika seseorang berhasil membangun perhatian (fokus) yang berkelanjutan—seperti  saat menghindari godaan untuk mengecek hp, kemampuan kognitif mereka membaik.

Dan ketika seseorang berinteraksi dengan smartphone (walaupun dalam keadaan mati), kemampuan kognitif mereka berkurang.

Hasil gambar untuk unsplash cognitive

Dalam penelitian ini juga disampaikan bahwa pemilik smartphone rata-rata mengecek hp-nya 85 kali sehari.

Ada yang mengatakan bahwa ketika berpergian mending ketinggalan dompet daripada hp-nya.

Bahkan 90% melaporkan mereka tidak pernah keluar rumah tanpa hp-nya, dan 46% mengatakan bahwa tidak bisa tidak bisa hidup tanpa hp.

 

Merusak fokus

Meskipun smartphone adalah perangkat kecil yang memberimu banyak informasi, tapi smartphone juga punya efek negatif.

Cukup mengganggu pastinya.

Hasil gambar untuk study with smartphone

Misalnya, kamu sedang belajar dengan serius. Membaca buku terjemahan Biology Campbell yang bahasanya agak rumit dipahami.

Lalu handphone kamu taruh di meja tempat kamu belajar. Walaupun sedang tidak mengoperasikannya, ketika lampu notifikasi handphone kamu berkedip, pasti secara tidak sadar mata sekilas melihatnya.

Dan ketika itulah muncul pikiran pada otak untuk mengecek notifikasi apakah itu. Seketika fokusmu hilang terhadap buku yang kamu baca. Itulah salah satu pengaruh smartphone.

Bayangkan fokus yang kamu bangun dari awal akan tiba-tiba musnah gara-gara lampu notifikasi tadi. Lampu notifikasi memang di desain dengan warna yang cerah dan kontras supaya kamu tertarik untuk mengeceknya.

 

Menempati sebagian space otak

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa mereka (smartphone) dapat memberikan kesejahteraan bagi penggunanya, tetapi karena smartphone ini selalu hadir di samping kamu, maka ia mungkin akan menimbulkan masalah pada kognitif otak.

Pengaruh smartphone mengisi sebagian otak kita. Maksudnya menempati sebagian space pikiran kita, inilah yang dimaksud dengan penurunan kerja otak akibat keberadaan smartphone.

Bayangkan otak sebagai sebuah kotak kosong.

Lalu saya misalkan “keberadaan smartphone” sebagai “benda X”. Sekarang benda X saya masukkan ke kotak kosong. Benda X jelas menempati suatu ruang (space) pada kotak, bukan?

Dan jelas kotak yang belum terisi benda X tadi dapat memuat lebih banyak benda lain (tugas lain yang dikerjakan otak) daripada yang sudah terisi benda X.

Baca juga:  Merubah sampah plastik menjadi BBM dengan metode pirolisis

Mungkin analogi tadi kurang dapat kamu dipahami. Tetapi itulah pendekatan saya  yang barangkali dapat mengilustrasikan apa yang dimaksud dari “menempati sebagian space pada otak”.

 

Bahaya Multitasking

Sumber gambar: Teamwork

Contoh lainnya adalah berikut ini.

Pernahkah kamu mendengar pernyataan seperti ini,

“Jangan mendengarkan musik ketika sedang bekerja atau melakukan sesuatu”?

Saya setuju dengan pernyataan ini.

Mengapa? Bukankah masing-masing individu itu berbeda cara bekerjanya?

Sebenarnya kegiatan ini istilahnya adalah multitasking.

Seorang ahli neuroscientist kognitif, Daniel Levitin, mengatakan bahwa mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan musik justru membuat produktivitas menurun karena fokus kita terbagi antara kegiatan yang sedang kita kerjakan dengan kegiatan mendengarkan musik tersebut.

Ada juga yang mengatakan kegiatan multitasking menghambat ingatan jangka pendek. Pernahkah kamu ketika ingin menyapu tetapi memutuskan untuk mengecek handphone dulu…

…dan setelah bermain handphone selesai malah tidak jadi menyapu karena lupa?

 

Tips untuk Mengurangi Ketergantungan Smartphone

Di bawah ini contoh-contoh cara yang dapat kamu gunakan untuk mengurangi ketergantungan pada smartphone.

 

1. Mulailah membaca buku cetakan (print out).

Hasil gambar untuk book and ebook

Bukan berarti membaca buku elektronik atau e-book tidak bagus.

Tapi disini tujuannya adalah supaya kamu tidak memiliki kebiasaan memegang smartphone. Memang e-book itu lebih praktis kalau dibawa kemana-mana, tapi masalahnya adalah ketika kita sedang membaca e-book tiba-tiba ada notifikasi, entah dari whatsapp, instagram, atau aplikasi lain.

Itu sangat mengganggu perhatianmu terhadap apa yang sedang kamu baca.

Membangun fokus itu tidak sesederhana yang kamu kira. Butuh waktu beberapa menit untuk membangun fokus.

Mungkin muncul pertanyaan begini, “Kan bisa  mobile data-nya dimatikan. Jadi kan gak ada notifikasi masuk lagi.” Kembali pada penelitian di atas tadi.

Hanya kehadiran saja dari sebuah smartphone disekitarmu, walaupun kamu sudah membangun fokus, tetap saja ada bagian kognitif di otak yang tersedia berkurang.

Jadi, walaupun kamu mematikan mobile data dari smartphone dan berharap tidak notifikasi masuk yang mengganggu, tetap saja ada godaan (kalau kamu seorang ketergantungan smartphone) untuk mengecek handphone.

Sumber gambar: Study Breaks

Kembali pada membaca buku cetakan, terdapat manfaat lebih yang kamu dapatkan ketika membaca buku daripada e-book.

Dari sebuah penelitian pada 2013 menyebutkan bahwa ditemukan pada siswa kelas 10 (mungkin kelas ini yang diteliti) mendapat nilai lebih baik secara signifikan pada tes pemahaman dalam membaca jika mereka membaca pada sebuah kertas daripada pada sebuah layar.

Baca juga:  Salah paham tentang cahaya biru dari gadget, yang katanya berbahaya bagi manusia

 

2. Pikirkan lagi seberapa besar manfaatnya

Pikirkan lebih jauh lagi apakah manfaat yang di dapat dari menggunakan smartphone setimpal dengan waktu yang telah kamu luangkan.

Banyak dari masyarakat kita rata-rata mengoperasikan handphone selama sekitar 5 jam perhari. Dari bangun tidur hingga beranjak tidur.

Waktu selama itu jelas berpengaruh sangat signifikan terhadap kegiatan lain yang lebih penting.

Misalnya, bisa digunakan untuk mengembangkan bakatmu, atau membaca-baca buku. Apakah diam, menundukan kepala, ibu jari bergerak dari bawah keatas menggeser layar menyelesaikan sebuah masalah? Saya pikir tidak.

 

3. Sembunyikan smartphone

Suruh teman terdekat atau orang tua untuk menyembunyikan smartphone tanpa diketahui tempatnya olehmu.

Mungkin ide ini terdengar aneh. Tapi hal ini cukup efektif.

Saya pernah melakukannya sewaktu belajar masuk perguruan tinggi. Jadi saya meminta tolong orang tua untuk menyembunyikan hp saya untuk sementara waktu.

Dengan begini, kamu tidak akan kepikiran bateri handphone tinggal berapa, perlu di-charge apa tidak, si ini sedang melakukan apa, sedang di mana.

Memang mengulik info atau istilahnya stalking itu hal yang cukup mengasikkan. Internet kan memang isinya penuh hiburan. Video kucing di Instagram yang menggemaskan, video trending youtube, tapi hal-hal yang sebenarnya tak cukup penting itu sebaiknya memang dihindari.

Lebih baik memperoleh kesenangan yang nyata daripada yang maya, bukan?

 

Well, saya tidak akan mengatakan bahwa kamu harus mem-banned semua akun media sosialmu.

Sekarang, pikirkanlah lagi seberapa manfaat yang kamu dapatkan dari kegiatan ber-media sosial.

Apakah setara dengan seberapa jam yang telah kamu luangkan untuk kegiatan ini? Apakah ini akan berdampak baik padamu kedepannya? Think again.

 

We all understand the joys of our always-wired world—the connections, the validations, the laughs … the info. … But we are only beginning to get our minds around the costs.

Andrew Sullivan (2016)

 

Referensi

No more articles
[addthis tool="addthis_inline_share_toolbox"]