A password will be e-mailed to you.

    Saat cuaca panas atau setelah olahraga tentulah sering kita merasa haus. Pun ketika sedang makan, sebagian besar orang memerlukan minuman untuk mengatasi rasa seret. Lalu sebenarnya apa sih yang mendasari terjadinya rasa haus?

    Tubuh kita terdiri dari rata-rata 45–75% air. Di dalam tubuh air terdistribusi ke beberapa ruangan yang disebut sebagai kompartemen. Sebagian besar (±67%) air mengisi ruangan di dalam sel sementara sisanya terbagi ke dalam ruangan antar sel (±26,7%) dan pembuluh darah (±6,7%). Dengan demikian, jika 1 L cairan tubuh memiliki massa 1 kg, seseorang dengan berat badan 60 kg memiliki total 36 L cairan tubuh dengan 4–5 L di antaranya adalah darah [1].

     

    Cairan tubuh memiliki konsentrasi yang berbeda-beda antar kompartemen, ditentukan salah satunya oleh konsentrasi atau kadar elektrolit. Elektrolit berperan dalam menjaga jumlah cairan tetap di masing-masing kompartemen yang dibatasi oleh selaput yang disebut membran sel.

    Menggunakan prinsip osmosis, cairan dari satu kompartemen dapat berpindah ke kompartemen lainnya apabila terjadi perubahan pada kadar elektrolit. Cairan akan berpindah dari kompartemen dengan kekentalan yang lebih rendah menuju kompartemen dengan kekentalan lebih tinggi. Dapat dikatakan juga bahwa elektrolit berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.

    Pada kondisi normal, cairan tubuh yang hilang senantiasa tergantikan oleh cairan yang masuk. Tiap harinya, sebanyak rata-rata 2,5 L air hilang dari tubuh melalui berbagai cara: 1,5 L melalui urin, 600 mL melalui kulit sebagai keringat dan penguapan yang tidak disadari (insensible perspiration), 300 mL melalui pernapasan sebagai uap air, dan 100 mL melalui feses. Sumber cairan yang masuk dapat berasal dari minuman (±1,6 L), makanan (±700 mL), dan hasil pengolahan energi dalam tubuh (200 mL) [1].

    Ketika cairan tubuh yang hilang tidak dapat tergantikan oleh cairan yang masuk, dehidrasi dapat terjadi. Tidak hanya ditandai dengan berkurangnya volume cairan tubuh, dehidrasi juga ditandai dengan meningkatnya kekentalan cairan. Dehidrasi ringan terjadi ketika massa tubuh berkurang sebanyak 2% akibat cairan yang hilang [1].

    Akibat yang ditimbulkan oleh keadaan dehidrasi terjadi karena terganggunya fungsi sel. Perubahan kekentalan cairan, terutama darah, dapat menimbulkan perubahan pada kandungan elektrolit dan kimia di lingkungan sel sehingga sel tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Meskipun peningkatan kekentalan hingga ±7% biasanya belum menunjukkan gejala yang berarti, peningkatan kekentalan sebanyak ±10% akan mampu menyebabkan kelemahan dan rasa mual bahkan hingga perubahan kesadaran dan kejang [2]. Selain itu, penurunan volume dan tekanan darah akan mengganggu fungsi darah dalam mengedarkan nutrisi dan oksigen ke sel-sel sehingga berujung pada berkurangnya asupan bagi sel-sel untuk berfungsi secara normal [3].

    Tubuh memiliki berbagai mekanisme yang kompleks untuk mempertahankan kecukupan dan keseimbangan cairan tubuh, salah satunya yaitu melalui rasa haus [1]. Sebagai suatu respons yang mengandung komponen emosi, rasa haus memiliki peran sebagai pengatur atau regulator utama dalam memenuhi asupan cairan pada orang sehat [2]. Meningkatnya kekentalan darah, yang merupakan bagian dari cairan tubuh, sebanyak 1% saja dapat memicu rasa haus [3].

    Penelitian pada hewan mamalia menunjukkan bahwa rasa haus sebagaimana rasa lapar, nyeri, dan gatal merupakan suatu emosi primitif yang memberikan motivasi untuk melakukan tindakan pemuasan tertentu seperti minum, makan, dan menggaruk. Mekanisme ini diperantarai oleh beberapa area di otak yang juga mengatur proses pengambilan keputusan, kesadaran, dan emosi [2]. Bukankah minuman yang diminum ketika merasa haus terasa lebih nikmat? Hal ini terjadi karena area yang dikenal sebagai pusat penghargaan (reward center) juga ikut terlibat [2,3].

    Sebagai salah satu kondisi yang memicu rasa haus, dehidrasi tidak serta-merta melibatkan suatu proses tunggal yang sederhana. Paling tidak ada 2 cara dehidrasi mampu mencetuskan rasa haus. Yang pertama adalah melalui peningkatan kekentalan yang menggambarkan terjadinya kehilangan cairan yang tidak disertai hilangnya komponen cairan lainnya secara berarti, contohnya adalah saat kita berkeringat. Kondisi tersebut merupakan sinyal yang paling kuat untuk dapat menimbulkan rasa haus. Otak dapat mengenali langsung perubahan kekentalan darah ini melalui suatu sensor yang bertindak sebagai pusat pengatur keseimbangan cairan dan penerus sinyal menuju pusat haus. Cara yang kedua adalah melalui berkurangnya volume darah yang diiringi dengan turunnya tekanan darah seperti yang terjadi pada saat seseorang mengalami perdarahan. Pada kondisi tersebut, sensor yang mengenali perubahan volume dan tekanan darah akan diaktifkan dan menyebabkan dihasilkannya protein yang dapat memicu pusat haus di otak [2,3].

    Lalu mengapa pada saat makan kita juga merasa haus? Bukankah rasa haus tersebut muncul bahkan sebelum terjadi penyerapan makanan yang dapat meningkatkan kekentalan darah?

    Disebut sebagai haus antisipasi (anticipatory thirst) atau haus prandial (prandial thirst; prandial = makan), kondisi ini merupakan cara tubuh untuk mengantisipasi akan terjadinya perubahan kekentalan darah yang mengiringi penyerapan makanan dari saluran cerna ke aliran darah [3]. Akan tetapi, jalan yang ditempuh ternyata berbeda. Di sepanjang saluran cerna, terdapat juga sensor-sensor yang dapat mengenali kandungan garam dalam makanan yang kita makan. Semakin tinggi kandungan garam, sensor-sensor ini semakin banyak mengirimkan sinyal kepada pusat haus di otak. Perlu diketahui bahwa garam dapat meningkatkan kekentalan darah sehingga tubuh mengantisipasi melalui rasa haus agar kita minum dan mencegah peningkatan kekentalan darah [2]. Itulah mengapa apabila kita memakan makanan asin kita akan lebih mudah merasa haus.

    Haus juga dapat dicetuskan oleh suhu yang disebut dengan thermal thirst. Kondisi yang ini sebenarnya mirip dengan haus antisipasi karena penguapan cairan akibat panas belum terjadi saat haus mulai dirasakan. Lagi-lagi, tubuh menjadikan rasa haus sebagai langkah antisipasi untuk mencegah hilangnya cairan akibat penguapan yang dapat berujung pada peningkatan kekentalan darah [2].

    Yang terakhir adalah rasa haus yang sering muncul pada saat pagi hari. Kondisi ini disebut sebagai haus sirkadian (circadian thirst). Sirkadian sendiri merupakan fenomena yang berkaitan dengan jam biologis tubuh. Yang terjadi adalah, selama tidur di malam hari, hilangnya cairan melalui pernapasan dan urin tidak dapat langsung tergantikan sehingga timbullah dehidrasi. Dari sini, proses yang selanjutnya terjadi adalah seperti yang sudah dijelaskan di atas di bagian yang membahas mengenai dehidrasi.

    Nah begitulah ternyata rumitnya proses yang terjadi di balik hal sesederhana haus! Menarik bukan?

     

    Baca juga:  Trofi Piala Dunia 2018 Ternyata Kopong!

     


     

    Tulisan ini adalah kiriman dari penulis. Kamu juga bisa membuat tulisanmu sendiri di Saintif dengan bergabung di Saintif Community

     


     

     

    Referensi:

    [1] Tortora, GJ & Derrickson, B, 2012, Principles of Anatomy & Physiology, 13 ed, John Wiley & Sons, USA.

    [2] Gizowski, C & Bourque, CW, The neural basis of homeostatic and anticipatory thirst, Nature Reviews Nephrology 2018; 14:11–25.

    [3] Leib, DE, Zimmerman, CA, Knight, ZA, Thirst, Curr Biol. 2016 December 19; 26(24): R1260–R1265.

    No more articles