Arti Kata ‘Angkara’

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘angkara’ memiliki arti sebagai berikut:

  • angkara: /ang·ka·ra/ 1 n kebengisan. Contoh: janganlah Anda berbuat angkara thd sesama manusia; 2 n kekurangajaran (thd perempuan dsb). Contoh: ia tidak pernah berbuat angkara thd istri orang; 3 a loba; tamak;
  • angkara murka: kebengisan dan ketamakan. Contoh: raja yg angkara murka murka;
  • keangkaraan: /ke·ang·ka·ra·an/ n 1 kekejaman; kebengisan; 2 kebiadaban; 3 ketamakan; kelobaan

Penjelasan Arti ‘Angkara’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia

Istilah “angkara” memiliki beberapa arti yang berkisar pada konsep perasaan dan tindakan negatif. Pertama-tama, “angkara” sebagai kata benda menunjukkan sifat kebengisan atau perilaku yang sangat kejam.

Contohnya, jika seseorang berkata, “Janganlah Anda berbuat angkara terhadap sesama manusia,” mereka sedang memperingatkan orang lain untuk tidak melakukan tindakan kejam atau bengis terhadap orang lain.

Arti kedua dari “angkara” juga sebagai kata benda, adalah kekurangajaran, terutama yang berhubungan dengan perlakuan terhadap perempuan atau yang terkait dengan norma-norma sosial.

Misalnya, ketika dikatakan, “Ia tidak pernah berbuat angkara terhadap istri orang,” artinya dia tidak pernah berperilaku kasar atau tidak sopan terhadap istri orang lain.

Ketika “angkara” digunakan sebagai kata sifat, itu menggambarkan sifat loba atau tamak, yakni selalu ingin memiliki lebih tanpa puas dengan apa yang sudah dimiliki.

Lalu ada gabungan kata “angkara murka” yang mencerminkan kombinasi dari kebengisan dan ketamakan. Ini biasanya dikaitkan dengan figur otoritatif yang menyalahgunakan kekuasaannya secara ekstrem, seperti “raja yang angkara murka,” yang dalam hal ini raja tersebut dikenal sangat kejam dan tamak.

Sementara itu, “keangkaraan” sebagai kata benda mempunyai arti yang hampir mirip dengan “angkara,” tetapi lebih kepada kondisi atau sifat yang melekat akibat perilaku buruk tersebut.

Kata ini merangkum konsep kekejaman, kebengisan, dan juga ketamakan atau kelobaan. Ini digunakan untuk menggambarkan tindakan atau sikap kejam secara umum, kebiadaban dalam berbagai bentuk, atau perilaku tamak yang memperlihatkan tidak adanya kepuasan terhadap apa yang sudah dimiliki.

Jadi, mengingat arti-arti tersebut, kita diperingatkan untuk menghindari sifat-sifat negatif ini dan senantiasa berusaha menjadi lebih baik dalam setiap interaksi kita sehari-hari.

Berusaha untuk bersikap adil, ramah, dan juga merasa cukup dengan apa yang kita miliki adalah beberapa cara untuk menghindari ciri-ciri “angkara” ini..

Referensi

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/angkara