A password will be e-mailed to you.

    Kita semua pasti sering menemui orang yang tubuhnya tidak setinggi teman-teman seumurannya.

    Orang ini biasanya jadi sasaran bully karena tubuh pendek nya, dan seringkali membalas:

    “Ini genetik, mau diapain lagi? Huhu~”

    Benarkah itu?

    Tinggi badan ternyata banyak dipengaruhi oleh asupan gizi seseorang, terutama saat 1000 hari pertama di hidupnya. 9 bulan 10 hari saat dalam rahim Ibu, hingga saat ia lahir dan berumur 2 tahun. Faktor genetik baru akan mempengaruhi tinggi badan sedikit demi sedikit saat seorang anak tumbuh menjadi remaja hingga dewasa dan akhirnya tinggi badannya berhenti bertambah.

    Padahal, fase pertumbuhan fisik tercepat—secara keseluruhan, baik dari segi tinggi badan, berat badan, maupun perkembangan sel—dalam hidup manusia adalah pada 1000 hari pertama kehidupan tadi. Maka perlu nutrisi dan stimulasi optimal untuk memaksimalkan proses ini.

    Ini adalah fase waktu kecepatan pertumbuhan manusia:

    Lalu bagaimana pertumbuhan tinggi badan seharusnya? Terutama saat pertumbuhan tercepat kita semua?

    Dalam tulisan ini, akan dibahas perkembangan balita, yaitu masa setelah lahir hingga berumur 60 bulan (5 tahun).

    Standar pertumbuhan tinggi badan ini dikembangkan oleh World Health Organization (WHO). Penelitian tersebut dinamakan WHO MGRS (WHO Multicentre Growth Reference Study).

    Dalam penelitian tersebut, WHO memilih tempat di Pelotas (Brazil), Accra (Ghana), Delhi Selatan (India), (Oslo) Norwegia, Muscat (Oman), dan Davis (Amerika Serikat). Negara-negara tersebut sengaja dipilih, karena mencakup berbagai macam ras dan etnis.

    Karena tujuan penelitian ini adalah menetapkan standar ideal tumbuhnya balita, balita-balita yang dipilih pun memiliki kriteria-kriteria tertentu. Semua balita harus:

    1. Tumbuh di lingkungan sosio-ekonomi yang menguntungkan (daya beli keluarga cukup, pendidikan orangtua cukup, dan lain-lain)
    2. Tidak ada riwayat kesehatan ataupun lingkungan yang dapat menghambat pertumbuhan
    3. Balita mengonsumsi ASI eksklusif (ASI saja), minimal sejak lahir hingga berumur 4 bulan
    4. Diberi makanan pendamping ASI sejak umur 6 bulan
    5. Tetap diberikan ASI hingga minimal 12 bulan
    6. Ibu balita tidak merokok sebelum maupun sesudah melahirkan
    7. Bayi yang lahir tidak kembar
    8. Balita tidak pernah mengalami sakit parah

    Hasil penelitian mereka cukup menarik. Meski berasal dari etnis yang berbeda, hanya melalui pemberian ASI, makanan pendamping ASI, perawatan kesehatan, dan stimulasi fisik-sosial yang sama, pertumbuhan anak-anak tadi cenderung sama.

    Baca juga:  Pasangan Matahari Yang Gagal Menjadi Bintang

    Disadur dari Assessment of Differences in Linear Growth among Populations in the WHO Multicentre Growth Reference Study

     

    Di masa pertumbuhan tercepat, nutrisi yang baik, perawatan kesehatan, dan stimulasi fisik-sosial ternyata berdampak baik bagi pertumbuhan sang balita, terlepas dari etnis alias genetiknya.

    Berdasarkan penelitian tadi, WHO mengembangkan “WHO Child Growth Standard”, sebuah diagram yang menunjukkan bagaimana seharusnya balita, sejak lahir hingga berusia 5 tahun, tumbuh secara fisik.

    Sebenarnya, WHO Child Growth Standard tidak hanya terdiri dari diagram yang komponennya tinggi badan dan umur, untuk melihat apakah tinggi badan seorang balita telah sesuai dengan umurrnya. Ada tinggi badan dan berat badan, dan lain-lain.

    Namun, yang menjadi fokus dalam pembahasan kali ini adalah diagram tinggi badan menurut umur, karena itulah yang akan membuktikan bahwa tinggi badan saat balita lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan daripada genetik.

    Apabila tinggi badan berdasarkan umur seorang balita ada di bawah garis -3, maka anak tersebut mengalami sebuah kondisi bernama stunting.

    Secara sederhana, kita bisa mendefinisikan stunting sebagai suatu keadaan dimana pertumbuhan tinggi badan balita tidak sesuai dengan umurnya. Tidak sesuai disini, maksudnya adalah lebih pendek.

    Mengingat masa ini adalah masa dimana tubuh seseorang bertumbuh dengan cepat, maka dapat dikatakan pertumbuhan pada masa ini akan dibawa terus hingga seseorang menua dan akhirnya meninggal. Apalagi, stunting cukup sulit untuk disembuhkan, meski mungkin. Asupan makanan yang bergizi dan seimbang tentu sangat membantu hal ini. Bagaimanapun juga, mencegah tentu lebih baik daripada mengobati.

     

    Kartu Menuju Sehat: WHO Child Growth Standard di Indonesia

    Di Indonesia, WHO Child Growth Standard juga sudah dipakai, lho!

    Kartu menuju sehat, kartu milik anak-anak balita Indonesia ini, dipakai di posyandu balita untuk memantau tinggi badan balita-balita Indonesia.

    Gambar disadur dari: Growth Chart, The Urban Mama

    Kementerian Kesehatan, saat hari gizi nasional tanggal 25 Januari kemarin, sudah mengambil subtema “Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk Pencegahan Stunting”.

    Bahkan, penumpasan stunting dijadikan salah satu program prioritas nasional untuk Kementerian Keuangan di tahun 2019, lho.

    Eh, kok Kementerian Keuangan? Bukannya stunting masalah kesehatan?

    Baca juga:  Menurut Sains, 5 Cara Ini Dapat Membuat Hidupmu Bahagia

     

    Pentingnya tumbuh tinggi: bukan cuma penampilan

    Tinggi badan ternyata memiliki hubungan dengan resiko penyakit tidak menular, seperti obesitas, hingga kanker. Tinggi badan, karena berhubungan dengan asupan makanan, juga berhubungan dengan tingkat kecerdasan, kemungkinan terhadap infeksi, dan juga produktivitas. Hal ini tentu akan berdampak pada GDP. Itulah yang membuat stunting menjadi penting untuk ditangani, bahkan Kementerian Keuangan pun turun tangan!

    Oh ya, jangan lupa ya, dalam setiap efek dari stunting tadi, ada kata resiko. Bukan berarti orang yang pendek pasti mengalami hal tadi, dan orang tinggi tidak mungkin mengalaminya. Tentu banyak faktor-faktor lain yang memiliki kontribusi terhadap kejadian-kejadian tersebut.

     

    Apa ada harapan?

    Menaikkan tinggi badan rakyat Indonesia bukan tidak mungkin.

    Warga negara-negara di Asia timur seperti Korea Selatan dan Jepang mengalami penambahan tinggi badan dalam 100 tahun terakhir.

    Korea Selatan sendiri mengalami penambahan sebesar 7,94 inci (kurang lebih 20 cm) dan Jepang mengalami penambahan sebesar 6,31 inci (kurang lebih 16 cm). Hal itu terjadi karena perbaikan kebiasaan makan.

    Yuk, mulai konsumsi makanan seimbang! Hal itu terbukti membuatmu makin tinggi, dan makin produktif tentunya.

     

    Referensi

     

    Tulisan ini adalah kiriman kontributor

    Kamu juga dapat mengirimkan tulisanmu untuk Saintif lho, simak panduannya di sini ya! Kami tunggu karya hebatmu.

     

    No more articles