Jika kamu menemui pertanyaan “Teks yang berisi penilaian terhadap sebuah hasil karya adalah… (a) eksplanasi, (b) eksposisi, (c) deskripsi, (d) ulasan” maka jawabannya adalah tesk ulasan. Pembahasannya akan saya jelaskan dalam artikel ini.

Teks adalah sekumpulan kalimat yang tersusun secara sistematis dan koheren untuk menyampaikan informasi atau pesan dari pengarang kepada pembaca.

Teks dapat berbentuk tulisan maupun lisan dan memiliki berbagai tujuan, seperti menginformasikan, meyakinkan, atau menghibur pembaca atau pendengar.

Jenis-jenis teks bahasa Indonesia

Terdapat berbagai jenis teks dalam bahasa Indonesia, berikut ini empat jenis teks yang akan sering kamu temui dalam mata pelajaran bahasa Indonesia:

  • Teks Deskriptif.
    Teks deskriptif adalah teks yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu objek, tempat, atau peristiwa.
  • Teks Eksplanasi.
    Teks eksplanasi adalah teks yang berfungsi untuk menjelaskan proses terjadinya suatu fenomena.
  • Teks Eksposisi
    Teks eksposisi adalah teks yang bertujuan memberikan informasi atau penjelasan secara detail tentang suatu topik.
  • Teks Ulasan.
    Teks ulasan adalah teks yang memberikan penilaian atau evaluasi terhadap sebuah karya atau produk.

Sehingga, jawaban dari pertanyaan di atas pilihan jawaban teks ulasan lah yang paling tepat.

Penjelasan Teks ulasan

Teks ulasan adalah sebuah teks yang berisi penilaian, kritikan atau evaluasi suatu karya atau produk. Teks ulasan biasanya ditulis oleh seseorang yang memiliki pengetahuan atau keahlian di bidang terkait dengan karya yang diulas.

Teks ini memiliki peran penting dalam memberikan pandangan terhadap suatu karya yang dapat menjadi referensi bagi pembaca sebelum mereka memutuskan untuk menikmati, menggunakan, atau membeli karya tersebut, misalnya:

  • Seorang pengulas buku mengulas tentang alur cerita, pengembangan karakter, gaya penulisan pengarang, dan dampak buku terhadap pembaca.
  • Ulasan film mungkin akan mengevaluasi plot, akting, penyutradaraan, efek visual, dan kesesuaian dengan genre atau tema.
  • Dalam ulasan karya seni, seorang kritikus mungkin akan mengulas tentang teknik, ekspresi, dan pesan yang ingin disampaikan oleh seniman.

Ulasan dapat mencakup berbagai aspek, seperti kelebihan, kekurangan, keunikan, dan lain-lain. Selain itu, teks ulasan juga sering memberikan rekomendasi kepada pembaca.

Contoh Teks Ulasan

Sekarang kamu sudah tahu kan bahwa teks ulasan berisi penilaian karya dan memiliki struktur tertentu. Berikut ini adalah contoh dari bentuk teks ulasan dari sebuah buku untuk menambah pemahamanmu.

Judul: The Roots of Modern Social Psychology
Pengarang: Robert M. Farr
Penerbit: Blackwell Publishers, Oxford
Tahun Terbit: 1996
Jumlah Halaman: 204

Ulasan:

Pada suatu seminar proposal untuk penelitian doktor dalam bidang psikologi, seorang penyaji mengemukakan berbagai konsep yang akan dijadikan acuan dalam penelitiannya.

Seorang peserta seminar tertarik untuk tahu lebih banyak, maka terjadilah dialog sebagai berikut. Teori pokok yang Anda gunakan apa?

T: Teori apa yang Anda gunakan?
J: Saya eklektif.
T: Di antara sejumlah teori yang digunakan itu, apa yang paling diutamakan
J: Tidak ada

Sampai di situ penanya menjadi terbungkam. Baginya, akan sangat sulit dimengerti bila suatu penelitian tidak dilandaskan pada pemikiran yang kuat. Cara yang paling mudah untuk melakukannya adalah dengan mengambil suatu teori sebagai pokok pikiran. Ini tidak berarti bahwa teori tersebut diambil bulat-bulat dan tanpa mempedulikan kemungkinan menggunakan teori lain.

Ilustrasi di atas dimaksudkan untuk mengantarkan pada permasalahan yang akan disampaikan dalam review ini. Apabila seseorang akan meneliti tanpa tahu teori pokok yang digunakan, dapat dipastikan penelitian itu ahistor. Memang memungkinkan bila dipandang secara sepintas bahwa teori dan sejarah tidak terkait. Namun teori tidak dapat dilepaskan dari sejarahnya. Kesadaran inilah salah satu pendorong Robert M. Farr untuk menulis The Roots of Modern Social Psychology, Lebih spesifik lagi, dia tidak hanya tertarik pada sejarah psikologi sosial tetapi khusus pada akarnya.

Akar psikologi sosial ternyata bisa menjadi bahasan yang panjang dan mendalam sehingga buku setebal 200 halaman lebih itu sebenarnya masih dapat dipanjangkan lagi. Sementara itu, menulis sejarah tidak akan cukup hanya berkutat pada akarnya. Tulisan sejarah psikologi sosial yang membahas perkembangannya jelas akan lebih panjang. Menyadari akan hal ini Farr juga membatasi fokus tulisan pada sejarah institusi daripada ide. Kombinasi dari akar dan kelembagaan ini tentu saja ada dimensi waktunya.

Di samping hal-hal yang menarik, ada juga beberapa catatan yang perlu disimak agar pembacak dapat mengantisipasi dan tidak merasa kecewa. Misalnya, bagi yang pernah membaca sejarahid psikologi sosial sebelumnya akan menemukan repetisi isi buku ini. Ini adalah hal yang tidakad terindahkan dalam menulis buku sejarah. Penulis bahkan secara tegas menyatakan bahwa Bab I banyak mengutip artikel Allport (1954) dan Jones (1985). Isi pokok Bab 2 dilandaskan padaj. tulisan Danzinger (1979) sedangkan Bab 3 banyak diilhami tulisan Jahoda (1992).

Ada beberapa ungkapan yang diulang. Pada satu sisi upaya ini dapat mengingatkan pembaca tentang ide yang dibahas. Pada sisi lain cara seperti ini kadang membosankan. Misalnya ia kontroversi antara Lewin dengan Heider (h. 114 115) tampaknya akan lebih menarik bila diungkapkan secara lebih sistematis sehingga ungkapannya tidak diulang meskipun dengan cara a yang berbeda. Demikian juga ketika menyatakan peran kakak beradik Floyd dan Gordon Allport (h. 117) merupakan pengulangan dari pernyataan yang dikemukakan sebelumnya. Ada beberapa contoh lain tentang hal ini.

Manfaat apa yang dapat diambil bila membaca buku ini? Hal yang paling utama setelahnya membaca sejarah suatu disiplin ilmu adalah munculnya kesadaran tentang perkembangan disiplina tersebut. Kesadaran ini akan mengarahkan para akademisi dan ilmuwan untuk melihat ulang apaal yang pernah ada. Pada masa sekarang ini teknologi telah memberi kemudahan untuk melakukang itu.

CD-ROM dengan cepat dapat memberi informasi tentang penelitian sebelumnya. Dengan memanfaatkannya, seorang peneliti akan tahu di mana letak penelitiannya dalam perkembangan ilmu bidang tertentu. Dia akan tahu pasti konsep yang digunakan, tidak sekedar tahu namanya tapi al yang lebih penting adalah isi dan maknanya. Dengan demikian penelitipun tidak dengan mudah menulis: “penelitian ini adalah yang pertama sebelumnya belum pernah diteliti. ***

Kepustakaan

  • Allport, G.W. 1968. The Historical Background of Modem Social Psychology. Dalam Lindzey, & Aronson, E. (eds.) The Handbook of Social Psychology. Second edition. Addison-Wesleya Publishing Company, London.
  • Holton, RJ. 1996. Classical Social Theory. Dalam Turner, B.J. (ed.) The Blackwell Companion Social Theory, Blackwell, Oxford.
  • Moscovici, S. 1996. Symbolic Interactionism in the Twentieth Century: the Rise of Empirical Social Theory. Dalam Turner, B.J. (ed.) The Blackwell Companion to Social Theory. Blackwell, Oxford.

Daftar Pustaka