Posisi duduk bisa jadi masalah pelik (tapi lucu) di Indonesia

Dulu pas masih SD, saya rajin duduk di depan. Untuk itu, di hari pertama sekolah saya berangkat pagi-pagi untuk mendapatkannya. Tidak sampai sepagi seperti yang di berita sih, saya cuma berangkat normal jam 6 pagi.

Waktu berlalu, saya beranjak masuk sekolah tingkat SMP, lalu SMA. Saya masih tetap duduk di barisan depan, tapi tidak depan-depan banget. Sesekali saya juga pernah memilih duduk di barisan belakang, dan hasilnya, saya tak banyak mengerti pelajaran yang diberikan oleh guru.

Waktu berlalu lagi, saya beranjak masuk kuliah… dan di sini saya lebih sering duduk di barisan belakang (apalagi kalau dosennya agak membosankan, hehe). Dan hasilnya, ternyata nilai rata-rata kuliah saya tidak lebih buruk daripada teman-teman yang duduk di depan, bisa dibilang sama saja.

Bagaimana ini sebenarnya?

Berebut Posisi Duduk

Kita disuguhkan aksi jenaka di hari pertama sekolah kemarin (17 Juli 2016), ketika banyak ibu-ibu yang beraksi untuk berebut kursi duduk untuk anaknya sekolah.

Ada yang melakban dan memaku tas di tempat duduk, ada pula yang berangkat ke sekolah di dini hari, jam 2 pagi!

Aneh-aneh saja.

Tas murid dipaku dan dilakban untuk dapat tempat duduk

Sudah pesan tempat duduk seminggu sebelum sekolah masuk

Sudah pesan tempat duduk seminggu sebelum sekolah masuk

Berangkat jam 2 dini hari untuk dapat tempat duduk idaman

Berangkat jam 2 dini hari untuk dapat tempat duduk idaman

Fenomena rebutan tempat duduk semacam itu tak berkembang tanpa sebab. Ada anggapan bahwa posisi menentukan prestasi. Para siswa yang duduk di depan cenderung memiliki nilai akademis yang baik, sedangkan siswa di barisan belakang kerap diidentikkan disukai oleh siswa-siswa pembuat onar.

Tapi apa memang benar?
Mari kita lihat saja data penelitiannya.

Hasil Penelitian

Muh. Mansyur Thalib dari Universtas Tadulako, Sulawesi Tengah, melakukan penelitian terhadap 60 mahasiswa semester III Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Untad.

p1

Penelitian ini dilakukan dengan metode quasi eksperimen dengan disain faktorial 2 x 2, mempunyai dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebas pertama (variabel perlakuan) adalah pemberian tugas, variabel bebas kedua (variabel atribut) adalah posisi tempat duduk, sedang variabel terikat adalah skor hasil belajar Statistik Pendidikan.

Untuk lebih jelas mengenai metode penelitiannya, silahkan merujuk ke papernya. Saya langsung merujuk ke hasil penelitiannya saja.

Penelitian tersebut menyatakan rata-rata skor hasil belajar mata kuliah Statistik Pendidikan mahasiswa yang duduk di posisi depan secara signifikan lebih tinggi sebesar 26,5, sedangkan yang duduk di posisi belakang hanya sebesar 22,5 saja.

Hal itu membuktikan bahwa prestasi akademik mahasiswa yang duduk di posisi depan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang duduk di posisi belakang.

Penelitian di Kenya

Penelitian lain yang dilakukan oleh Moses Waithanji Ngware, dkk dari Education Research Program, African Population and Health Research Center, Nairobi, Kenya memperkuat anggapan posisi menentukan prestasi. Mereka meneliti sebanyak 1907 siswa kelas enam sekolah dasar di Kenya dari sekolah unggulan dan sekolah dengan peringkat rendah. Mereka diuji tingkat prestasinya dengan tiga simulasi.

p2

Pada simulasi pertama, penelitian dilakukan dengan mencampurkan siswa dari sekolah unggulan dan sekolah dengan peringkat rendah. Hasilnya, siswa dengan posisi tempat duduk di barisan terdepan memiliki nilai akademik yang lebih tinggi dibanding siswa di barisan lainnya.

Simulasi kedua menempatkan objek penelitian hanya siswa dari sekolah unggulan. Hasilnya, posisi siswa yang duduk di barisan pertama tetap memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa di barisan lainnya.

Terakhir, simulasi dilakukan pada siswa dari sekolah peringkat rendah. Dan hasilnya terlihat berbeda secara signifikan. Para siswa di barisan pertama jelas tetap memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa di barisan lainnya.

Moses menjelaskan, kemungkinan penyebab prestasi akademik siswa lebih tinggi ketika duduk di depan adalah posisinya yang lebih dekat dengan guru.

Maka, para siswa barisan depan ini cenderung lebih sering berinteraksi dengan gurunya. Kita pun juga sering mengalaminya tentunya, para guru lebih sering mengarahkan pertanyaan kepada siswa yang duduk di barisan depan.

Adapun siswa yang duduk di belakang, mereka cenderung lebih sering berinteraksi satu sama lain sehingga meminimalkan interaksi dengan guru ataupun memperhatikan pelajaran.

Pendapat Ahli dari Inggris

Walaupun kedua penelian yang kita lihat di atas (dan juga banyak penelitian lain) menunjukkan hubungan positif antara tempat duduk dan prestasi akademik, Chris Hakala dari Western New England University mengatakan bahwa sulit untuk menafsirkan apakah benar penyebab prestasi tersebut adalah tempat duduk mereka.

p3

Tapi Chris membenarkan bahwa siswa yang posisi duduk nya di depan kelas lebih mungkin akrab dengan guru mereka dibandingkan siswa di barisan belakang.

Duduk di barisan depan memang berpengaruh pada hubungan antara siswa dan guru, dan hal tersebut berkaitan dengan prestasi akademik yang lebih besar pula.

Kesimpulan

Dari sumber yang telah kita paparkan di atas, kita dapat melihat adanya hubungan positif antara posisi duduk dan prestasi akademik siswa, dan sebab utamanya adalah karena adanya interaksi lebih antara guru dan siswa di barisan depan.

Kalau begitu, bagaimana nasib para siswa yang duduk di belakang?

Yang pasti, gap prestasi akademik tersebut dapat diatasi jika guru tetap bisa menghandle interaksi dengan semua elemen siswa di kelas. Pula, duduk di barisan belakang juga bukan sebuah masalah besar jika si siswa tetap aktif dan memperhatikan pelajaran dengan baik.

Malahan, jika si siswa tetap memiliki semangat belajar yang tinggi (walaupun duduknya di belakang), ia akan memiliki prestasi yang lebih baik. Bukan hanya prestasi akademik, tapi juga capaian non-akademik lainnya.

Referensi: