Tanah Aluvial: Sifat, Proses Pembentukan dan Penggunaannya

tanah aluvial
Ilustrasi oleh dribbble.com

Tanah Aluvial adalah tanah endapan yang dibentuk dari lumpur dan pasir halus yang mengalami erosi tanah.

Banyak terdapat di dataran rendah, di sekitar muara sungai, rawa-rawa, lembah-lembah, maupun di kanan kiri aliran sungai besar.

Hasil gambar untuk gambar ilustrasi tanah aluvial

Tanah ini banyak mengandung pasir dan liat, tidak banyak mengandung unsur-unsur zat hara.

Ciri-cirinya berwarna kelabu dengan struktur yang sedikit lepas-lepas dan peka terhadap erosi. Kadar kesuburannya sedang hingga tinggi tergantung bagian induk dan iklim.

Di Indonesia tanah alluvial ini merupakan tanah yang baik dan dimanfaatkan untuk tanaman pangan (sawah dan palawija) musiman hingga tahunan.

Sifat dari Tanah Aluvial

Sifat dari tanah Aluvial ini kebanyakan diturunkan dari bahan-bahan yang diangkut dan diendapkan. Teksturnya berkaitan dengan laju air mendepositkan Alluvium.

Sehingga tanah ini cenderung bertekstur kasar yang dekat aliran air dan bertekstur lebih halus di dekat pinggiran luar paparan banjir.

Secara mineralogy, jenis tanah ini berkaitan dengan tanah yang bertindak sebagai sumber Aluvium.

Endapan tanah aluvial baik yang diendapkan oleh sungai maupun diendapkan oleh laut, biasanya memiliki susunan mineral seperti daerah diatasnya tempat bahan-bahan bersangkutan diangkut dan diendapkan.

Sifat Morfologis Pada Tanah Aluvial

Hasil gambar untuk gambar manfaat tanah aluvial

Terdapat perbedaan sifat morfologis pada tanah Aluvial yang dipersawahan dengan tanah yang tidak dipersawahan. Perbedaan yang sangat nyata dapat dijumpai pada epipedonnya, yaitu pada epipedon yang tidak pernah dipersawahan berstruktur granular dan warna coklat tua.

Sedangkan epipedon tanah Aluvial yang dipersawahan tidak berstruktur dan berwarna berubah menjadi kelabu. 

Tanah Alluvial yang masih muda dan belum ada perbedaan horizon biasanya sering menjadi penyebab banjir dan mengalami endapan marine akibat adanya pasang surut air laut.

Baca juga:  Diagram Venn (Penjelasan Lengkap dan Contoh Pengunaannya)

Proses Pembentukan Tanah Aluvial

Hasil gambar untuk gambar proses pembentukan tanah aluvial
  • Proses pembentukan tanah ini sangat tergantung dari bahan induk asal tanah dan topografi,
  • Tingkat kesuburan tanah bervariasi dari rendah sampai tinggi, tekstur dari sedang hingga kasar, serta kandungan bahan organik dari rendah sampai tinggi dan pH tanah berkisar masam, netral, sampai alkalin, kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation juga bervariasi karena tergantung dari bahan induknya.
  • Tanah Alluvial memiliki kadar ,pH yang sangat rendah yaitu kurang dari 4, sehingga sangat sulit untuk dibudidayakan.

Tanah Alluvial atau Inceptisol ini yang masuk kategori bermasalah yaitu jenis sulfaquepts, karena mengandung horizon sulfuric (cat clay) yang sangat masam. Tahap perkembangan tanah Alluvial memperlihatkan awal perkembangan yang biasanya lembab atau basa selama 90 hari berturut-turut.

Biasanya tanah ini memiliki lapisan kambik, karena tanah ini belum berkembang lebih lanjut dan juga kebanyakan tanah ini cukup subur. Aluvial atau Inceptisol ini merupakan tanah-tanah yang memiliki epipedon dan okrik, horizon albik.

Manfaat dan Penggunaan

Hasil gambar untuk gambar manfaat tanah aluvial

a. Lahan Pertanian

Tanah aluvial dapat dikategorikan sebagai tanah yang masih muda karena terbentuk dari proses endapan pasir dan lumpur. Meski demikian, terdapat kandungan unsur hara yang cukup tinggi pada jenis tanah ini.

Inilah yang menyebabkan tanah alluvial sangat cocok dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

b. Tanah yang Mudah Menyerap Air

Tanah ini memiliki kemampuan menyerap air yang baik, sehingga tidak akan mudah rusak ketika berada dalam kondisi yang basah.

Dengan adanya sifat ini, maka akar-akar tumbuhan akan lebih mudah tumbuh, menyebar, dan mengambil air sebanyak-banyaknya dari dalam tanah alluvial.

c. Bagus untuk Lahan Palawijaya

Memiliki kemampuan daya serap air yang bagus membuat jenis tanah ini sangat cocok bila dimanfaatkan sebagai media tanaman palawijaya.

Baca juga:  Fungsi dan Struktur Jaringan Epidermis Pada Manusia

Contoh tanaman palawija yang cocok diterapkan pada tanah aluvial adalah tebu, jagung, gandum, dan padi.

d. Proses Irigasi Jadi Lancar

Manfaat lain yang berasal dari tanah aluvial adalah proses irigasi yang lancar.

Pasalnya, lokasi tanah ini selau berada di endapan sungai membuat akses akses ke kebun menjadi lebih lancar dan mudah.

e. Tanaman Jadi Lebih Subur

Kandungan unsur hara yang tinggi membuat tanaman yang ditanam para petani lebih subur sebab terdapat zat makanan yang diperlukan para tumbuhan.

f. Tanaman Tidak Mudah Kering

Tanaman yang ditanam di atas tanah aluvial memiliki cadangan air yang cukup banyak, sehingga tidak mudah kering meski pada musim kemarau.

Selain itu, tanah dengan cadangan air yang banyak juga dapat menyuburkan, serta mempercepat pertumbuhan tanaman.

Nah, itulah pembahasan terkait tanah aluvial baik dari sifat, proses pembentukan dan manfaat penggunaannya. Semoga bermanfaat!

Referensi:

  • 99.co
  • ilmugeografi.com
Tertarik dunia sains dan kepenulisan.