A password will be e-mailed to you.

    Kalau kamu menonton film-film tentang bencana, ada satu kesamaan penting dalam film itu… Bahwa kejadian bencana selalu bermula ketika nasehat para ilmuwan dilupakan begitu saja.

    Hal itu disampaikan oleh Pak Ardito, dari UNESCO Jakarta, yang menekankan betapa pentingnya peran ilmu pengetahuan dalam menyelamatkan manusia dari bencana yang terjadi di muka Bumi.

    Setiap saat, potensi bencana selalu mengintai hidup kita. Mulai dari banjir, kekeringan, angin, badai, kebakaran, gempa dan bahkan tsunami.

    Akan tetapi semua potensi tersebut tidak akan menjadi bencana kalau kita telah siap untuk menghadapinya.

    Karena itu, kita harus menginvestasikan banyak waktu, tenaga, dan sumber daya agar semua persiapan ini dapat dicapai, untuk kehidupan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.

     

    Regional Workshop

    Pada tanggal 1-4 November 2018 kemarin, saya atas nama Saintif berkesempatan untuk bergabung dalam Regional Workshop yang diadakan oleh UNESCO, ICIAR LIPI, dan U-Inspire Indonesia.

    Workshop ini bertajuk “Strengthening, Empowering, and Mobilizing Youth and Young Professionals in Science, Engineering, Technology, and Innovation (SETI) for Disaster Risk Reduction (DRR) in Asia and The Pacific

    Singkatnya, topik yang dibahas dalam workshop ini adalah memberdayakan para pemuda dalam mengurangi resiko bencana (disaster risk reduction/DRR) menggunakan kekuatan ilmu pengetahuan.

    Workshop ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta dari 32 negara di dunia.

    Berikut ini saya mencoba merangkum poin-poin penting dan menarik dari workshop ini.

     

    Lebih baik mencegah daripada mengobati

    Sejauh ini, penanganan bencana baru mendapatkan perhatian ketika bencana itu terjadi. Contohnya, lihat saja peristiwa gempa Lombok dan Palu, yang baru mendapatkan perhatian setelah gempa terjadi.

    Adapun sebelumnya? Tidak ada gaung apapun.

    Padahal seharusnya tidak seperti itu.

    Seperti kata pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati, seharusnya persiapan penanggulanan bencana juga seperti itu.

    Jauh sebelum bencana benar-benar terjadi, para ilmuwan (pada umumnya) telah melakukan studi terkait potensi kebencanaan di daerah tersebut. Gayung ini harus bersambut dengan pemerintah, untuk mengambil kebijakan dengan mempertimbangkan hasil studi tersebut dan melakukan persiapan penanggulangan bencana kepada masyarakat.

    Gempa Palu

    Informasi terkait potensi gempa Palu pada tahun 2017

    Gempa besar di Palu sudah diprediksi para ilmuwan bertahun-tahun lalu, wilayah dengan potensi likuifaksi pun sudah dipetakan.

    Baca juga:  Apa yang Ditemukan Peraih Penghargaan Nobel Fisika 2018?

    Akan tetapi, hasil studi para ilmuwan ini belum digunakan pemerintah kota/provinsi sebagai pertimbangan kebijakan.

    Padahal, jika persiapan penanggulanan bencana ini tidak dilakukan… maka semua yang telah dibangun di daerah tersebut akan luluh lantah dalam waktu 5 menit saja ketika bencana datang.

     

    Menyebarluaskan DRR di dunia pendidikan

    Kita hidup beriringan dengan bencana, tapi pengetahuan bencana masih sangat rendah di dunia pendidikan.

    Gaung pembicaraan tentang DRR pun masih jarang kita dengar.

    Seharusnya, pengetahuan dasar bencana dapat lebih di-mainstream-kan di dunia pendidikan, terutama di pendidikan tinggi (universitas).

    Salah satu langkah nyatanya telah dilakukan melalui Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Resiko Bencana (FPT-PRB).

    Adapun untuk menjangkau pendidikan di luar perguruan tinggi, dapat dilakukan melalui program pengabdian dari tridharma perguruan tinggi.

     

    Kolaborasi antara peneliti dan pemerintah.

    Kolaborasi antara peneliti untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh terkait potensi bencana sangat penting untuk dilakukan.

    Kolaborasi dengan pemerintah pun sangat perlu, untuk mempertimbangkan hasil studi dalam kebijakan yang diambil.

    Karena kalau tidak ditindak lebih lanjut dalam bentuk kebijakan, semuanya akan percuma saja.

     

    Pentingnya peran pemuda

    Zaman telah berubah.

    Anak muda adalah masa depan.

    Anak muda punya banyak potensi besar untuk melakukan penanggulangan resiko bencana, akan tetapi peran dan kemampuannya masih banyak diragukan oleh para peneliti senior atau pun para pemangku kebijakan.

    Karena itu, pemuda harus mulai diberi ruang lebih untuk berkarya dan berkontribusi dalam penanggulangan resiko bencana.

     

    Komunikasi sains

    Berbicara tentang penanggulangan resiko bencana tidak melulu bicara tentang para ilmuwan dan pemerintah, tetapi juga terkait penyampaiannya kepada masyarakat awam.

    Sangat sering masyarakat mendapatkan informasi-informasi keliru, broadcast gempa/tsunami yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    Baca juga:  Dapatkah Landak Menembakkan Duri Mereka?

    Dan di sinilah peran penting komunikasi sains.

    Singkatnya, komunikasi sains berkaitan dengan menyederhanakan suatu topik ilmiah yang berat untuk disampaikan kepada masyarakat secara sederhana, agar lebih mudah untuk dipahami.

    Bidang ini yang menjadi fokus dari Saintif.

    Dengan begini, masyarakat akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik, terutama terkait potensi kebenacaan yang ada di daerahnya.

    Ada beberapa poin penting terkait komunikasi sains yang terkait kebencanaan, seperti yang disampaikan oleh Ahmad Arif, jurnalis Kompas yang berfokus pada komunikasi sains:

    • Orang Indonesia memiliki kemampuan literasi yang rendah, karena itu gunakan bahasa yang ringkas dan sederhana
      Sampaikan hanya dalam beberapa kalimat penting saja. Baru jika pembaca tertarik untuk membaca lebih jauh, berikan link bacaan lengkapnya.
    • Sampaikan informasi secara komprehensif, agar masyarakat paham dengan baik, bukan malah menjadi takut dan paranoid.
    • Masalah: banyak jurnalis yang meliput bencana dengan sudut pandang yang keliru. Hanya mengangkat sisi kesedihan, firasat, perasaan keluarga, dll. Drama! Hal ini harus dihindari.
    • Jangan malas: ada banyak informasi bernilai yang bisa diolah dari informasi kebencanaan, jangan sampai malah hanya bermain click-bait

     

    Demikian rangkuman singkat hasil workshop ini.

    Saya merasa sangat beruntung dapat mewakili Saintif mengikuti workshop ini, yang membuka mata kami akan pentingnya penanggulangan resiko bencana dari berbagai pihak, salah satunya yaitu media dan komunikasi sains–yang menjadi fokus dari Saintif.

     

    Mumpung sudah sampai sini, ini ada sedikit bonus potret kami saat berada di acara 😀

    Saya (Fajrul) yang paling kiri, mewakili Saintif untuk menghadiri workshop. Sementara Suci (tengah) dan Ridho (kanan) berkeliling melakukan liputan untuk Indonesia Science Expo 2018.

    No more articles