Kerajaan Singasari : Sejarah, Raja, Masa Kejayaan, dan Peninggalan

kerajaan singasari
ilustrasi oleh dribbble.com

Kerajaan Singasari adalah salah satu kerajaan besar di Indonesia. Singasari berkuasa sejak runtuhnya kerajaan Kediri pada tahun 1222 M hingga 1292 M. Kerajaan ini terletak di sebelah timur Gunung Kawi diperkirakan di Singasari Kabupaten Malang Jawa Timur.

Saat mencapai masa keemasannya, kekuasaan kerajaan Singasari mencapai seluruh pulau Jawa hingga Sumatera bahkan hampir ke wilayah Campa di Vietnam.

Berikut ulasan singkat mengenai sejarah kerajaan Singasari.

Sejarang Singkat Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari adalah salah satu kerajaan Hindu yang berdiri di Indonesia di bagian Jawa Timur pada kisaran tahun 1222-1292. Mendengar kata kerajaan Singasari, tentu yang terlintas adalah sosok Ken Arok yang merupakan pendiri kerajaan Singasari (1222-1247).

Nama sebenarnya dari Kerajaan Singasari adalah Kerajaan Tumapel yang beribukota di Kutaraja. Asal-usul penamaan Singasari bermula saat Raja Wisnuwardhana menunjuk anaknya yang bernama Kertanegara sebagai putra mahkota dan mengganti nama pusat pemerintahan kerajaan menjadi Singasari.

Singasari yang sebenarnya merupakan nama ibu kota justru lebih terkenal daripada nama kerajaannya yakni Tumapel. Pada akhirnya, orang terbiasa menyebut Kerajaan Tumapel dengan nama Kerajaan Singasari.

Kerajaan Singasari mengalami puncak keemasan pada era raja terakhirnya yakni Kertanegara dan memiliki wilayah kekuasaan yang amat luas. Widjiono Wasis dalam Ensiklopedi Nusantara (1989) mengungkapkan, Kertanegara kala itu ingin menyatukan sebagian wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari.

Dengan pusat pemerintahan di Jawa bagian timur, wilayah kekuasaan Singasari pada era Kertanegara disebut-sebut mencakup Bali, Sunda, sebagian Kalimantan, bahkan sebagian Sumatera hingga kawasan Selat Malaka.

Raja-Raja Kerajaan Singasari

Daftar raja-raja menurut versi Pararaton

1. Ken Angrok (1222-1247)

Ken Angrok atau lebih dikenal dengan nama Ken Arok adalah raja pertama sekaligus pendiri Singasari bergelar Sri Ranggah Rajasa setelah mengalahkan Kertajaya dari Kadiri.

Beberapa sumber menyatakan bahwa ia berasal dari rakyat biasa dan bukan kalangan elit. Namun namanya jelas tercatat dalam Prasasti Balawi, Prasasti Maribong, Prasasti Kusmala, dan Prasasti Mula Manurung. Kitab Pararaton dan Nagarakrtagama juga mencatatnya dengan jelas sebagai moyang dari raja Hayam Wuruk.

Ken Angrok memperistri Ken Dedes yang kemudian melahirkan antara lain Anusapati dan Mahisa Wonga Teleng. Sementara dari Ken Umang lahir Panji Tohjaya. Ketiga anak ini kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Singasari-Majapahit. Ken Angrok memulai Wangsa Rajasa yang akan berkuasa sampai dengan akhir masa Majapahit.

2. Anusapati (1247-1248)

Anusapati adalah putra dari Ken Dedes dan akuwu Tunggul Ametung, mengingat Ken Angrok memperistri Ken Dedes setelah membunuh Tunggul Ametung.

Merasa dendam atas ayahnya, ia kemudian membunuh Ken Angrok melalui perantara seorang pengalasan. Ia naik tahta sekitar tahun 1247, namun ia berkuasa hanya sekitar satu tahun ketika berita pembunuhan Ken Angrok didengar oleh anaknya yang lain.

Panji Tohjaya, merasa tidak terima dan membunuh Anusapati. Anusapati didharmakan di Kidal, sekarang peninggalannya berupa Candi Kidal di Malang.

3. Tohjaya (1248)

Panji Tohjaya naik tahta menggantikan Anusapati, namun ia hanya berkuasa selama kurang dari satu tahun.

Ketika ada pemberontakan yang dilancarkan oleh kalangan Rajasa dan Sinelir yang menyerbu istana. Tohjaya sempat melarikan diri ke Katanglumbang, namun tewas karena luka tombak yang didapatkannya. Nama Tohjaya ini tidak disebutkan dalam Nagarakrtagama.

Salah satu alasannya bisa dikarenakan pemberontakan Rajasa tadi, sehingga ia tidak dianggap sebagai leluhur Hayam Wuruk.

4. Wisnuwarddhana (1248-1268)

Rangga Wuni naik tahta menggantikan Tohjaya dengan gelar Sri Jayawisnuwarddhana. Ia memerintah bersama Mahisa Campaka, cucu Ken Angrok dan Ken Dedes. Wisnuwarddhana berkuasa cukup lama dalam masa damai, kurang lebih selama dua puluh tahun.

Baca juga:  30 Contoh Kebutuhan Primer, Sekunder, Tersier (LENGKAP) + Penjelasan

Hanya Wisnuwardhhana yang mewariskan tahta langsung kepada anaknya, yaitu Kertanagara. Informasi mengenai Wisnuwarddhana selain dari kitab Pararaton dan Nagarakrtagama didapat dari prasasti tembaga di Kedu yang dikeluarkan oleh raja Kertanagara.

5. Kertanagara (1268-1292)

Kertanegara merupakan raja terakhir sekaligus terbesar dalam sejarah Singasari. Ia melakukan perluasan cakrawala mandala Singasari ke barat melalui Ekspedisi Pamalayu tahun 1275 M. Menaklukkan Melayu, Tumasik, dan Pahang. Dilanjutkan dengan mengalahkan Bali pada tahun 1284 M. Seluruh pulau Jawa berada di bawah kekuasaan Singasari meskipun tidak ditaklukkan secara militer. Kertanagara juga menjalin persekutuan dengan Kerajaan Champa.

Kebesaran kekuasaan ini menarik perhatian Kaisar Mongol yang tengah mencapai masa kejayaannya, ia mengirimkan perwakilan untuk meminta ketundukan Kertanagara terhadap Mongol. Kertanagara menolak, memulangkan utusan dalam keadaan cacat sehingga mengundang invasi Mongol ke Jawa.

Namun sebelum pasukan tersebut datang, Kertanagara diserbu oleh raja Kadiri, Jayakatwang. Serangan ini terjadi ketika Kertanagara memperluas pengaruhnya ke berbagai tempat untuk menyaingi pengaruh Dinasti Yuan.

Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya yang menyimpan dendam terhadap Rajasa, sehingga ia menyerang ketika Singasari lengah dan menegakkan kembali Kadiri.

Masa Kejayaan Singasari

Singasari berkembang pesat sejak pemerintahan Raja Kartanegara. Pada puncak kejayaannya, Raja Kartanegara mengutus tiga maha menteri yakni, Maha Menteri I Hino, Maha Menteri I Halu serta Maha Menteri I Sirikan. Para menteri ini ditempatkan di beberapa bidang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

Kertanegara memimpin kerajaannya dengan tegas. Dia tidak segan mengganti pejabat yang dianggap tidak baik dalam menjalankan tugasnya. Untuk mengembangkan Singasari ini Kertanegara melakukan hubungan persahabatan dengan beberapa kerajaan besar lainnya.

Dengan pemerintahan Kertanegara ini, Singasari menjadi kerajaan terkuat dalam perdagangan dan pertahanan (militer). Kekuasaan Singasari kala itu sangat luas, Nusantara ini berada dibawah kekuasaan Singasari.

Masa Keruntuhan Kerajaan Singasari

Kerajaan besar yang mampu menyatukan nusantara ini runtuh di bawah kepemimpinan Kertanegara. Kertanegara membawa kejayaan sekaligus keruntuhan bagi Singasari.

Kertanegara sangat fokus mengembangkan kekuasaannya dengan pertahanan laut. Namun sayang Kertanegara justru mengabaikan pertahanan di dalam kerajaan.

Pada tahun 1292, Jayakatwang, seorang raja dari keturunan kerajaan Kediri menyerang Singasari. Jayakatwang adalah raja di wilayah Galeng-galeng (Madiun) sekaligus besan dari Kertanegara. Anak Jayakatwang, Ardharaja menjadi menantu dari Kertanegara.

Kitab Pararaton menyebutkan dalam usaha meruntuhkan Kerajaan Singhasari, Jayakatwang mendapat bantuan dari Arya Wiraraja. Arya Wiraraja merupakan adipati Sumenep yang telah dijatuhkan dari keraton oleh raja Kertanagara.

Wiraraja pulalah yang memberitahukan kepada Jayakatwang kapan waktu yang tepat untuk menyerang Singhasari, yaitu pada waktu sebagian kekuatan tentara Singhasari sedang ada di Melayu.

Prasasti Kudadu yang berangka tahun Saka 1216 (1294 M) maupun kitab Pararaton menyebutkan, bahwa tentara Jayakatwang menyerang dari dua arah yakni dari utara dan selatan.

Pasukan yang menyerang dari utara rupa-rupanya hanya sekadar untuk menarik pasukan Singhasari dibawah pimpinan Raden wijaya dan Ardharaja. Pada saat itu, Jayakatwang menyerbu keraton dari selatan dan dapat membunuh raja Kertanagara.

Kitab Pararaton menggambarkan, Kertanegara tewas terbunuh pada saat sedang bermabuk-mabukan. Namun ada sumber lain menyebutkan, bahwa raja Kertanagara meninggal bersama para Brahmana, saat sedang melakukan upacara keagamaan.

Peninggalan Kerajaan Singasari

Peninggalan Kerajaan Singasari lebih banyak ada dalam bentuk candi-candi. Di mana candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan agama sekaligus tempat pendharmaan figure-figur penting kerajaan.

Candi pada masa kerajaan Singasari memiliki ciri-ciri estetika yang lebih rumit dibandingkan dengan masa Kadiri.

1. Candi Singosari

kerajaan singasari

Candi ini berlokasi di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Terletak di lembah antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama serta Prasasti Gajah Mada yang bertanggal 1351 M di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat pendharmaan bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara. Kemungkinan candi ini tidak pernah selesai dibangun.

Baca juga:  Cara Menghitung Persentase beserta Penjelasan dan Contohnya

2. Candi Jago

kerajaan singasari

Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian. Konon katanya bagian atas bangunan ini rusak akibat tersambar petir. Dinding candi dihiasi relief Kunjarakarna dan Pancatantra. Secara keseluruhan bangunan candi ini terbuat dari bahan batu andesit.

3. Candi Sumberawan

kerajaan singasari

Candi Sumberawan merupakan satu-satunya candi yang memiliki stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya.

4. Arca Dwarapala

Arca Dwarapala ini berbentuk raksasa menyeramkan dengan ukuran tinggi 3,5 meter. Diduga arca ini ditempatkan sebagai penjaga dan tanda wilayah kotaraja. Namun hingga saat ini dimana kotaraja Singasari tersebut masih belum diketahui secara pasti.

5. Prasasti Singosari

Prasasti Singosari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang. Saat ini prasasti tersebut disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.

Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.

6. Prasasti Manjusri

Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca Manjusri. Manuskrip ini bertarikh 1343. Pada awalnya prasasti ditempatkan di Candi Jago namun saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

7. Prasasti Mula Malurung

Prasasti Mula Malurung merupakan piagam pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa Malurung yang diberikan kepada Pranaraja. Bentuk dari rasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kediri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.

Kumpulan lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur. Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

8. Candi Jawi

Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan – Kecamatan Prigen Pasuruan. Lokasi candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha. Namun sebenarnya candi ini merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara.

Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.

9. Prasasti Wurare

Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti yang berisi penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare. Badan prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta dan bertarikh 1211 Saka atau 1289 M.

Arca tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya ditulis melingkar pada bagian bawahnya.

10. Candi Kidal

Candi Kidal dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227 M – 1248 M). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.


Semoga Bermanfaat ya!

Referensi: studiobelajar.com

Mahasiswi Departemen Fisika Universitas Diponegoro dengan bidang ilmu Fisika Material