Penjelasan mengenai gempa bumi di Tuban

Peristiwa gempa bumi tentunya sudah tidak asing bagi kita warga Indonesia. Hampir tiap bulan gempa bumi tidak pernah absen bersinggungan dengan kita.

Kamis, 19 September 2019 lalu terjadi gempa bumi dengan magnitudo di atas 6 mengguncang wilayah laut jawa.

Lokasi gempa bumi tersebut berada di wilayah Laut Jawa dengan pusat berada di dekat kabupaten Tuban – oleh sebab itu kemudian benda ini juga disebut sebagai Gempa Tuban.

Gempa terjadi sebanyak dua kali dengan kekuatan M 6,1 dan M 6,0 dengan selisih waktu gempa pertama dan kedua sebesar 25 menit dan jarak pusat gempa (episenter) 21 km.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG jenis gempa tersebut dapat diketahui berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter.

Memperhatikan kedua hal tersebut, menunjukan gempa yang terjadi adalah jenis gempa dalam (deep focus earthquake) yang dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia.

Mekanisme terjadinya gempa Tuban

Proses terjadinya gempa hiposenter dalam yang terletak di daerah transisi mantel ini, masih belum dapat dijelaskan secara pasti.

Ada yang menjelaskan gempa ini terjadi akibat adanya keterkaitan dengan perubahan sifat kimiawi batuan pada suhu dan tekanan tertentu.

Gempa ini juga dimungkinkan terjadi adanya gaya slab pull (gaya tarik lempeng ke bawah) pada lempeng dengan kedalaman 410 km, serta gaya slab bouyancy (gaya apung lempeng yang menahan ke bawah) yang terjadi pada lempeng dikedalaman lebih dari 600 km.

Baca juga:  Mengukur Gempa dengan Logaritma
Penampang laut jawa jika dibelah secara horizontal (sumber: Ma’rufin Sudibyo)

Dampak yang ditimbulkan

Gempa Tuban ini tidak menyebabkan adanya korban jiwa dan potensi tsunami.

BMKG mengukur besar kekuatan gempa bumi berdasarkan skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Semakin besar nilai skala MMI, maka semakin parah kerusakan yang ditimbulakan oleh fenomena gempa bumi.

Sesuai data di situs BMKG, guncangan gempa Tuban ini tidak dirasakan oleh lokasi dekat episetrumnya, melainkan lokasi yang berada di posisi lebih jauh seperti:

  • Denpasar (MMI II-III)
  • Lombok Barat (MMI III)
  • Mataram (MMI III)
  • Lombok Tengah (MMI III)
  • Sumbawa (MMI III)
  • Bima (MMI III)
  • Dompu (MMI III)
  • Karangasem (MMI II).

Berdasarkan nilai skala tersebut, kita dapat melihat kerusakan yang terjadi di daerahnya, dimana:

Skala MMI II menunjukan getaran gempa dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Skala MMI III menunjukan Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Referensi

Klik untuk membaca artikel lainnya:

Klik untuk membaca artikel lainnya:

About Diah Ayu 53 Articles
Tertarik dengan apapun yang berkaitan dengan sains dan pendidikan. Menyelesaikan studi di bidang fisika material Universitas Diponegoro

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*