A password will be e-mailed to you.

    Apakah kamu merasakan udara terasa lebih dingin di malam sampai pagi hari ini belakangan ini?

    Beberapa tempat di Indonesia memang mengalami suhu udara yang lebih dingin daripada biasanya.

    Bahkan saking dinginnya, di Dataran Tinggi Dieng, Gunung Semeru, dan Gunung Lawu, embun-embun pagi hari sampai menjadi butir-butir es.

    Ada apa ini? Apa yang sesungguhnya terjadi?

     

    Apa itu Aphelion?

    Tersangka pertama dari peristiwa suhu dingin ini adalah Aphelion.

    Tersebar pesan berantai hari ini di media sosial yang menyatakan bahwa udara dingin ini karena adanya peristiwa Aphelion. Seperti pesan ini:

    Aphelion adalah peristiwa dimana Bumi sedang berada pada posisi terjauhnya dari Matahari.

    Lintasan orbit Bumi mengelilingi Matahari bukan berupa lingkaran sempurna, tetapi agak sedikit lonjong dengan derajat kelonjongan 0.0167.

    Maka, dalam setahun Bumi akan melintasi posisi terjauhnya dari Matahari yaitu Aphelion setiap tanggal 6 Juli, dan berada di posisi terdekatnya dengan Matahari yaitu Perihelion setiap tanggal 2 Januari.

    Pantesan udaranya jadi dingin, soalnya kita sedang jauh dari Matahari, Matahari kan panas.

    Secara intuisi memang pernyataan ini terasa benar, tapi mari kita selidiki lebih lanjut.

    Sebenarnya, berapa sih jarak Bumi ke Matahari?

    Jarak rata-rata Bumi ke Matahari adalah 150 juta kilometer. Saat berada di posisi aphelion, jarak Bumi ke Matahari menjadi 152 juta kilometer. Lalu saat berada di posisi perihelion, jarak Bumi ke Matahari adalah 147 juta kilometer.

    Selisih jarak saat aphelion dan perihelion adalah 5 juta kilometer. Kelihatannya jauh.

    Tapi jika kita bandingkan nilai ini dengan jarak Bumi ke Matahari, kita dapat perbandingan 1:30. Keliatan kan kalau perbedaan jarak karena perihelion/aphelion ini sangat kecil jika dibandingkan dengan jarak Bumi ke Matahari.

    Makanya…. andai kata kamu bisa pergi naik terus ke atas hingga bisa melihat lintasan orbit Bumi mengelilingi Matahari, kamu pun pasti mengira jika orbit Bumi berbentuk lingkaran sempurna. Karena bentuk elipsnya itu tidak elips-elips banget. Hanya sedikit elips.

    Baca juga: Kenapa di Gunung Suhunya Dingin? Padahalkan Lebih Dekat ke Matahari

    Suhu rata-rata tahunan di Bumi adalah  14°C. Selisih suhu saat perihelion dan aphelion hanya beda  2,3°C. Ada pengaruhnya memang, tapi ingat ini suhu rata-rata di seluruh tempat di Bumi.

    Baca juga:  Mengapa Buah Yang Matang Memiliki Rasa Dan Bau Yang Sedap?

    Jadi, posisi Bumi saat aphelion tidak signifikan pengaruhnya dengan suhu spesifik yang ada di Bumi.

    Hmm, jadi apa penyebab sebenarnya udara akhir-akhir ini menjadi dingin?

     

    Musim Dingin di Belahan Bumi Selatan

    Gara-gara sumbu rotasi Bumi yang miring 23,5° dari bidang bidang ekliptika, Bumi memiliki empat musim.

    Pada bulan Mei – September, belahan Bumi utara sedang mengalami musim panas karena menerima cahaya Matahari lebih lama. Sedangkan di belahan Bumi selatan mengalami musim dingin karena hanya menerima sedikit cahaya Matahari. Pada bulan Oktober – April kebalikannya, musim panas terjadi di belahan Bumi selatan dan musim dingin terjadi di belahan Bumi utara.

    Udara bergerak dari daerah tekanan tinggi ke tekanan rendah.

    Saat ini di daerah Bumi selatan terbentuk daerah-daerah dengan tekanan udara tinggi, dan di daerah Bumi utara terbentuk daerah dengan tekanan udara rendah. Akibatnya udara di Bumi akan bergerak dari daerah Australia menuju ke Asia.

    Karena Bumi berotasi, maka pergerakan udara di atmosfer Bumi tidak bisa bergerak lurus dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, namun jalur yang dilewati massa udara ini terbelokkan di tiap-tiap tempat.

    Namanya efek coriolis. Angin dari belahan Bumi selatan yang menuju utara ke khatulistiwa akan terbelokkan menuju arah barat laut, dan angin yang meninggalkan khatulistiwa di belahan Bumi utara akan terbelokkan ke arah timur laut. Para pelaut mengenali angin ini dengan nama angin pasat.

     

    Hanya Kejadian Lokal

    Di Indonesia sebelah selatan garis khatulistiwa seperti pulau Jawa dan Kepulauan Nusa Tenggara, angin akan bertiup dari arah timur/selatan.

    Angin ini yang membawa massa udara dingin dari Australia melintasi Indonesia.

    Inilah yang mengakibatkan suhu di malam dan pagi hari selama musim kemarau terasa dingin.

    Peristiwa ini adalah kejadian normal dan terjadi setiap tahun. Dan kejadiannya bersifat lokal.

    Kasus yang terjadi beberapa hari yang lalu adalah kondisi spesial. Bagaimanapun juga, ia jauh lebih dingin daripada suhu dingin musim kemarau biasanya.

    Baca juga:  6 Penemuan Sederhana Ramah Lingkungan yang Membantu Banyak Orang

    Yang berperan kali ini adalah kelembaban udara.

    Kelembaban udara ibarat selimut untuk kita. Semakin tinggi (asal tak terlalu tinggi) kelembaban udara, ia dapat menjaga dari ktia dari suhu panas atau dingin. Begitu pun sebaliknya.

    Pada beberapa hari yang lalu, kelembaban udara di daerah Jawa dan sekitarnya sangat rendah. Hal ini membuat suhu udara mudah turun dan akhirnya jadi semakin dingin.

    Gambar yang atas menunjukkan kondisi angin dan kelembaban udara pada tanggal 6 Juli. Gambar yang bawah menunjukkan kondisi pada tanggal 7 Juli. Warna merah menunjukkan kelembaban tinggi, warna biru menunjukkan kelembaban rendah.

    Beruntungnya, seperti yang terlihat pada citra di atas, mulai tanggal 7 kelembaban udaranya sudah kembali normal, sehingga suhu udara tidak lagi jatuh ke nilai yang rendah.

    Suhunya tetap akan dingin karena ini musim kemarau, tapi tak sedingin beberapa hari yang lalu.

    Baca juga: Kenapa Kipas Angin Rasanya Dingin? Padahal kan Udaranya Sama Saja

     

    Penyebab Sesungguhnya

    Angin dingin dan kering dari Australia menyebabkan suhu menurun di beberapa wilayah Indonesia. Ditambah dengan kelembaban udara yang kecil, lalu kencangnya hembusan angin yang menimbulkan efek wind-chill, suhu udara menjadi makin dingin.

    Orang-orang di belahan Bumi utara tetap merasakan panasnya udara saat aphelion.  Orang-orang di Kutub tetap merasa dingin.

    Alih-alih karena peristiwa selevel tata surya seperti aphelion, udara dingin ini disebabkan peristiwa lokal di bagian Bumi.

    Yaitu karena pergerakan udara dingin dari Australia menuju Asia.

    Andai saja benar karena aphelion, seharusnya saat perihelion kita merasakan udara sangat panas, tapi nyatanya tidak.

    Nah…. jawaban yang secara intuisi tampak benar, belum tentu memang benar.

    Jadi bukan karena peristiwa aphelion ya. Udara dingin dari Australia lah penyebabnya.

    Pesan: jangan mudah percaya saja pada pesan berantai, bukan saja informasi hoax, tapi juga informasi misleading seperi pesan berantai aphelion ini.

     


    Tulisan ini adalah kiriman dari penulis. Kamu juga bisa membuat tulisanmu sendiri di Saintif dengan bergabung di Saintif Community

     

    No more articles