Welcome to Himawari Satellite World

Kota Hujan kembali mengamuk 6 Desember yang lalu. Bukan sekedar hujan biasa, namun disertai dengan angin puting beliung yang menurut penuturan Hadi Saputra, petugas Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor berkecepatan 20 knot atau sekitar 50 km/jam, terjadi selama 10-15 menit. Hal ini tergolong ekstrem mengingat kecepatan angin normal rata-rata 10-20 km/jam. Lagi lanjut Bapak Hadi Saputra, satelit Himawari mencitrakan adanya awan konvektif berjenis Cumulonimbus meliputi kawasan Bogor Selatan sejak pukul 14.30-15.30.

Wait, satelit Himawari itu apaan sih? Bukannya Indonesia selama ini hanya punya satu satelit saja bernama satelit Palapa? Hmm jangan salah. Memang, satelit Palapa adalah satu-satunya satelit buatan anak bangsa sejak dahulu kala untuk keperluan telekomunikasi. Namun, Indonesia juga punya beberapa satelit impor.

Nih, satelit Himawari atau Himawari-8 adalah salah satu satelit impor untuk deteksi cuaca dan iklim dari Tanegashima, Jepang. Diluncurkan tanggal 18 Maret 1995 namun mulai dipergunakan secara luas di Indonesia pada pertengahan 2015. Ada 2 macam satelit populer di masyarakat, yakni satelit geostasioner seperti Satelit Himawari ini dan satelit polar. Satelit Himawari memiliki ketinggian orbit 35.900 km diatas bumi pada posisi 1400 Bujur Timur. Pemosisian ini semata-mata guna memantau bagian timur Asia dan Barat Pasifik.

Tak hanya lazim digunakan di Indonesia lho, satelit ini juga jamak digunakan di negara-negara Barat seperti Amerika dan Eropa serta negara-negara Timur Tengah meskipun asalnya dari negri matahari terbit. Biasanya sih, satelit ini mereka gunakan untuk berbagai kepentingan baik yang hampir sama dengan di Indonesia mulai dari pemantauan polusi udara, debu, gelombang samudera, sebaran debu dan awan vulkanik, pembuangan energi hingga kondisi alam yang tidak sama dengan Indonesia seperti pemetaan es, salju, badai pasir khusus daerah beriklim gurun dan cahaya aurora untuk wilayah dekat kutub utara dan kutub selatan bumi. Oya, satelit ini juga punya beberapa kelebihan, satu diantaranya dapat digunakan untuk mendukung peta estimasi curah hujan GsMap.

Baca juga:  Apakah Mimpi Bisa Dikendalikan?

Satelit Himawari terdiri dari 16 kanal dengan resolusi spasial 0.5 km dan 1 km untuk 3 buah kanal cahaya tampak, 2 km untuk data 10 kanal IR (Infrared) serta 1 km dan 2 km untuk data 3 kanal NIR (Near Infrared). Nah, jangan khawatir teman-teman karena waktu peliputan hanya 10 menit secara temporal global dan cukup 2.5 menit untuk pengamatan khusus. Cepat, bukan? Ini sekaligus membantumu lebih cepat dalam mengambil keputusan.

Gimana sih cara kerja satelit ini sebenarnya? Daripada kepo mulu sambil ngintip-ngintip mending saya kasih tau aja deh, gratis kok. Pertama, data dari perusahaan pengoperasian satelit Himawari ditransmisikan ke JMA kemudian diproses oleh Meteorogical Satellite Center (MSC) berdasarkan data satelit baik primer maupun sekunder sesuai standar data mengenai kasus meteorologi atau fenomena apa yang sedang terjadi saat ini. Baru deh, data tersebut didistribusikan kepada kantor-kantor meteorologi negara-negara lain yang berkepentingan dalam berbagai produk sebagai berikut :

 

  1. Vektor Gerak Atmosfer (AMV) demi prediksi cuaca numeris terutama di lautan
  2. Clear Sky Radiance (CSR) berdasarkan data inframerah dari setiap kotak 16 x 16 pixel
  3. High Resolution Cloud Analysis Information (HCAI) khusus analisis awan dan pengecekan kualitas
  4. Aerosol Optical Thickness untuk informasi optik aerosol berketebalan 500 nm dan indeks Amstrong diatas lautan begitu pula untuk diatas daratan

Sudah lumayan paham kan sekarang sama si Himawari ini? Jangan cuma bermimpi atau iri doank, wujudkan Indonesia bisa punya satelit cuaca sendiri tanpa harus impor, ya little enginers.

 

Sumber :

Klik untuk membaca artikel lainnya:

Klik untuk membaca artikel lainnya:

About Maria Fillieta 6 Articles
Writer.Sains Lover.Music, Flm and TV Series Adict