Tinjauan Pustaka: Pengertian dan Contoh [LENGKAP]

tinjauan pustaka

Tinjauan pustaka adalah salah satu komponen penting dalam pembuatan karya tulis ilmiah seperti skripsi, tesis, ataupun disertasi.

Tinjauan pustaka memiliki fungsi untuk menunjukkan pemahaman penulis tentang topik yang akan dijadikan pembahasan dalam karya tulis ilmiah.

Selain itu, tinjauan pustaka juga memiliki manfaat dalam menyajikan informasi yang relevan dan aktual bagi pembaca.

Pengertian Tinjauan Pustaka

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tinjauan pustaka adalah penelaahan secara kritis suatu kumpulan informasi atau referensi yang berhubungan dengan topik tertentu.

Dalam bahasa inggris, tinjauan pustaka dikenal dengan sebutan “literature review”.

Pengertian Menurut Para Ahli

Menurut para ahli, tinjauan pustaka merupakan sebuah proses kritis dalam pengumpulan dan analisis informasi yang telah tersedia di dalam sumber pustaka.

Hal ini juga disampaikan oleh Sugiyono (2016) bahwa tinjauan pustaka merupakan upaya untuk melakukan analisis dan sintesis terhadap sumber bahan pustaka yang relevan dengan masalah penelitian.

Fungsi Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka memiliki beberapa fungsi, diantaranya yaitu:

  1. Memberikan gambaran umum tentang topik yang akan dibahas.
  2. Mengidentifikasi kesenjangan dalam penelitian yang telah dilakukan.
  3. Menunjukkan perkembangan terakhir dalam topik yang sedang dibahas.
  4. Memberikan dasar teoritis yang kuat dalam penyusunan karya tulis ilmiah.

Manfaat Tinjauan Pustaka

Manfaat dari pembuatan tinjauan pustaka adalah sebagai berikut:

  1. Menyajikan informasi yang relevan dan aktual bagi pembaca.
  2. Memperkaya pengetahuan penulis tentang topik yang akan dibahas.
  3. Menunjukkan pemahaman yang jelas tentang topik yang akan dibahas oleh penulis.
  4. Memberikan rujukan atau referensi yang bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Unsur dan Isi Tinjauan Pustaka

Unsur dan isi dalam tinjauan pustaka meliputi:

  1. Pengantar atau latar belakang tentang topik yang akan dibahas.
  2. Kerangka konseptual yang melandasi topik.
  3. Tinjauan literatur sebelumnya yang telah dilakukan.
  4. Metoda penelitian yang digunakan dalam melakukan tinjauan literatur.
  5. Analisis terhadap tinjauan literatur.

Kriteria Penulisan Tinjauan Pustaka

Penulisan tinjauan pustaka memiliki beberapa kriteria yang harus diperhatikan, diantaranya adalah:

  1. Mutakhir, yaitu sumber pustaka yang digunakan harus terbaru.
  2. Relevan, yaitu sumber pustaka yang digunakan harus relevan dengan topik yang akan dibahas.
  3. Bobot ilmiah, yaitu sumber pustaka yang digunakan harus berasal dari publikasi atau jurnal yang memiliki reputasi yang baik dan diakui secara internasional.
  4. Aspek penelitian, yaitu sumber pustaka yang digunakan harus berkaitan dengan topik penelitian.
  5. Padat, yaitu tinjauan pustaka yang dibuat harus singkat dan padat agar pembaca mudah memahami isi dari tinjauan pustaka.

Cara Membuat Tinjauan Pustaka

Berikut ini adalah beberapa cara dalam membuat tinjauan pustaka:

  1. Tentukan topik yang akan dibahas.
  2. Kumpulkan sumber pustaka yang relevan dengan topik yang akan dibahas.
  3. Baca dan analisis sumber pustaka tersebut untuk memperoleh pemahaman yang jelas.
  4. Buatlah catatan atau ringkasan dari setiap sumber pustaka yang telah dibaca.
  5. Sintesis informasi dari sumber pustaka yang relevan dengan topik yang akan dibahas.
  6. Susunlah tinjauan pustaka berdasarkan kerangka konseptual yang telah ditentukan.

Contoh Tinjauan Pustaka Tentang Dampak Penggunaan Sosial Media

Menurut Jenaro, Flores, Gómez-Vela, González-Gil, & Caballo (2007), penggunaan sosial media dapat didorong oleh motivasi interpersonal atau personal. Namun, terdapat konsekuensi yang dapat merugikan individu yang menggunakan sosial media secara berlebihan. Berikut ini adalah beberapa dampak penggunaan sosial media.

  1. Dampak Psikologis

Penggunaan sosial media bisa menyebabkan tekanan psikologis bagi penggunanya. Menurut Kuss & Griffiths (2017), semakin sering penggunaan sosial media, semakin tinggi tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang dialami pengguna. Oleh karena itu, perlu adanya pengaturan waktu penggunaan sosial media agar tidak mengganggu keseimbangan psikologis.

  1. Dampak Sosial

Dalam interaksi sosial, penggunaan sosial media dapat memperkuat dan memperlemah hubungan antar individu. Boyd & Ellison (2008) menunjukkan bahwa sosial media dapat menjadi sarana untuk melakukan pelecehan online. Selain itu, menurut Al-Deen & Hendrics (2012), beberapa pengguna sosial media mengalami gangguan dalam interaksi sosial secara langsung karena adanya ketergantungan terhadap sosial media.

  1. Dampak Kesehatan

Salah satu risiko penggunaan sosial media adalah dampak kesehatan. Menurut Chou & Edge (2012), penggunaan sosial media dapat mempertinggi risiko obesitas, bermasalah dengan tidur, dan kekhawatiran terhadap tubuh. Oleh karena itu, perlu adanya regulasi dalam penggunaan sosial media agar tidak membahayakan kesehatan.

  1. Dampak Akademik

Penggunaan sosial media juga memiliki dampak pada kinerja akademik. Menurut Paul & Baker (2012), penggunaan sosial media dapat mengganggu konsentrasi dalam belajar serta menunda-nunda waktu untuk menyelesaikan tugas. Sehingga, perlu adanya pengaturan dalam menggunakan sosial media agar tidak merusak produktivitas dalam belajar.


Dampak penggunaan sosial media perlu diperhatikan oleh setiap individu. Peran utama dalam pengaturan penggunaan sosial media terletak pada individu itu sendiri.

Oleh karena itu, introspeksi diri harus selalu dilakukan dalam menggunakan sosial media agar tidak mengganggu keseimbangan psikologis, interaksi sosial, kesehatan, dan kinerja akademik.

Referensi:

  1. Al-Deen, H. S. N., & Hendrics, J. A. (2012). Social media: Usage and impact. Lanham, MD: Lexington Books.
  2. Boyd, D. M., & Ellison, N. B. (2008). Social network sites: Definition, history, and scholarship. Journal of computer‐mediated communication, 13(1), 210-230.
  3. Chou, H. G., & Edge, N. (2012). “They are happier and having better lives than I am”: The impact of using Facebook on perceptions of others’ lives. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(2), 117-121.
  4. Jenaro, C., Flores, N., Gómez-Vela, M., González-Gil, F., & Caballo, C. (2007). Problematic internet and cell-phone use: Psychological, behavioral, and health correlates. Addiction research & theory, 15(3), 309-320.
  5. Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2017). Social networking sites and addiction: Ten lessons learned. International Journal of Environmental Research and Public Health, 14(3), 311.
  6. Paul, J. A., & Baker, H. M. (2012). The impact of social media on college students. Journal of Educational Technology Development and Exchange (JETDE), 5(1), 1.

Contoh Tinjauan Pustaka Metode Peningkatan Kualitas Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembentukan karakter dan masa depan seseorang. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan menjadi tujuan utama dalam pengembangan dunia pendidikan. Terdapat berbagai metode peningkatan kualitas pendidikan yang dapat diterapkan, berikut adalah beberapa diantaranya.

  1. Professional Development

Pengembangan profesional guru dan tenaga pendidik menjadi salah satu metode peningkatan kualitas pendidikan. Menurut Darling-Hammond, Wei, Andree, Richardson, & Orphanos (2009), pengembangan profesional dapat mencakup pelatihan dan pendidikan lanjutan serta mentoring. Dengan melakukan pengembangan profesional, guru dan tenaga pendidik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang berkualitas.

  1. Pendidikan Berbasis Keterampilan (Skill-Based Education)

Metode peningkatan kualitas pendidikan selanjutnya adalah edukasi berbasis keterampilan. Edukasi berbasis keterampilan dilakukan dengan memberikan penekanan pada pengembangan kemampuan keterampilan siswa sehingga mampu meningkatkan kompetensi siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Armstrong (2012), dimana belajar berbasis keterampilan menjadikan siswa lebih siap untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata.

  1. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning)

Model pembelajaran kontekstual merupakan salah satu metode peningkatan kualitas pendidikan yang efektif. Model pembelajaran kontekstual mengajarkan konsep atau ide melalui penggunaan situasi nyata dalam kehidupan nyata. Menurut Yusuf (2010), pendekatan ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami konsep dan aplikasi dalam situasi nyata, tapi juga berdampak positif pada citra sekolah dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

  1. Pembelajaran Berbasis Teknologi (Technology-Based Learning)

Metode peningkatan kualitas pendidikan berikutnya adalah pendekatan belajar berbasis teknologi. Teknologi sebagai media pembelajaran mampu memfasilitasi siswa dalam menemukan dan mengembangkan kemampuan mereka secara mandiri. Hal ini disebabkan oleh kemampuan teknologi dalam menyediakan akses informasi yang luas dan akurat serta keleluasaan dalam mengakses sumber belajar. Adapun sejalan dengan itu, Williams, Coles, Wilson, & Richardson (2000) mengemukakan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan mampu membuat siswa lebih aktif dalam belajar dan menciptakan suasana yang lebih menarik dan inovatif.

Referensi:

  1. Armstrong, T. (2012). Multiple intelligences in the classroom. ASCD.
  2. Darling-Hammond, L., Wei, R. C., Andree, A., Richardson, N., & Orphanos, S. (2009). Professional learning in the learning profession: A status report on teacher development in the United States and abroad. National Staff Development Council.
  3. Yusuf, M. O. (2010). Methods of teaching science: Review of literature. European Journal of Social Sciences, 16(4), 499-510.
  4. Williams, P., Coles, L., Wilson, K., & Richardson, J. (2000). Using ICT to enhance teaching and learning. Loughborough: Loughborough University.

Artikel Terkait