Sebenarnya gak semua teleskop dibangun di puncak pegunungan. Beberapa jenis teleskop dibangun di gurun lho, yaitu di Gurun Atacama, Chile bagian utara.

Di tengah gurun tersebut dibangun teleskop dengan berbagai macam panjang gelombang, beberapa diantaranya adalah teleskop optik VLT (Very Large Telescope), teleskop inframerah ELT (Extremely Large Telescope) dan teleskop radio ALMA (Atacama Large Millimeter Array).

ALMA Teleskop

Teleskop radio ALMA di Atacama, Chille

Memang sih kebanyakan teleskop dibangun di puncak pegunungan, misalnya di Mauna Kea, Hawaii yang berada di ketinggian 4.205 meter.

Disana dibangun beberapa teleskop termasuk TMT (Thirty Meter Telescope) yang kontroversial karena bertentangan dengan kehendak aktivis lingkungan dan budaya setempat.

Telescope TMT Hawai

TMT International Observatory Hawaii

Teleskop dengan diameter piringan terbesar saat ini yaitu 500 meter bernama FAST (Five hundred meter Aperture Spherical Telescope), juga dibangun di lembah Guizhou, China yang ketinggiannya 2.900 meter. Masih banyak lagi contoh teleskop yang ‘diletakkan’ di puncak pegunungan.

Kenapa sih ada yang dibangun di gurun datar, tapi ada juga yang dibangun di ketinggian?

Nah biar lebih jelas, kita bahas dulu apa sih teleskop itu.

 

Apa itu teleskop

Alkisah, di zaman dahulu hanya ada satu jenis teleskop, yaitu teleskop optik, yang cara kerjanya mengumpulkan dan memusatkan cahaya tampak menggunakan pengetahuan optik untuk mendapatkan kembali informasi dari bintang-bintang nan jauh di sana.

Awalnya sih pengamatan yang dilakukan sederhana banget, hanya menggunakan mata aja, lalu sejak tahun 1880an mulailah dipakai lempengan fotografik dan film.

Dan semua berubah sejak tahun 1932, saat Karl Jansky yang sedang bekerja di Bell Telephone Laboratories menemukan gelombang radio dari ruang angkasa. Sejak saat itu penelitian astronomi tidak hanya menggunakan gelombang optik saja tapi mulai merambah ke gelombang radio. Muncullah teleskop radio, sampai sekarang.

Tentunya gak hanya cahaya tampak/optik dan gelombang radio saja, ada banyak gelombang-gelombang ‘gaib’ lain, kan? Sinar gamma, sinar-X, ultraviolet, inframerah, gelombang mikro, dan milimeter.

Gelombang-gelombang tak kasat mata tersebut panjang gelombangnya berbeda-beda, dan semua ini termasuk dalam gelombang elektromagnetik.

Bumi, tempat yang kita huni ini, terus-menerus terkena pancaran gelombang elektromagnetik itu, datangnya dari arah mana saja di jagat raya.

Baca juga:  Pasangan Matahari Yang Gagal Menjadi Bintang

Tapi, kita gak bisa merasakannya secara langsung lewat panca indera, kita butuh piranti teleskop untuk mendeteksinya. Satu-satunya objek luar angkasa yang bisa dirasakan oleh indera kita hanyalah kehangatan pancaran matahari.

Kenapa bisa begitu?

Selain karena gelombang itu “gaib”, kebanyakan diantaranya udah diserap oleh atmosfer Bumi, jadi gak sampai ke permukaan tanah.

Misalnya nih kamu mau mengamati sinar-X atau sinar gamma, kamu harus menerbangkan teleskop khusus dan diletakkan di luar Bumi. Tapi tenang aja, gelombang cahaya tampak, gelombang radio, dan inframerah bisa diamati dari permukaan tanah kok.

Untuk mengoperasikan teleskop optik, kita butuh tempat yang langitnya cerah dan lingkungannya bebas cahaya lampu kota. Itulah kenapa pengamatan teleskop optik sering dilakukan di malam hari (yaa iyalah kalau siang kan bintang-bintang gak nampak, lagipula silau terkena matahari, hehehe…).

Meskipun banyak teleskop yang dibuat pada bermacam-macam gelombang elektromagnetik, teleskop optik tetap memainkan peranan yang penting loh.

Kenapa?

Hasil gambar untuk electromagnetic spectrum

Coba amati letak cahaya tampak diantara gelombang elektromagnetik lainnya, ada di pusat alias tengah-tengahnya kan?

Selain itu, bintang-bintang biasanya memancarkan hampir seluruh energinya dalam bentuk cahaya tampak.

 

Lalu, kenapa teleskop optik dibangun di gunung?

Teleskop optik yang ukurannya besar selalu dibangun di puncak pegunungan. Biar apa?

Mengurangi turbulensi udara alias gangguan atmosfer Bumi, soalnya teleskop ini sensitif banget sama turbulensi yang akibatnya bisa merusak hasil ketajaman gambar.

Kuncinya adalah: semakin tinggi posisi teleskop, semakin sedikit gangguan atmosfernya.

Posisi paling ideal buat teleskop optik tentu saja di luar angkasa yang gak ada gangguan atmosfernya, kan?

Hasil gambar untuk hubble space telescope

Itulah kenapa Hubble Space Telescope yang berukuran 2,4 meter dipasang di sana, dan proyek ini sukses! Tentunya ini proyek yang mahal abis, tapi investasinya sangat amat berharga banget dong yaa…

Oke.. kembali ke laptop Bumi…

 

Lokasi strategis untuk teleskop di Bumi

Di permukaan Bumi sendiri, tempat kan beda-beda yah.. ada yang gangguan turbulensi atmosfernya gede banget, ada yang kalem-kalem aja.

Sekitar tahun 1960an, ilmuwan di seluruh belahan Bumi mengadakan tes wilayah untuk menentukan tempat terbaik buat pengamatan. Ini penting banget nih, soalnya teleskop-teleskop sebelumnya dibangun sesuai lokasi para astronom berada, yaa jadinya kurang efektif, kan? Kadang-kadang tempat pembangunannya itu bukanlah tempat yang cocok.

Baca juga:  Pegang Kucing Bikin Mandul, Bener Gak Sih? Jawaban dan Saran untuk Kamu yang Suka Kucing, Tapi Takut Mandul!

Beberapa tempat ideal ditemukan oleh astronom, yaitu gabungan dari langit cerah+bebas lampu kota+gangguan atmosfer cukup kecil.

Biasanya tempat-tempat kayak gitu ada di dekat khatulistiwa (antara 20 dan 40 derajat lintang utara atau lintang selatan), dan di puncak pegunungan yang ketinggiannya lebih dari 3500 meter.

Kalau kebetulan pegunungannya jauh dari pantai dan anginnya gak kenceng banget (sepoi-sepoi), nah tentunya itu lebih baik lagi.

Beberapa lokasi ditemukan di belahan Bumi bagian utara, misalnya di Amerika bagian selatan-barat, pulau besar di Hawaii dan La Palma di kepulauan Canaria.

Di benua Eropa? Hmm, kurang cocok soalnya cuaca yang mudah sekali berubah-ubah tiap musim dan polusi cahaya karena udah padat penduduk, kan?

Kalau di belahan Bumi selatan? Ada Gurun Atacama di Chile bagian utara dan Karoo di Afrika bagian selatan. Benua Australia juga tempat yang bagus, makanya dibangunlah observatorium Siding Spring di sana. Banyak pilihan tempat deh kalau mau bangun teleskop optik.

Kalau teleskop radio gimana? Piranti yang dipakai kan beda juga dengan piranti dalam teleskop optik. Apa hal terpenting ketika menentukan tempat terbaik untuk membangun teleskop radio? Bebas dari gangguan interferensi gelombang radio di sekitarnya, biasanya dari alat-alat komunikasi yang dipakai manusia.

Gurun yang jauh dari peradaban manusia adalah tempat terbaik untuk ‘meletakkan’ teleskop radio berukuran besar, misalnya teleskop radio ALMA di Gurun Atacama.

Di Australia ada teleskop radio Parkes berukuran 64 meter yang lokasinya di kawasan pedesaan, medannya berbukit, dan iklimnya panas-kering seperti gurun.

Kondisi ini efektif menghalangi teleskop dari interferensi radio yang bersumber dari alat-alat elektronik lain yang dipakai manusia.

 

Indonesia udah punya teleskop belum?

Selain di Observatorium Bosscha, kita doakan semoga teleskop baru yang akan dibangun di Kupang, NTT segera terwujud yaa…

Observatorium kupang

Rancangan observatorium Kupang, NTT

 

Referensi:

  • Why is Uranus Upside Down? and Other Question About The Universe karya Fred Watson (2007).
No more articles
[addthis tool="addthis_inline_share_toolbox"]