Loading Likes...

“Andai saja kita punya Pembangkit Listrik Tenaga Caci Maki Netizen (PLTCMN), pasti terang benderang seluruh pelosok Indonesia”

Kemarin saya membuat joke tentang Pembangkit Listrik Tenaga Caci Maki Netizen (PLTCMN) di postingan Saintif, sebagai respon tentang usaha pemerintah dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap, Sulawesi Selatan.

Dengan PLTCMN, di mana sumber energinya yang berupa caci maki netizen ini sangat-sangat-sangat berlimpah, pemerintah tak perlu susah-susah membangun pembangkit listrik. Tak perlu susah-susah mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang energi, karena PLTCMN dapat menyelesaikannya dengan mudah.

Terlepas dari fakta bahwa ide ini hanyalah sebuah lelucon, sekilas ide ini tampak keren dan masuk akal.

Netizen Indonesia itu kerjaannya hanya caci maki. Sana-sini dimaki-maki. Dengan energi caci maki yang sebegitu besar, Pembangkit Listrik Tenaga Caci Maki Netizen adalah sebuah ide yang brilian.

Sampai akhirnya, setelah saya pikir-pikir kembali….

Saya menyimpulkan bahwa ide PLTCMN ini sangat buruk. Saking buruknya, ide ini bahkan tidak bisa menyelesaikan sedikitpun permasalahan energi di Indonesia.

Tak perlu jauh-jauh berfikir pada mekanisme kerja dari sistem pembangkit listrik ini… dilihat dari konversi energinya saja ide ini ngga masuk~

Mari kita analisis bersama.

 

Konversi energi caci-maki netizen ke listrik

Analisis ini didasarkan pada prinsip hukum kekekalan energi, yang bunyinya:

Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya dapat berubah bentuk

Di sini, kita ingin merubah energi caci-maki netizen menjadi energi listrik.

Maka, kalau kita ingin menghitung jumlah energi listrik yang bisa dihasilkan, kita perlu menghitung energi yang dibutuhkan untuk mencaci-maki terlebih dahulu.

 

Energi caci maki tiap orang

Dalam sehari, rata-rata asupan kalori orang Indonesia dalam sehari adalah 2000 kkal. Nilai ini dapat kita konversi menjadi Joule (1 kkal = 4184 Joule), sehingga dihasilkan nilai 1,04 x 10^7 Joule.

Dari jumlah energi tersebut, jumlah dayanya ( = energi/waktu) adalah 1,04 x 10^7 Joule dibagi 24 jam (86.400 detik), sehingga dihasilkan daya energi orang Indonesia adalah 121 Watt/orang.

Nah, katakanlah 10% dari daya itu digunakan untuk mencaci-maki, sehingga kita dapatkan daya caci-maki sebesar 12,1 Watt/orang.

 

Energi caci maki total

Di Indonesia, ada sebanyak 143 juta orang yang telah aktif menggunakan internet. Sebanyak 49.5% nya atau 70 juta orang berasal dari kalangan usia produktif.

Anggaplah semua orang pada segmen usia produktif ini kalau pakai internet isinya hanya komen caci-maki.

Sehingga, total daya yang digunakan oleh netizen untuk mencaci maki adalah sebesar 12,1 x 70.000.000 = 847 MW.

 

Apakah energi sebesar itu cukup?

Sebenarnya 847 MW adalah nilai yang besar.

Akan tetapi, kalau kita membandingkannya dengan kebutuhan energi total Indonesia sebagaimana yang direncanakan oleh pemerintah, yaitu sebesar 35.000 MW, maka membangun Pembangkit Listrik Tenaga Caci Maki Netizen (PLTCMN) adalah ide yang buruk.

Hanya bisa memasok 2% nya saja.

Masih jauh untuk bisa menerangi seluruh pelosok Indonesia.

Belum lagi dengan fakta bahwa analisis di atas dilakukan dengan menggunakan kondisi yang sangat-sangat ideal. Kalau dimasukkan faktor-faktor pengaruh dan  efisiensi, paling yang dihasilkan hanya 100 MW. Makin jauh~

Untuk mendapatkan daya yang lebih besar, dibutuhkan caci-maki yang lebih besar lagi. Hmmmmm. Apakah kita harus segera menuju tahun 2019 agar jumlah energinya menjadi semakin besar?

Kalau saya sih tidak, mending pemerintah segera melanjutkan membangun infrastruktur pembangkit listriknya saja.