Metode penelitian kualitatif adalah metode yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi

Metode penelitian kualitatif ini lebih suka menggunakan teknik analisis mendalam (indepth anaysis), yaitu mengkaji masalah secara kasus perkasus karena metodologi kualitatif yakin bahwa sifat suatu masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah lainnya.

Tujuan metode penelitian kualitatif adalah untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya dengan pengumpulan data secara ilmiah.

Pada penelitian kualitatif, semakin mendalam, teliti dan tergali suatu data maka dapat dikatakan semakin baik kualitas penelitian. Karena penelitian mendalam pada objek tertentu, metode penelitian kualitatif cenderung bersifat subjektif tak dapat digeneralisasi secara umum.  

Ciri-Ciri Metode Penelitian Kualitatif

  • Deskriptif analitis, terllihat dari caranya mengumpulkan dan merekap data yang bukan dicatat dalam bentuk angka namun penjelasan.
  • Bersifat induktif, yaitu penelitian dimulai dari data atau fenomena yang ada di lapangan yang kemudian memunculkan teori
  • Menggunakan teori yang sudah ada sebagai pedoman dana pendukung, karena meski berangkat dari data namun tetap saja teori digunakan sebagai fokus pembatas dari objek penelitian
  • Berfokus pada makna yang terdapat dalam suatu fenomena yang diteliti, yang dapat digali dari persepsi objek penelitian
  • Mengutamakan akan pentingnya proses penelitian yang berjalan, bukan semata mengacu pada hasil yang ingin dicapai

Jenis Penelitian Kualitatif

Berikut adalah jenis-jenis metode penelitian kualitatif yang biasa digunakan dalam penelitian ilmu sosial termasuk ilmu komunikasi.

1. Fenomenologi

Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, ‘phainomenon’ yang berarti penampakan diri dan ‘logos’ yang berarti akan. Fenomenologi merupakan penelitian yang khusus pada fenomena dan realitas yang tampak untuk dikaji penjelasannya.

Fenomenologi akan menggali data untuk menemukan makna dari hal mendasar dan esenssial dari fenomena, realitas atau pengalaman yang dialami objek penelitian.

2. Etnografi

Etnografim merupakan metode penelitian yang melihat kajian bahasa dalam perilaku sosial dan komunikasi masyarakat dan bagaimana bahasa tersebut diterapkan berdasarkan konsep budaya yang terkait.

Kajian etnografi memiliki dua dasar konsep yaitu aspek budaya (antropologi) dan bahasa (linguistik), di mana bahasa dipandang sebagai sistem penting yang berada dalam budaya masyarakat.

4. Studi kasus

Studi kasus meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada dalam masyarakat yang dilakukan secara mendalam untuk mempelajari latar belakang, keadaan, dan interaksi yang terjadi.

Studi kasus dilakukan pada suatu kesatuan sistem yang bisa berupa suatu program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang ada pada keadaan atau kondisi tertentu.

3. Metode historis

Sebuah penelitian yang memimliki fokus penelitian berupa peristiwa yang sudah berlalu dan melakukan rekonstruksi masa lalu dengan sumber data atau saksi sejarah yang masih ada hingga saat.

Sumber data tersebut bisa diperoleh dari berbagai catatan sejarah, artifak, laporan verbal, maupun saksi hidup yang dapat dipertanggungjawabnkan kebenaran persaksiannya.

4. Metode teori dasar (grounded theory)

Metode teori dasar merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan untuk menemukan suatu teori atau menguatkan teori yang sudah ada dengan mengkaji prinsip dan kaidah dasar yang ada lalu dibuat kesimpulan dasar yang membentuk prinsip dasar dari suatu teori.

Dalam melakukan meotde ini, peneliti perlu memilah mana fenomena yang dapat dikatakan fenomena inti dan mana yang bukan untuk dapat diambil dan dibentuk suatu teori.

Contoh Proposal Penelitian Kualitatif

Judul: Eksistensi Kampung Wisata Batik Laweyan dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Laweyan Surakarta

Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, punya naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Dalam peradaban modren seperti saat ini, pesatnya arus informasi, perkembangan teknlogi dan komunikasi, ilmu pengetahuan dan seni menyebabkan orang tergerak untuk melakukan perjalanan wisata keluar daerahnya bahkan keluar negaranya.

Kegiatan pariwisata yang identik dengan rekreasi merupakan salah satu dari berbagai aktivitas manusia. Adanya kemajuan teknologi dan juga akibat urbanisasi yang besar sebagai salah satu ciri dari kota metropolitan, banyak menarik kaum urban menuju pusat kota untuk mencari nafkah. Akibatnya, banyak orang kota yang terlibat dalam suasana tegang atau mengalami stress. Salah satu pelariannya adalah melakukan rekreasi atau berlibur di tempat-tempat wisata. Masyarakat kota menginginkan suasana yang baru, rileks, dan menikmati perubahan lingkungan dengan udara yang bersih, untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohani agar segar dan siap untuk bekerja kembali.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diandalkan pemerintah untuk memperoleh devisa dari penghasilan non migas. Sehingga pariwisata merupakan salah satu aspek yang saat ini berusaha dikembangkan secara optimal oleh pemerintah pusat terutama kepariwisataan daerah, baik daerah provinsi maupun daerah kabupaten. Dengan pembangunan pariwisata di masing-masing daerah diharapkan mampu membangun keadaan ekonomi negara secaa luas dan khususnya daerah yang mempunyai potensi kepariwisataan (Ramaini, 1992:37)

Sektor pariwisata ini diharapkan mampu menghasilkan pemasukan keuangan bagi negara maupun pemerintah daerah. Selain itu dari sektor pariwisata ini diharapkan mampu mendorong perkembangan ekonomi nasional maupun perkembangan ekonomi lokal, memberdayakan ekonomi masyarakat, meningkatkan kesempatan usaha bagi masyarakat sekitar, mendorong pelestarian lingkungan hidup, meningkatkan pembangunan sektor lainnya, memperluas wawasan nusantara, memperkokoh persatuan dan kesatuan serta menumbuhkan rasa cinta tanah air, mendorong perkembangan daerah, memperkenalkan produk nasional maupun produk lokal dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan yang terpenting adalah menyerap tenaga kerja serta meningkatkan lapangan kerja bagi masyarakat (Soekadijo, 1997:8-9)

Kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan kerja sama kepariwisataan regional aupun global (Nyoman S.Pendit, 1994:15). Surakarta adalah sebuah kota besar di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Nama lainnya adalah Solo ata Sala. Karena dalam keberjalanannya kota Surakarta telah mendapatkan julukan yang cukup beragam, ada yang menyebuut Surakarta sebagai Kota Budaya, Kota Pelesir, Kota Pariwisata, Kota Seniman, Kota Batik dan lainnya yang mencerminkan perkembangan kota yang pesat dalam menyikapi pertumbuhan peradaban dan kebudayaan.

Identitas sebagai Kota Budaya sangat akrab dan melekat lama di Kota Surakara. Hal itu tidak lepas dari peninggalan erbagai warisan pusaka (heritage) berupa tangible heritage (bendawi) dan intangible heritage (nonbendawi). Sebuah upaya pelestarian sudah menjadi kehendak seluruh warga Kota Surakarta. Sebab pelestarian warisan pusaka sebagai tanda proses perubahan serta perkembangan kota yang terjadi secara alamiah. Di kota Surakarta terdapat banyak tempat-tempat wisata budaya yang di antaranya adalah Kampung Baluwarti, Keraton Kasunanan, Keraton Mangkunegaran, Kampung Batik Kauman, THR Sriwedari, Museum Radya Pustaka, dan Kampung Wisata Batik Laweyan.

Batik merupakan karya seni tradisional yang banyak ditekuni oleh masyarakat Laweyan, maka kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung ‘Juragan Batik’ dan mencapai kejayaannya di era 1970-an. Banyak showroom batik di kampung batik yang menarik dan dapat dikunjungi di salah satu daerah wisata ini. Kampung Laweya merupakan kawasan sentra industri batik yang unik, spesifik dan bersejarah.

Menurut RT. Mlayadipuro, pasar Laweyan dulunya merupakan pasar Lawe (bahan baku tenun) yang sangat ramai. Bahan baku kapas pasa saat itu banyak dihasilkan dari desa Pedan, Juwiring, dan Gawol yang masih termasuk daerah Kerajaan Pajang. Adapun lokasi pasar Laweyan terdapat di desa Laweyan (sekarang terletak di antara kampung Lor Pasar Mati dan Kidul Pasar Mati serta di sebelah Timut kampung Setono). Di selatan pasar Laweyan di tepi sungai Kabanaran terdapat sebuar bandar besar yaitu bandai Kabanaran. Melalui bandar dan sungai Kabanaran tersebut pasar Laweyan terhubung ke bandar besar Nusupan di tepi sungai Bengawan Solo.

Kampung Laweyan merupakan suatu kelurahan yang sangat luas wilayahnya 24.83 ha dengan penduduk sekitar 2500 jiwa. Laweyan adalah kampung batik tertua di Indonesia. Eksistensi para pengusaha/juragan batik Laweyan sangat terkenal terutama pada zaman keemasan era KH Samanhudi sekitar tahun 1911. Laweyan juga terkenal dengan bentuk bangunan dan kondisi lingkungan yang khas. Arsitektur rumah tinggal di kampung batik ini umumnya dipengaruhi unsur tradisional Jawa, Eropa (Indisch), China dan Islam. Bangungan-bangunan ini dilengkapi dengan pagar tinggi atau “Beteng” yang menyebakan terbentuk gang-gang sempit.

Kawasan sentra industri batik ini sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546M. seni batik tradisional yang dulu banyak didominasi oleh para juragan batik sebagai pemilik usaha batik, sampai sekarang masih terus ditekuni masyarakat Laweyan. Sebagai langkah strategis untuk melestarikan seni batik, kampung Laweyan didesain sebagai kampung batik terpadu, memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 24 ha yang terdiri dari 3 blok. Konsep pengembangan ini untuk memunculkan nuansa batik yang dominan yang secara langsung akan mengantarkan para pengunjung pada keindahan seni batik. Di antara ratusan motif batik yang dapat ditemukan di kampung batik Laweyan, jarik dengan motif Tirto Tejo dan Truntum jadi ciri khas batik Laweyan.

Pengelolaan kampung batik Laweyan ditujukan untuk menciptakan suasana wisata dengan konsep utama “Rumahku adalah Galeriku”. Artinya rumah meiliki fungsi ganda sebagai showroom sekaligus rumah produksi. Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul yaitu “Eksistensi Kampung Wisata Laweyan dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Laweyan Surakarta”.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana deskripsi lokasi Kampung Wisata Batik Laweyan?
  2. Bagaimana latar belakang Kampung Wisata Batik Laweyan?
  3. Bagaimana perkembangan Kampung Wisata Batik Laweyan?
  4. Bagaimana dampak perkembangan tersebut terhadap kehidupan masyarakat Laweyan Surakarta?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui deskripsi lokasi Kampung Wisata Batik Laweyan
  2. Untuk mengetahui latar belakang Kampung Wisata Batik Laweyan
  3. Untuk mengetahui perkembangan Kampung Wisata Batik Laweyan
  4. Untuk mengetahui dampak perkembangan tersebut terhadap kehidupan masyarakat Laweyan Surakarta

Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

  1. Menambah pengetahuan dan wawasan ilmiah tentang sejarah umumnya dan tentang latar belakang Kampung Wisata Batik Laweyan pada khusunya
  2. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada setiap pembaca agar digunakan sebagai tambahan bacaan dan sumber data dalam penulisan sejarah
  3. Manfaat praktis

Secara praktis penelitian ini bermanfaat:

  1. Memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelah Maret Surakarta
  2. Memberikan sumbangan terhadao penelitian selanjutnya, khususnya dalam sejarah pariwisata yang ada di Indonesia.

LANDASAN TEORI

Pariwisata

Istilah pariwisata diperoleh dari budayawan intelektual atas permintaan Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku ketua DTI (Dewan Tourism Indonesia) di tahun 1960-an. Secara terpisah kedua orang budayawan yang diminta pertimbangannya adalah Prof.Mr.Moh.Yamin dan Prof.Dr.Prijono. kedua budayawan tersebut memberi istilah pariwisata untuk menggantikan istilah tourism. Istilah pariwisata terlahir dari Bahasa Sansekerta yang terdiri dari: pari, wis (man) dan sata. Yang bila dirangkai menjadi pariwisata yang berarti pergi secara lengkap meninggalkan rumah atau kampung halaman berkeliling terus menerus (Nyoman S.Pendit, 2002:1).

Herman V Schulalard, seorang ahli ekonomi berkebangsaan Austria, memberikan batasan pariwisata sebagai berikut, pariwasata dalam arti modren adalah gejala zaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan, pergantian hawa, penilaian yang sadar dan menumbuh terhadap keindahan alam, keselarasan, keseragaman dan kenikmatan pada alam semesta. Pada faktor khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan antar negara dan kelas dalam masyarakat sebagai hasil perkembangan perniagaan, industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat-alat pengangkutan (E.Guyer Freuler dalam Nyoman S.Pendit, 1986:25).

Jenis-Jenis Pariwisata

Sesuai dengan potensi yang dimiliki atau warisan yang ditinggalkan nenek moyang pada suatu negara, maka timbulah bermacam-macam dan jenis pariwisata yang dikembangkan sebagai kegiatan, yang lama-kelamaan mempunyai ciri khas tersendiri. Setiap ahli pariwisata tentunya mempunyai pandangan berbeda mengenai jenis dan macam pariwisata, antara ahli pariwisata satu dengan yang lain.

Menurut Nyoman S.Pendit (2002:40), selain pembagian jenis pariwisata di atas, pariwisata dapat dibagi dalam beberapa macam pariwisata yaitu:

  1. Wisata budaya, perjalanan ini dilakukan untuk memperluas pandangan dan pengetahuan seseorang mengenai cara hidup, kebiasaan, adat istiadart, budaya dan seni masyarakat
  2. Wisata olahraga, wisata yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolahraga atau mengambil bagian dari perta olahraga di suatu negara atau tempat
  3. Wisata komersial, yang termasuk jenis ini adalah perjalanan untuk mengunjungi pameran-pameran dan panen raya yang bersifat komersial
  4. Wisata industri, adalah perjalanan yang dilakukan oleh orang awam maupun mahasiswa ke suatu kompleks atau daerah perindustrian dengan tujuan untuk melakukan peninjauan atau penelitian
  5. Wisata pertanian, perjalanan wisata yang dilakukan ke proyek-proyek pertanian, pembibitan yang bertujuan untuk peneltian maupun menikmati lingkungan
  6. Wisata buru, jenis wisata ini banyak dilakukan di negara-negara yang memiliki daerah tempat berburu yang dibenarkan dan digalakan pemerintah
  7. Wisata pilgrim, jenis wisata inibanyak  dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kerpercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat
  8. Wisata bulan madu yaitu suatu penyelenggaraan perjalanan bagi pasangan pengantin baru
  9. Wisata petualangan dikenal dengan adventure tourism, seperti masuk hutan belantara yang belum pernah dijelajahi.

Wisatawan

Dalam rangka lalu lintas kepariwisataan adanya wisatawan dapat dihubungkan dengan keperluan statistik sebagai alat untuk pengambil keputusan dalam menentukan kebijaksanaan mengenai pengembangan kepariwisataan. Wisatawan adalah individu atau kelompok yang mempertimbangkan dan merencanakan tenaga beli yang dimilikinya untuk perjalanan rekreasi dan berlibur, yang tertarik perjalanan umumnya dengan motivasi perjalanan yang pernah ia lakukan, menambah pengetahuan, tertarik oleh pelayanan yang diberikan oleh suatu daerah tujuan wisata yang dapat menarik pengunjung di masa yang datang (Oka A. Yoeti, 1993:127).

Wisatawan adalah semua orang yang memenuhi syarat, yaitu mereka meninggalkan rumah untuk jangka waktu kurang dari satu tahun dan mereka mengeluarkan uang di tempat yang mereka kunjungi tanpa dengan maksud mencari nafkah di tempat tersebut (Nyoman S.Pendit, 1990:37).

Cohen dalam Rose dan Marianto (1998:5), mengemukakan bahwa “wisatawan adalah pelancong yang melakukan perjalanan atas kemauan sendiri dan untuk sementara saja, dengan harapan mendapat kenikmatan dari hal-hal baru dan perubahan yang dialami selama dalam perjalanan yang relatif lama dan tidak berutang”. Sedangkan Karyono (1997:2) mengemukakan “wisatawan adakah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungan itu”.

Jenis dan Macam Wisatawan

Oka A Yoeti (1993:131-133) berpendapat bahwa berdasarkan sifat perjalanan dan ruang lingkup di mana perjalanan wisata itu dilakukan, maka wisatawan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Wisatawan asing (foreign tourist), yaitu orang asing yang melalkukan kunjungan wisata ke negara lain.
  2. Domestic foreign tourist, yaitu orang yang berdiam di suatu negara dan dia melakukan perjalanan wisata di mana ia tinggal
  3. Domestic toourist, yaitu wisatawan daam negeri yang melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah negaranya.
  4. Indigenous foreign tourist, yaitu warga negara tertentu yang karena tugas berada di luar negeri, kemuan pulang ke negara asalnya dan melakukan perjalanan wisata di negaranya sendiri.
  5. Transit tourist, yaitu wisatawan yang sedang melakukan perjalanan wisata dan singgah pada suatu pelabuhan, bandara atau stasiun yang bukan karena kemauannya sendiri.
  6. Business tourist, yaitu orang yang melakukan perjalanan wisata setelah tujuan utamanya selesai.

Sarana dan Prasarana Pariwisata

Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wiisatawan, baik secara langsung, maupun tidak langusng dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan (Oka A. Yoeti, 1993:181).

Prasarana pariwisata adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang serta dapat memberikan pelayanan pada wisatawan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang beranekaragam. Salah Wahab daam Nyoman S. Pendit (2002:80), membagi sarana dan prasarana pariwisatawa menjadi tiga bagian penting yaitu:

  1. Receptive tourist plant, yaitu segala bentuk badan usaha yang kegiatannya khusus untuk menyambut kedatangan wisatawan. Termasuk di dalamnya travel agent dan tour operator.
  2. Residental tourist plant, yaitu semua fasilitas yang dapat menampung kedatangan para wisatawan untuk dapat menginap dan tinggal untuk sementara waktu. Termasuk dalam kelompok ini adalah semua bentuk akomodasi untuk wisatawan, yaitu: hotel, wisma, restoran dan rumah makan.
  3. Recreative and sportive plant, yaitu semua fasilitas yang dpaat digunakan untuk tujuan rekreasi dan olahraga. Misalnya: fasilitas golf, kolam renang, lapangan tenis dan fasilitas lainnya.

Masyarakat

Manusia merupakan makhluk sosial, artinya bahwa masyarakat tidak dapat hidup sendiri. Ada ketergantungan antara manusia satu dengan manusia yang lain sehingga menyebabkan ketergantungan antar manusia. Masyarakat menyadari, bahwa manusia sebagai pribadi atau individu hidup di dalam suatu kebuadayaan yang memperlakukan manusia sebagai makhluk yang mampu untuk mengarahkan dirinya di dalam kehidupan dan yang menjadi unsur dinamis di dalam peristiwa-peristiwa sosial. Manusia sebagai individu juga mempunyai kedudukan dan peran tertentu di dalam pergaulannya yaitu dalam masyarakat, sebagai suatu bentuk pergaulan hidup tertentu (Soerjono Soekanto, 1983:9). Salah satu definisi masyarakat pada awalnya adalah “a union of families” yaitu masyarakat merupakan gabungan atau kumpulan dari keluarga-keluarga. Awal dari masyarakat adalah hubungan dari individu-individu, kemudian kelompok yang lebih besar lagi menjadi satu kelompok besar orang-orang yang disebut dengan masyarakat (Khairuddin. M, 2001:34).

Koentjaraningrat (1990:144) mengemukakan “masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi”. Hal yang berbeda diungkapkan Max Weber dalam bukunya Daljoeni (1997:33), menyimpulkan bahwa “masyarakat adalah suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan (agamawi) dan nilai-nilai yang dominan dari warganya”. Sedangkan Karl Marx, melihat masyarakat sebagai suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh kebudayaan yang mereka anggap sama” (Poewardarminta, 1993:157). Masyarakat juga merupakan suatu kesatuan fungsional, struktural, dan harmonis, selain itu adanya ketegangan dan konflik hanya peristiwa yang kebetulan saja. Masyarakat dalam ekologi sosial disebut juga dengan community yaitu kehidupan bersama yang berdasarkan teritorial, jadi bisa berupa kota, desa metropol dan benua bahkan seluruh dunia (Daljoeni, 1997:34). Pelly dan Menanti (1994:137), mengemukakan hakekat “masyarakat adalah sekumpulaan manusia yang memiliki budaya sendiri dan bertempat tinggal di daerah teritorial yang tertentu”. Anggota masyarakat itu memiliki rasa persatuan dan menganggap mereka memiliki identitas tersendiri.

Koentjaraningrat (1990:239) juga mengatakan bahwa tidak seua kesatuan manusia yang bergaul dan berinteraksi merupakan masyarakat, karena satu masyarakat harus mempunyai satu ikatan lain yang khusus. Ikatan khusus yang membuat satu kesatuan manusia menjadi satu masyarakat yaitu:

  1. Pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupan dalam batas kesatuan itu
  2. Pola itu harus bersifat mantap dan kontinyu (terus-menerus), atau dengan kata lain pada khas itu sudah menjadi adat istiadat yang khas
  3. Adanya satu rasa identitas di antara para warga atau anggotanya bahwa mereka merupakan satu kesatuan khusus yang berbeda dari kesatuan-kesatuan manusia lain.

Perubahan Sosial Ekonomi

Manusia yang dikaruniai akal dan pikiran oleh Tuhan dalam hidupnya pasti akan mengalami sesuatu perubahan. Perubahan yang terjadi pada prinsipnya merupakan suatu proses yang terus menerus. Artinya bahwa perubahan itu akan dapat terjadi secara lambat maupun terjadi secara cepat.

Menurut Mac Iver dalam Soerjono Soekanto (1986: 264) “perubahan sosial adalah sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap hubungan keseimbangan sosial”. Soerjono Soekanto (1986:41) memberikan definisi “perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga sosial yang mempengaruhi sistem sosial, termasuk di dalamnya nilai, sikap dan perilaku di antara kelompok dalam suatu masyarakat.”

Perubahan sosial sebagai bagian dari proses sosial yang mencakkup perubahan dalam struktur fungsi, budaya kelompok manusia dan lembaga kemasyarakatan (Daldjoeni, 1979:2). Selain itu perubahan sosial adalah perubahan-perubahan dalam lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, termasuk di dalamnya nilai sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Perubahan sosial adalah proses sebagai akibat adanya dinamika anggoa masyarakat yang didukung oleh sebagian besar anggota masyarakat yang merupakan tuntutan kehidupan dalam mencari kestabilan (Nursid Kusumaatmaja, 1986:79).

Dari beberapa pendapat mengenai perubahan sosial di atas dapat diketahui bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat yang meliputi perubahan di dalam lembaga masyarakat. Perubahan ini akan diikuti oleh perubahan sosial lainnya sehubungan dengan adanya dinamika anggota masyarakat dan dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat.

Dalam konteks sosial ekonomi, perubahan mempunyai pengertian sebagai proses pergeseran atau perkembangan masyarakat dalam aspek sosial dan aspek ekonomi dari suatu kondisi tertentu menjadi kondisi yang lain, berupa kemajuan dan penurunan yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa tertentu.

KERANGKA PERFIKIR

Sesuai dengan judul penelitian ini, maka dapat digambarkan kerangka pemikiran sebagai berikut:

Keterangan:

Batik merupakan salah satu benda budaya yang ada di kota Surakarta. Masyarakat Laweyan sebagian besar merupakan pedagang dan pengrajin batik sehingga sebagian masyarakat Laweyan masih melestarikan benda budaya tersebut dan juga sebagaian mata pencaharian utama masyarakat Laweyan. Di Surakarta, Laweyan dikenal sebagai daerah para pengrajin batik.

Untuk dapat meningkatkan pendapatan dan juga melestarikan benda budaya sehingga pemerintah kota Surakarta menjadikan wilayah Lweyan sebagai tempat wisata batik dengan konsep rumah sebagai galeri dengan nama Kampung Wisata Batik Laweyan.

Kampung Wisata Batik Laweyan. Merupakan wadah bagi para pengrajin batik yang ada di Laweyan untuk memasarkan hasil kerajinannya sehingga para pedagang juga memperoleh pendapatan dari Kampung Wisata Batik Laweyan. Kampung Wisata Batik Laweyan mempengaruhi kehidupan ekonomi dan juga sosial masyarakat sekitarnya.

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian sangat menentukan diperolehnya informasi untuk menyampaikan kebenaran dari suatu penelitian. Tempat penelitian yang akan peneliti gunakan adalah Desa Laweyan, Kecamatan Laweyan, Surakarta.

Waktu penelitian merupakan jangka yang peneliti gunakan untuk kepentingan penelitian. Dalam melakukan penelitian ini waktu yang digunakan penulis sejak pengajuan judul pada bulan September 2010 sampai selesai

Bentuk Penelitian

Penelitian dengan jdul Eksistensi Kampung Wisata Batik Laweyan.dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Laweyan Surakarta merupakan penelitian yang akan mengungkap perubahan sosial ekonomi masyarakat. Soleh karena itu bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan metode deskriptif.

Strategi Penelitian

Dalam penelitian strategi penelitian menjelaskan bagaimana tujuan penelitian akan dicapai dan juga bagaimana masalah yang dihadapi di dalam penelitian akan dikaji dan dipecahkan untuk dipahami.

Strategi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus terpancang tunggal. Pendekatan kasus terpancang merupakan suatu cara untuk mendapatkan data dalam bentuk kesatuan watak dari obyek yang idteliti (Goede, 1952:331).

Dikaitakan dengan lokasi penelitian yang tunggal, maka penelitian ini merupakan studi kasus tunggal yang terpancang atau embeded case study. Menurut H.B. Sutopo (2002:15), studi kasus tunggal terpancang adalah penelitian hanya dilakukan pada satu sasaran (satu lokasi atau satu obyek).

Sumber Data

Menurut H.B Sutopo (2002) bahwa “dalam penelitian kualitatif, sumber datanya dapat berupa manusia, pertanyaan dan tingkah laku, dokumen, dan arsip atau benda lain”.

Sedangkan menurut Lofland, “sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen”. (Lexi J. Moleong, 2001). Dalam penelitian ini sumber data diperoleh melalui:

Informan

Lexi J. Moleong (2001:45) mengatakan bahwa yang disebut informan adalah “orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian.

Dalam penelitian ini orang yang dianggap tahu dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data serta mengetahui permasalahan yang akan dikaji adalah: tokoh formal masyarakat Laweyan dan anggota masyarakat Laweyan pengrajin batik.

Tempat dan Peristiwa

Sumber data lain adalah tempat dan pariwisata. Informasi mengenai kondisi dari lokasi peristiwa atau aktivitas dilakukan bisa digali lewat sumber lokasinya baik yang  merupakan tempat maupun lingkungannya.

Dalam penelitian ini, sebagai informasinya dapat digali dari pengamatan secara cermat mengenai kondisi dan kelengkapan lokasi, atau tempat yang merupakan bagian dari kehidupan warga masyarakat Laweyan sehari-hari. Sedangkan dari peristiwa aktivitas dalam penelitian ini, peneliti mengetahui perubahan sosial ekonomi masyarakat Laweyan.

Penulisan proposal pengurusan perijinan

Setelah judul penelitian disetujui dan ditentukan dilanjutkan dengan penulisan proposal yang berisi garis besar penelitian. Langkah selanjutnya mengadakan langkakh pelaksanaan yaitudengan mengurus penrijinan penelitian.

  • Pengumpulan data dan analisis awal

Pengumpulan data dilakukan di lokasi penelitian termasuk dalam hal inimengadakan wawancara dengan informan dan mengadakan observasi terhadap sumber-sumber tertulis yang ada kaitannya dengan topic dalam penelitian sebagai data.

  • Analisis akhir dan penarikan kesimpulan

Datta yang sudah tersusuk rapi merupakan bagian dari analisis awal, maka kegiatan selanjutnya merupakan analisis akhir dengan  mengorganisasikan dan mengurutkan data pola dalam uraian dasar sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan

  • Penulisan laporan dan perbanyak laporan

Dari data yang sudah disusun berdasarkan pedoman penelitian kualitatif, maka akan dapat diambil sebuah laporan penelitian sebagai karya ilmiah, yang sebelumnya melalui proses pengujian terlebih dahulu.

Dari uraian di atas, maka dapat digambarkan skema prosedur penelitian sebagai berikut:

metode penelitian kualitatif

DAFTAR PUSTAKA

  • Banbang Prasetyo&Lina Miftanul Jannah (2005). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Raja Grafindo
  • Sugiyono (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatid Dan R&D, Bandung: Alfabeta
  • Widodo, T (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Surakarta. LPP UNS Press
  • Creswell, Jhon W. 2010. Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif Dan Mixed, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualititaif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
  • Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, Bandung: Alfabeta CV
  • Yusuf, A Muri. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan Penelitian Gabungan. Padang: UNP Press
  • Moleong, Lexy J. 2001. Metodologi Penelitian Kualititaif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
  • Hadari Nawawi. 1993. Metodologi Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press
  • Heribertus Sutopo.2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press
  • Koentjoroningrat.1983.Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia
  • Koentjoroningrat.. 1984. Kebudayaan Jawa, Jakarta: Balai Pustaka
  • Peursen, C.A. Van. 1976. Strategi Kebudayaan (Terjemahan Dick Hartoko). Yogyakarta: Kanisiun
  • Soejono Soekanto. 1995. Pengantar Sosiologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo

Demikianlah pembahasan mengenai metode penelitian kualitatif dan jenis-jenisnya. Semoga pembahasan ini berguna bagi kamu yang mencari informasi mengenai metode penelitian kualitatif.