A password will be e-mailed to you.

    Apakah ketika beli siomay kita harus membayar dengan cara hitung logaritma?

    Pastinya tidak.

    Tentu saja untuk hal sesederhana membeli siomay, kita tidak harus susah-susah menggunakan logaritma. Karena proses transaksinya dapat dilakukan cukup dengan aritmatika dasar tambah-kurang-kali-bagi.

    Apakah dengan begitu kita tak perlu ribet-ribet belajar logartima?

    Tidak juga.

    Dunia ini tak melulu sesederhana membeli siomay. Jadi untuk banyak kasus, keberadaan logaritma membantu banyak.

    Logaritma adalah kebalikan dari notasi pangkat. Dua pangkat tiga samadengan delapan.

    Nah, untuk kasus ketika kita ingin tahu dua dipangkatkan berapa agar samadengan delapan, kita menggunakan logaritma. Jika angkanya seperti itu sih mudah. Coba bayangkan jika kita mencaritahu dua dipangkatkan berapa agar hasilnya 100?

    Berapa?

    Tanyakan saja sama logaritma.

     

    ***

     

    Bukan hanya tentang logaritma, ini pun berlaku pada sains secara umumnya.

    Kelihatannya sains tidak ada gunanya di kehidupan sehari-hari, karena kita suka kesederhanaan. Makanya kalau kita beli bensin, kita tak harus mengetahui berapa banyak rantai C dalam hidrokarbonnya.

    Tapi, kalau kita merujuk ke hal-hal yang lebih besar, sains sangatlah dibutuhkan.

    Ini adalah gambar Candi Borobudur:

    Ini Piramida di Mesir:

    Ini stonehenge:

    Keren kan?

    Apakah bangunan-bangunan kuno tersebut dapat dibuat semudah kita mau beli siomay?

    Tidak.

    Lalu bayangkan, zaman dulu, belum ada kalkulus, belum ada istilah teknik sipil, belum ada alat-alat mesin gede buat mengangkat batu, buat ngeruk, buat apalah itu yang kaitannya sama proyek bangunan.

    Keren ya, belum ada apa-apa aja bisa gitu.

    Logikanya, mustahil bangunan sekompleks itu, dibangun tanpa perhitungan dan pengetahuan yang kompleks juga. Pasti ada ‘matematika’ dan ‘fisika’ yang dipakai oleh ‘insinyur’ di masa itu.

    Baca juga:  Kesempatan Terbaik Mengamati Planet Merkurius Kamis Ini

    Dan lebih menariknya lagi, tak ada satupun diantara kita, yang tahu pasti bagaimana sebenarnya cara suku-suku berperadaban itu membangun sebuah keajaiban.

    Kita hanya tahu ada tulisan-tulisan peninggalan tentang dibangunnya hal itu, atau data-data, coret-coretan ilmiah, tapi tetap saja kita belum tahu pastinya.

    Inilah yang kemudian disebut lost of knowledge, ilmu pengetahuan yang hilang.

    Dari sini pun kita sadar, bahwa yang penting untuk capaian besar tidak hanya sains, tapi juga edukasi, yaitu pengajaran agar sains tersebut dapat terus berjalan estafet dari masa ke masa.

    That’s why, education is important.

     

    Tulisan ini adalah kiriman dari kontributor.
    Disunting oleh Saintif.

     

    No more articles