Kerajaan Mataram Kuno : Sejarah Singkat, Raja, Masa Kejayaan, dan Peninggalan

ilustrasi oleh dribbble.com

Kerajaan Mataram Kuno adalah kerjaan Hindu besar yang ada di Pulau Jawa. Berdirinya kerajaan ini merupakan penerus langsung dari Kerajaan Kalingga atau Ho-Ling yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa. k

Kerajaan Mataram Kuno tercatat memiliki dua periode berdasarkan lokasi atau ibu kota pemerintahannya. Periode awal, yaitu kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dibawah Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang beragama Buddha Mahayana. Sedangkan periode kedua, kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur dan berada di bawah kuasa Wangsa Isyana sebagai Wangsa baru Kerajaan Mataram Kuno.

Berikut sejarah singkat kerajaan Mataram Kuno, raja-raja, masa kejayaan, dan berbagai peninggalannya.

Sejarah Singkat Kerajaan Mataran Kuno

Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah yang sering disebut sebagai Bumi Mataram. Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung, seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi-Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh banyak sungai, seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Itulah sebabnya daerah ini sangat subur.

Kerajaan Mataram Kuno juga sering disebut dengan nama Kerajaan Medang, yaitu kerajaan yang bercorak agraris. Tercatat terdapat 3 Wangsa (dinasti) yang pernah menguasai Kerjaan Mataram Kuno yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya merupakan pemuluk Agama Hindu beraliran Syiwa sedangkan Wangsa Syailendra merupakan pengikut agama Budah, Wangsa Isana sendiri merupakan Wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sindok.

Raja pertama Kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya yang merupakan pendiri Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu. Setelah Sanjaya wafat, ia digantikan oleh Rakai Panangkaran. Oleh Rakai Panangkaran, kerajaan kemudian berpindah ke aliran agama Budha Mahayana. Sejak saat itulah Wangsa Syailendra berkuasa.

Pada saat itu baik agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Kerajaan Mataram Kuno. Penganut agama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian utara, dan penganut agama Buddha berada di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.

Setelah sekian lama, Wangsa Sanjaya kembali memegang tangku kepemerintahan setelah anak Raja Samaratungga, Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan yang menganut agama Hindu. Pernikahan tersebut membuat Rakai Pikatan maju sebagai Raja dan memulai kembali Wangsa Sanjaya. Rakai Pikatan juga berhasil menyingkirkan seorang anggota Wangsa Syailendra bernama Balaputradewa yang merupakan saudara Pramodawardhani. Balaputradewa kemudian mengungsi ke Kerajaan Sriwijaya yang kemudian menjadi Raja Sriwijaya.

Wangsa Sanjaya berakhir pada masa Rakai Sumba Dyah Wawa. Berakhirnya Kepemerintahan Sumba Dyah Wawa masih diperdebatkan. Terdapat teori yang menyatakan bahwa pada saat itu terjadi becana alam yang membuat pusat Kerajaan Mataram Hancur. Kemudian Mpu Sindok pun tampil menggantikan Rakai Sumba Dyah Wawa sebagai raja dan memindahkan pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur dengan membangun wangsa baru bernama Wangsa Isyana.

Raja-Raja Kerajaan Mataram Kuno

Terdapat dua periode kerajaan Mataram Kuno, yaitu periode Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berikut adalah raja-raja yang berkuasa pada periode Jawa Tengah.

  1. Sri Sanjaya (732-760)
  2. Rakai Panangkaran (760-780)
  3. Rakai Panunggalan (780-800)
  4. Rakai Warak atau Samaragrawira (800-819)
  5. Rakai Garung atau Samaratungga (819-838)
  6. Rakai Pikatan (838-850)
  7. Rakai Kayuwangi (856-880)
  8. Sri Jayakirtivardhana (880-885)
  9. Rake Panumwangan (885-887)
  10. Rake Gurungwangi (887-890)
  11. Rakai Watuhumalang (890-898)
  12. Rakai Galuh (898-910)
  13. Rakyryan Mahapatih Daksottama (910-919)
  14. Rakai Layang (919-924)
  15. Rakai Sumba (924-929)

Setelah Rakai Sumba turun tahta, terjadilah kekacauan di ibukota Mataram yang diakibatkan oleh letusan gunung Merapi.

Oleh sebab itu, Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaan kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur dan mendirikan Wangsa Isyana sebagai pengganti Wangsa Syailendra. Raja-raja periode Jawa Timur adalah :

  1. Mpu Sindok atau Sri Maharaja Isana Vikramadharmottunggadeva (924-947)
  2. Sri Isana Tunggavijaya (947-985)
  3. Sri Makutamsa Vardhana (985-990)
  4. Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh (990-1016)

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno

Pada masa kerajaan Mataram Kuno, minim terjadi konflik kerajaan diluar konflik internal dengan keturunan Sriwijaya. Kondisi ini menyebabkan kerajaan terus berkembang sepanjang tahun.

Berikut adalah beberapa pencapaian besar kerajaan Mataram Kuno di bawah kuasa beberapa raja berikut.

1. Sanjaya

Raja Sanjaya termasuk nama raja kerajaan Mataram Kuno yang paling banyak disebut. Sanjaya dikenal sebagai raja yang mengajarkan toleransi beragama untuk semua kalangan agama. Agama seorang raja dan rakyat tidak harus sama. Hasill dari toleransi beragam kini terlihat dalam pembangunan Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Prambanan, dan lainnya.

2. Rakai Panangkaran

Pada masa pemerintahannya, ia mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya, dan melanjutkan iklim toleransi antar agama yang baik. Rakai Panangkaran membuat pemukiman khusus penduduk beragama tertentu sehingga menghindarkan konflik. Ia juga memulai pembangunan komplek besar Candi Borobudur dan Candi Sewu yang bercorak Budha.

3. Rakai Pikatan

Rakai Pikatan merupakan penerus tahta dari wangsa Sanjaya, ia berhasil mengalahkan kandidat dari wangsa Syailendra yaitu Balaputradewa. Sebagai raja, ia memulai pembangunan komplek percandian Hindu terbesar yaitu Candi Prambanan. Pada masa ini konflik yang berlangsung sampai ratusan tahun kemudian dengan Sriwijaya dimulai.

4. Dyah Balitung

Merupakan seorang raja yang berkuasa dari 898-910 M. Ia dianggap sebagai raja yang berhasil dalam hal ekspansi kekuasaan. Dyah Balitung berhasil menguasai banyak wilayah di timur dan menguasai jalur perdagangan melalui Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Dua aliran sungai yang kemudian menjadi pilihan ketika Mpu Sindok memindahkan kekuasaannya ke timur, sekitar wilayah Jombang.

Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno

Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno disebabkan oleh memuncaknya konflik antara Mataram dan Sriwijaya. Dharmawangsa Teguh melancarkan serangan melalui laut ke Palembang. Namun Raja Sriwijaya, Sri Cudamaniwarman meminta bantuan Cina sehingga serangan tersebut dapat digagalkan setelah enam belas tahun berperang (990-1006).

Sriwijaya membalas serangan tersebut pada tahun 1016-1017, ketika seorang tokoh bernama Haji Wurawari melancarkan pemberontakan terhadap pemerintahan Dharmawangsa. Kerajaan Mataram atau Medang hancur, salah satu anggota Wangsa Isyana yaitu Airlangga membawa seluruh pengikutnya dan mendirikan kerajaan Kahuripan yang terletak di tepi sungai Brantas.

Peninggalam Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno meninggalkan beberapa peninggalan bangunan berupa candi dan prasasti.

1. Candi Borobudur

kerajaan mataram kuno

Candi Borobudur adalah candi bercorak Buddha terbesar di dunia. Pembangunan candi borobudur pada waktu kepemimpinan wangsa Syailendra pada abad ke-7 Masehi, yang pada masa itu diselesaikan pada masa kekuasaan Samaratungga.

Candi ini berisi berbagai kisah keagamaan Buddha, serta hal-hal yang berkaitan dengan praktik-praktik keagamaan.

2. Candi Prambanan

kerajaan mataram kuno

Candi Prambanan adalah komplek candi bercorak agama Hindu yang dibangun oleh Mataram. Prambanan dibangun sekitar abad ke-8 Masehi di bawah pimpinan Rakai Pikatan dan Dyah Balitung.

Prambanan adalah Candi bercorak Hindu terbesar di Indonesia. Bersama dengan Borobudur diresmikan sebagai warisan kebudayaan dunia oleh UNESCO.

3. Candi Kalasan

Candi Kalasan adalah salah satu candi bercorak Buddha yang didirikan oleh Mataram. Prasasti Kalasan menunjukkan bahwa Candi ini dibangun sekitar tahun 778 dan diperuntukkan bagi penghormatan atas Boddhisatva, Tarabhawana, dan vihara untuk para pendeta. Rakai Panangkaran memerintahkan pembangunan Candi ini di Sleman.

4. Candi Plaosan

Candi Plaosan adalah Candi bercorak Buddha yang dibangun di wilayah Klaten. Lokasi candi ini berdiri berdekatan dengan Candi Sewu dan Candi Prambanan. Candi ini dibangun pada abad ke-9 oleh Rakai Pikatan.

5. Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo yang terletak di lereng Ungaran, Kabupaten Semarang. Terletak cukup jauh apabila dibandingkan dengan komplek Candi yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya. Candi ini bercorak Hindu, dan dibangun pada abad ke-9 yang dimungkinkan diperintah oleh Rakai Pikatan. Candi ini terletak 1200 meter di atas permukaan laut dan terdiri atas sembilan buah candi.

6. Candi Mendut

kerajaan mataram kuno

Candi Mendut merupakan candi agama Budha yang dibangun sejaka Mataram Kuno dipimpin oleh Raja Idna dari dinasti Syailendra. Sama seperti Candi Borobudur, Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Bangunan ini termasuk ke dalam candi Buddha yang dibangun ketika Mataram Kuno tengah dipimpin oleh Raja Idna. Lokasi cadi Mendut berdekatan dengan Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah

7. Candi Pawon

kerajaan mataram kuno

Candi Pawon terletak di Magelang, Jawa Tengah. Letak candi ini berada dalam satu garis lurus dengan Candi Borobudur dan Candi Mendut jika di lihat dari atas.

8. Candi Ngawen

Merupakan candi Buddha yang lokasinya berada kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8.

9. Candi Arjuna

Candi Arjuna merupakan candi bercorak Hindu yang mirip dengan candi di kompleks Gedong Songo. Bentuk umumnya adalah persegi dengan luas kurang lebih 4 meter kubik.

10. Candi Bima

Candi Bima termasuk sebagai candi bercorak Hindu yang ditemukan di Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab, Banjarnergara, Jawa Tengah. Candi ini berada di kompleks Candi paling selatan. Bentuknya memiliki emiripan dengan arsitektur beberapa candi di India. Bagian atap hampir sama dengan shikara yang berbentuk seperti mangkuk terbalik. Di bagian atap ini juga ditemukan relung dan relief kepala yang disebut Kudu.

11. Candi Puntadewa

Candi bercorak Hindu ini terletak di kompleks candi Arjuna, Dieng. Dimensi Candi ini berukuran kecil namun memiliki panjang bangunan yang

12. Candi Gatotkaca

Lokasinya berada di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Tepatnya di sebelah barat kompleks Candi Arjuna, tepi jalan menuju Candi Bima. Nama Gatotkaca diambil dari tokoh pewayangan di cerita Mahabarata. Candi Gatotkaca termasuk ke dalam candi bercorak Hindu.

13. Candi Semar

Candi Semar termasuk ke dalam candi bercorak hindu yang terletak di hadapan candi Arjuna. Bentuknya persegi dan membujur ke arah utara-selatan.

14. Prasasti Sojomerto (Abad ke-7)

Prasasti Sojomerto merupakan prasasti berbahasa Melayu Kuno, ditemukan di desa Sojomerto, kabupaten Pekalongan. Isi Prasasti menjelaskan bahwa Syailendra merupakan penganut agama Budha.

15. Prasasti Canggal (732 M)

Berbentuk Candrasangkala, ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal. Isi prasasti menyatakan peringatan pembuatan Lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.

16. Prasasti Kalasan (778 M)

Prasasti ini ditulis menggunakan aksara pranagari (dari India Utara) dalam bahasa Sansekerta, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta. Isi dari prasasti ini adalah mengenai kabar Raja Syailendra yang membujuk Rakai Panangkaran untuk mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara yang merupakan vihara bagi para pendeta Buddha.

17. Prasasti Kelurak (782 M)

kerajaan mataram kuno

Prasasti Kelurak ditemukan di desa Prambanan. Prasasti ini ditulis dengan huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta. Isinya menceritakan pembangunan arca Manjusri sebagai wujud sang Budha, Dewa Wisnu dan Sanggha. Prasasti ini juga menyebutkan mengenai Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya sebagai raja yang berkuasa saat itu.

18. Prasasti Ratu Boko (856 M)

kerajaan mataram kuno

Prasasti Ratu Boko menceritakan tentang kekalahan Balaputradewa dalam perang melawan kakaknya yaitu Rakai Pikatan atau Pramodhawardani dalam perebutan kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno.

19. Prasasti Mantyasih (907 M)

kerajaan mataram kuno

Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah. Isi dari prasasti ini yaitu silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Baliti, yakni Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Panunggalan, Rakai Garung, Rakai Watuhmalang, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi dan Rakai Watukara Dyah Balitung.


Semoga Bermanfaat ya!

Referensi: studiobelajar.com

Artikel Terkait