Benarkah Kelelahan Bisa Menyebabkan Kematian? (Penjelasan Ilmiah)

Pesta demokrasi rakyat Indonesia memang sudah selesai.

Namun, hajatan besar ini meninggalkan kisah duka bagi beberapa orang. Para petugas KPPS satu persatu gugur dalam perjuangan penghitungan suara.

Media memberitakan bahwa mereka meninggal karena faktor kelelahan. Begitulah juga yang dikatakan oleh komisioner KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Kecapekan menjadi faktor utama penyebab sekitar 225 petugas pemilu meninggal dunia.

Namun, apa memang mungkin gara-gara kelelahan terus bisa menyebabkan kematian?

Tidak ada teorinya

Kelelahan menyebabkan kematian

Bisa dibilang hal itu hanya sebuah stereotip, yang sebenarnya masih sebatas dugaan saja.

Menurut Prof. Dr. dr. Parlindungan Siregar, Sp.PD, KGH, Guru besar FK Universitas Indonesia, hal tersebut masih dugaan semata dalam dunia medis. Hanya bisa mengatakan “ini mungkin”. Karena memang tidak ada teori pasti, satu-satunya jalan untuk membuktikan ya dengan cara otopsi.

Ohh jadi itu semua bukan karena kelelahan ya?

Eits jangan cepat-cepat ambil kesimpulan dulu.

Para petugas KPPS, usut punya usut ternyata mereka kerja dari pagi sampai menjemput pagi lagi. Dan itu tidak cuman sehari saja.

Wajar kalau memang mereka lelah, selain porsi tidur yang berkurang drastis, nutrisi yang dimakan pun barangkali bisa dibilang jauh dari kata cukup.

Kelelahan sebetulnya ada hubungan kuat dengan istirahat tidur kita. Karena tidur merupakan hal terpenting dalam proses tubuh kita. Jika kita kurang tidur, tentu kita bisa mengalami kelelahan.

Petugas KPPS Kelelahan

Begitu pula yang terjadi dengan para petugas KPPS… siklus tidur mereka secara tiba-tiba berubah.

Tubuh mereka dipaksa kerja sehari semalam tanpa istirahat yang cukup.

Selain itu, ada pula dari mereka yang sampai 2 hari tidak tidur. Padahal kita tahu semua bahwa tubuh ini perlu untuk beristirahat.

Baca juga:  Ekosistem mangrove di Indonesia memang rusak, terus apa efeknya buat kita?

Kelelahan adalah homeostatis, yang berarti tubuh kita secara otomatis mengatur prosesnya dengan memberi tahu kita kapan harus tidur dan kapan harus bangun.

Ketika tubuh kita membutuhkan tidur, terutama jika kita tidak cukup tidur atau kita tetap terjaga untuk waktu yang lama, otak yang seperti tidur memberi sinyal ke dalam otak kita yang sedang bangun.

Sinyal-sinyal ini berasal dari beberapa area di otak, termasuk struktur yang disebut nukleus suprachiasmatic, yang terdiri dari sekitar 20.000 sel saraf.

Nukleus ini terletak di bagian otak kita yang disebut hipotalamus. Bagian otak kita ini menerima sinyal dari mata kita. Jadi, ketika mata kita melihat cahaya, otak kita mendapat sinyal yang membuat kita merasa terjaga. Namun saat gelap, sinyal tersebut membuat kita merasa lelah.

Ini adalah bagian dari proses yang disebut ritme sirkadian. Ini bekerja seperti jam alami di tubuh kita. Jam ini juga mengontrol produksi melatonin, hormon yang membantu memberi tahu tubuh kita kapan harus tidur dan kapan harus bangun.

Ketika tubuh kita melepaskan lebih banyak melatonin, kita merasa lebih lelah. Rasa lelah ini diterjemahkan oleh tubuh kita bahwa kita perlu beristirahat.

Tubuh manusia mulai melepaskan melatonin pada malam hari menjelang tidur dan berlanjut sepanjang malam. Kemudian, tubuh perlahan-lahan berhenti mengurangi melatonin di pagi hari.

Sehingga sangat disarankan untuk benar-benar menjaga pola tidur kita. Jangan sampai memaksakan tubuh kita yang sudah sangat lelah karena ini bisa berakibat fatal.

Sebetulnya kelelahan tidak serta merta bisa dibilang menjadi penyebab kematian.

Karena kelelahan ini mungkin dibarengi dengan faktor penyakit bawaan atau kondisi tubuh yang sedang sakit.

Alhasil, hal yang tak terduga seperti kematian pun bisa saja terjadi.

Meninggal Akibat Penyakit Jantung

Kelelahan dan penyakit jantung

Selain faktor istirahat yang kurang, kelelahan juga bisa berimbas pada timbulnya penyakit lain.

Baca juga:  Sering terjadi gerhana, apakah ini tanda-tanda kiamat?

Seperti penyakit jantung.

Penyakit ini dianggap sebagai biang kerok terjadinya fatal yang menyebabkan kematian.

Kebiasaan pola hidup yang tidak sehat bisa menjadi pemicu utama. Contohnya adalah terlalu banyak mengonsumsi kafein, merokok, junkfood, kurang berolahraga, memaksakan bekerja dalam kondisi kelelahan, bahkan kekurangan tidur.

Semua itu bisa sebabkan darah membeku dan menyumbat pembuluh darah.

Aliran darah yang tersumbat bisa membuat otot jantung menjadi cedera dan berujung pada serangan jantung atau dikenal sebagai infark miokard. Kondisi inilah yang membuat banyak orang punya anggapan bahwa kelalahan menjadi penyebab kematian.

Kelelahan bisa menjadi lebih buruk ketika seseorang memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes, lemah jantung dan lain sebagainya. Siapapun orangnya jika bekerja melampaui limitasi kemampuan tubuhnya pasti akan berdampak tidak baik.

Meski pada dasarnya tidak ada teori tentang kelelahan yang bisa mengakibatkan kematian. Namun hal ini bisa menjadi sebab yang tidak langsung.

Menjaga pola hidup yang sehat tentu sangat dianjurkan. Namun, jika dengan menerapkan pola hidup sehat kalian masih mengalami kelelahan, maka ada baiknya jika anda berkonsultasi ke dokter.

Kita benar-benar harus bisa peduli pada yang dirasakan tubuh saat ini. Jangan sampai terbiasa memaksakan limitasi kemampuannya. Itupun kalau memang kita sayang sama tubuh kita.

Bagi siapapun perlu memerhatikan hal ini, terutama orang-orang yang bekerja sehari semalam penuh, atau para remaja dan orang dewasa yang suka begadang berhari-hari hingga waktu istirahat dan tidur terkuras. Mungkin dampaknya tidak sekarang, tapi itu bisa jadi bom waktu di kemudian hari.

Eh kan soal mati atau hidup urusannya yang di atas. Eits.. jangan seperti itu, Tuhan pun mengambil nyawamu tidak serta merta mencabutnya, tapi juga mengandung sebab akibat.

Referensi:

About Muhammad Iir 48 Articles
Mahasiswa Fisika Universitas Diponegoro. Tertarik dengan segala hal baru di dunia ilmu pengetahuan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*