A password will be e-mailed to you.

    Rasa ingin tahu mendasari kita terus dalam mengalami kemajuan di bidang sains dan teknologi. Diawali dengan peristiwa yang nyeleneh yang dilihat, membuat manusia penasaran, yang buat kita menjawab dengan mengandai-andai dia terjadi karena apa, sehingga kita coba buat sesuatu yang nantinya bakalan buktiin jawaban kita lewat perisitiwa itu.

    Eratosthenes pun yang hidup 2000-an tahun yang lalu mendapati perisitwa yang nyeleneh itu, buat dia penasaran dan ingin tahu sebenarnya penyebab terjadinya sesuatu yang mungkin orang lain kagak peduli. Dia adalah seorang astronom, ahli sejarah, ahli geografi, filsuf, penyair, kritikus teater dan ahli matematika. Sejarah mencatat bahwa dialah yang pertama kali mengukur keliling bumi dengan meleset sekitar 15% dari pengukuran sekarang menggunakan satelit, hasil yang gokil banget buat dia yang hidup di zaman itu.

     

    Pengukuran Eratosthenes

    Eratosthenes melaporkan hasil pengukurannya di “On the measurement of the Earth”. Sayangnya karena bukunya yang hilang, kita tidak bisa tahu secara persis bagaimana Eratosthenes melakukan pengukurannya. Namun pada dasarnya dari cerita-cerita yang ada dari berbagai buku yang merujuk disitu, konsep yang diterapkan dari Ertosthenes ini tetep sama. Hanya dengan pengamatan, geometri sederhana dan tentunya rasa kepo yang buat dia bisa ngelakuin hal gila di zamannya itu.

    Eratosthenes juga adalah direktur perpustakaan besar Iskandariyah atau Aleksandria. Suatu hari dia baca kalo di perbatasan selatan pos terdepan Syene, dekat air terjun pertama Sungai Nil, pada tengah hari 21 Juni, tongkat yang tegak tuh kagak bakalan ada bayangannya. Pengamatan yang emang orang biasa dibiarin aja, tapi kagak buat Eratosthenes yang membuat dia renunginnya siang dan malam. Dia mengamati apakah di Aleksandria, sekitar tengah hari 21 Juni, tongkat yang tegak tuh memberikan bayangan dan hasilnya pun emang ada.

    Baca juga:  Jangan Salahkan Micin

    Satu hal yang memungkinkan jika memang pada waktu yang bersamaan, di Syene tidak terdapat bayangan pada tongkat tegak sedangkan terdapat bayangan di Aleksandria, maka bumi melengkung atau tidak datar. Jika bumi datar hal ini jelas Matahari yang tepat berada di atas Syene, maka di Aleksandria pun nggak bakalan ada bayangan. Namun yang terjadi tongkat di Syene nggak terjadi bayangan, sedangkan tongkat di Aleksandria terbentuk bayangan dengan sudut 7,2° yang didapat oleh Eratosthenes.

    Image credit:  todaslascosasdeanthony.com

     

    Sehingga untuk skemanya, ketika kita narik garis lurus kedua tongkat sampai ke pusat bumi maka akan jadi bakalan kayak gini:

    Dan sedikit bumbu dari geometri sederhana yang udah kita pelajarin dari SMP mengenai kedua garis sejajar jika ditarik garis yang memotong keduanya, nantinya sudut-sudut yang berseberangan bakalan sama besar. Karena sinar matahari sejajar maka kita bisa mendapatkannya sebagai berikut:

    Sehingga dari sini Eratosthenes mendapati sudut antara Aleksandria dan Syene adalah 7,2°. Dan dari sinilah dia bisa menggunakan perbandingan sudut dan keliling yang ada, untuk lebih jelasnya kayak gini

    Dimana d itu adalah jarak antara Syene dan Aleksandria. Sehingga lewat perumusannya, perbandingannya bisa seperti ini

    Nah sehingga sisanya, tinggal jarak antara Syene dan Aleksandria. Eratosthenes mengetahui bahwa jarak antara Aleksandria dan Syene adalah 5000 stadia (sekitar 925 km) karena dia sempat nyewa orang buat ngukur jaraknya, sehingga dengan memasukkan data ini ke rumus yang ada kita bakal dapetin

    Jawaban ini hanya meleset sekitar 15% dari yang seharusnya 40.075 km. Tentunya hal yang sangat gokil di zamannya Eratosthenes, dia bisa dapat hasil seperti ini meskipun memang data yang diambil kurang akurat seperti jarak antara kedua kota yang seharusnya 843 km dan sudut antara kedua kota adalah 7,76°.

    Baca juga:  Bola Sepak Terkecil di Dunia Ini Hanya Berukuran Nanometer

    Dan tentunya jawaban ini didapat hanya oleh tongkat, mata, kaki dan otak serta rasa kepo yang sering diremehin orang lain. Dan ketika kita selalu bertanya seperti anak kecil yang selalu penasaran dan selalu ingin mencoba, that time we do Science! Stay kepo guys!

     


    Tulisan ini adalah kiriman dari penulis. Kamu juga bisa membuat tullisanmu sendiri di Saintif dengan bergabung di Saintif Community.


     

    Referensi:

    No more articles