Prolog, cerita dari mantan anak desa

Hai, mau dengar lagu kesukaanku sebelum aku pindah kesini? Mau?

Oke, pertama Aku ceitakan dulu bagaimana pertama kali aku mendengarkannya!

Dulu, saat masih di desa, rasanya pernah ingat, Ibu mengajarkan sebuah lagu yang sangat indah, judul lagu itu, bintang kecil.

 

~Bintang kecil, di langit yang biru,
amat banyak menghias angkasa,
aku ingin, terbang dan menari,
jauh tinggi, ketempat kau berada… ~

 

Lagu ini, sangat lekat denganku, tiap malam kunyanyikan. Aku tahu, apa itu bintang, dan bagaimana ia menghias langit malam. Tapi, semua berubah setelah aku pindah ke kota.

Sesampainya di kota, pemandangan seperti inilah yang bisa kulihat. Tidak ada lagi tuh, berduaan dengan pacar sambil bergurau menebak rasi bintang. Juga tidak ada lagi “make a wish” saat melihat bintang jatuh. Yang ada, hanya warna hitam, yang menyelimuti seluruh sisi malam.

(Mantan anak desa, 2018)

 

Kemana perginya para bintang?

Dari cerita mantan anak desa (m.a.d.) diatas, kok rasanya bintang tiba-tiba pergi ya setelah si m.a.d. pindah ke kota? Padahal aslinya nggak kemana-mana, lho.

Bintang tidak pernah pergi, kecuali kalau terjadi supernova.

Pernah ada suatu kejadian menarik di tahun 1994.

Saat itu, di Los Angeles terjadi gempa besar. Gempa ini menyebaban matinya seluruh sumber listrik, yang dalam kamus anak elektro, disebut sebagai total blackout.

Metropolitan yang beberapa menit yang lalu terang benderang, menjadi gelap seketika, tanpa lampu jalan, tanpa lampu gedung, tanpa lampu. Warga yang penasaran dan ketakutan, keluar dari rumahnya, mereka mengamati sekitarnya, mengamati gedung-gedung yang gelap, mengamati jalan-jalan tanpa cahaya, dan akhirnya mereka melihat ke atas langit.

Di atas langit, mereka melihat hal yang menakutkan. Beberapa warga sampai menelepon 911, dan grifith observatory, mereka melaporkan (sambil ketakutan) telah melihat awan raksasa aneh berwarna perak di atas langit.

Yup, itu betul-betul awan raksasa, dan yang dilaporkan adalah nyata, tapi, awan itu, bukannya tersusun oleh uap air, malahan tersusun dari gugusan planet dan ribuan bintang, mau ditunggu sampai kapanpun, awan itu takkan pernah mendung, dan takkan pernah turun hujan, karena, yang sebenarnya mereka lihat saat itu bukanlah awan biasa, awan raksasa itu adalah galaksi bimasakti, dan waktu itu, adalah saat pertama mereka melihatnya.

Galaksi bimasakti selalu ada di langit malam.

100 tahun yang lalu orang masih dapat melihatnya dengan mata telanjang. Di zaman dahulu, beberapa peradaban menyebut galaksi bimasakti sebagai tulang punggung malam, dan di zaman filosofi yunani, galaksi bimasakti dipercaya sebagai air susu hera yang tumpah, itulah mengapa galaksi ini diberi nama Milky Way.

Yup, sampai saat inipun, galaksi bimasakti tetap ada di langit malam. Bintang-bintangpun juga tetap ada di langit malam. Hanya saja, saat ini mereka tidak lagi bisa menghiasi langit seperti 100 tahun yang lalu.

Pemandangan ini adalah jepretan fotografer Todd Carlson, saat terjadi blackout pada tahun 2003.

Apakah pada pemandangan ini bintang pamit dulu mau pergi, lalu kembai lagi pada saat terjadi blackout?

Bukti lain bahwa bintang sebenarnya selalu ada, adalah munculnya bintang saat kita pergi ke suatu area tertentu yang cukup gelap & tidak terjamah cahaya. Well, meski begitu, saat ini menemukan tempat seperti itu sangatlah sulit. Apalagi untuk orang daerah perkotaan, perlu melancong sejauh 100 km / 1 jam perjalanan, baru bisa menemukan tempat yang langitnya terhias kosmos.

Lokasi paling mudah untuk menemukan bintang-bintang di Indonesia, adalah di atas gunung atau bukit. Seperti foto diatas yang diambil di titik tertentu di gunung bromo.

Yes. Bintang dan galaksi penghias malam sebenarnya tidak pernah pergi. Mereka selalu ada, hanya saja mereka mulai kalah oleh cahaya artifisial.

 

Bintang yang tertelan lampu jalan

Percaya gak, kalau penyebab hilangnya bintang salah satunya adalah lampu penerangan jalan yang tidak efisien?

Banyak lho, cahaya lampu jalan yang tidak digunakan dengan efisien. Beberapa lampu jalan, bukannya digunakan khusus untuk menerangi jalan, malah 50% cahayanya terdesain untuk menerangi langit.

Akibatnya, langit yang terterangi lampu, ditambah debu-debu & uap air yang ada di sana, menyebabkan cahaya terpantul, terdistorsi, terbiaskan, dan menyebabkan peristiwa skyglow.

Skyglow, terangnya langit akibat cahaya yang diarahkan kesana.

Memotret bumi dari atas, kita bisa lihat seberapa parah cahaya yang ditujukan ke langit. Bahkan, tidak hanya di negara-negara maju di luar Indonesia, pulau jawa & sumatera juga terlihat sudah bercahaya dari atas.

Skyglow inilah, yang salah satunya, menyebabkan bintang tidak terlihat lagi. Analoginya seperti warna langit yang menjadi biru di siang hari akibat matahari, menyebabkan kita tidak bisa melihat bintang.

Skyglow mirip seperti itu, namun dengan intensitas yang lebih rendah. Meski intensitasnya lebih rendah, tetap saja, melihat stiker glow in the dark di ruangan yang benar-benar gelap, akan lebih jelas daripada di ruangan yang terang, walau remang-remang.

Itu baru andil dari skyglow, yang mana hanya salah satu jenis dari polusi cahaya. Yeah, kuperkenalkan pada kalian, namanya polusi cahaya, masalah yang membuat langit malam tidak lagi gelap.

Video ini menunjukkan bagaimana polusi cahaya mempengaruhi langit malam

Polusi cahaya mirip dengan polusi suara. Saat kita mendengarkan musik di ruangan yang sunyi, kita dapat dengan santai menikmatinya, meski lagu itu disetel dengan volume rendah, namun, saat kita menyetel lagu itu di jalanan yang macet dan dibelakang kita adalah supir-supir tidak tahu diri dan suka memainkan klakson, mungkin, kita malah tidak akan sadar kalau lagu itu sedang terputar.

Kita tidak bisa mendengarkan lagu kesukaan kita tadi karena suara di latar belakang mengalahkan suara pemutar musik kita. Kemampuan mendengar telinga kita didasarkan pada kekuatan suara yang masuk ke dalamnya, saat intensitas suara di latar belakang sama atau lebih besar dari suara yang ingin kita dengar, maka telinga akan sulit untuk fokus.

Dalam kaitannya dengan polusi cahaya, mata juga merupakan indera pengolah cahaya, yang mirip dengan telinga sebagai indera pengolah suara. Jadi, saat latar belakang cahaya, semisal skyglow -yang disebabkan oleh lampu jalan-, memiliki kekuatan yang lebih terang daripada kekuatan cahaya bintang-bintang -kekuatan setelah sampai ke mata kita-, maka bintang akan menghilang dari pengelihatan kita.

Dampak skyglow tidak hanya untuk masyarakat perkotaan. Seperti lampu dalam ruangan yang menyebar ke seluruh ruangan, skyglow juga ikut menerangi langit di daerah sekitar sumber skyglow tersebut. Itulah kenapa, di pinggiran kotapun, saat ini sulit untuk mendapatkan langit yang gelap [4], dan untuk mendapatkan langit yang gelap, perlu pergi sejauh 100 km atau 1 jam perjalanan.

That’s it, light pollution, and it’s primary causes, the skyglow.

 

Terus kenapa? Haruskah kita peduli?

Mungkin dari penjelasan sebelumnya banyak yang berpikir kalau polusi cahaya itu ‘cuma’ masalah hilangnya bintang ya?

Terus berpikir juga kalau tidak semua orang suka liatin bintang-bintang, dan jadi bingung kenapa harus peduli sama polusi udara. Kan, enak tuh, daripada mengamati bintang, lebih suka mengamati gedung-gedung terang.

Well, okay. Sebelumnya ingin memperjelas dahulu yang berhubungan dengan bintang, cukup penting lho. Polusi cahaya membuat manusia semakin terpisah dengan nature, tentang asal-usul kita.

Mungkin, tidak salah kalau mengatakan kembali munculnya flat-earther akhir-akhir ini ikut disumbang karena manusia sudah tidak bisa melihat perputaran bumi lagi di malam hari.

 

Did you see that? The earth is rotating boy!

Jadi, bintang itu penting, tapi poin tidak semua orang suka melihat bintang juga ada benarnya.

Well, untungnya polusi cahaya tidak hanya soal kita tidak lagi bisa melihat bintang. Dari kata polusi cahaya sendiri, kenapa diberikan kata polusi sebelum cahaya? Kata polusi disini menggambarkan banyaknya pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh cahaya yang berlebihan.

Penyu adalah hewan yang ikut terpengaruh polusi cahaya. Saat bayi penyu lahir di malam hari, maka satu-satunya cara mereka tahu dimana samudera adalah dengan melihat pantulan bulan di permukaan samudera, mereka mencari tempat yang bercahaya, naasnya, akibat polusi cahaya, sering terjadi kasus bayi penyu salah mengira nyala cahaya arfisial sebagai pantulan cahaya bulan, akibatnya, mereka berjalan ke arah yang salah, dan populasi penyu cukup terpengaruh oleh hal tersebut. [5]

Selain penyu, hewan lain seperti kunang-kunang yang sangat tergantung pada habitat yang gelap, sebagai tempat ritual cari pasangan juga terpaksa memojok di habitat gelap yang sekarang jumlahnya sudah sangat sedikit, hal ini juga dikatakan sebagai penyebab berkurangnya populasi kunang-kunang sebesar 90%. [3]

Hewan lain yang ikut terpengaruh adalah burung yang suka bermigrasi. Burung-burung itu kadang menggunakan cahaya bintang sebagai petunjuk arah, burung tidak tahu, dan tidak bisa membedakan mana yang bintang dan mana yang cahaya gedung bertingkat, akibatnya jutaan burung tiap tahunnya mati akibat menabrak gedung. [6]

Masih banyak efek polusi cahaya terhadap ekosistem lainnya sepert banyaknya serangga yang mati karena mendekati cahaya, terganggunya ritual reproduksi ikan salmon karena cahaya, terganggunya proses penyerbukan bunga nokturnal, terganggunya proses pembungaan beberapa jenis tumbuhan, dan lain lain.

Dari semua efek negatif polusi cahaya, satu efek yang harus diketahui secara luas adalah efek terhadap manusia sendiri. Polusi cahaya, juga memberikan efek negatif untuk manusia.

Manusia mempunyai sebuah jam biologis yang namanya ritme sirkadian, jam biologis manusia ini diatur oleh hormon-hormon penting yang dikeluarkan secara alami oleh tubuh untuk mengatur kondisi tubuh, menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Salah satu hormon penting yang dikeluarkan adalah hormon melatonin, hormon pengatur bangun dan tidur.

Melatonin memiliki manfaat sebagai antioksidan -untuk mencegah kanker-, untuk membuat kita mengantuk, untuk menaikkan imunitas, menurunkan kolesterol, dan membantu kerja organ-organ tubuh.

Masalahnya adalah produksi hormon melatonin oleh tubuh sangat dipengaruhi oleh siklus gelap-terang. Adanya polusi cahaya menyebabkan produksi melatonin terhambat. Meskipun dampak secara keseluruhan belum diketahui, namun, penelitian sampai saat ini mendukung bahwa efek negatif dari cahaya artifisial merupakan salah satu faktor semakin banyaknya obesitas, kanker payudara, depresi, insomnia, dan diabetes. [7]

Jadi, jelas bahwa kehilangan bintang, tidak menjadi satu-satunya alasan kita harus melawan polusi cahaya. Dampak-dampak negatif lainnya juga cukup untuk membuat kita setidaknya aware dengan polusi cahaya. Haruskah kita peduli? Ya, harus.

 

Ikut mengurangi polusi cahaya

Beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk bergabung dalam perlawanan terhadap polusi cahaya adalah :

  1. Menginspeksi lampu di sekitar RT / RW, pastikan bahwa lampu yang digunakan tidak mengarah ke atas, apabila lampu mengarah ke atas, sarankan ke petinggi sekitar untuk menggunakan corong pelindung, atau juga bisa dimulai dari lampu depan rumahmu sendiri
  2. Pastikan lampu yang digunakan adalah lampu yang efisien dan sedikit mengeluarkan emisi blue-light, contoh lampu yang baik digunakan adalah lampu LED.
  3. Sebarkan kesadaran akan polusi cahaya ke teman-temanmu, bisa lewat online, ataupun dari mulut ke mulut
  4. Donasi ke organisasi yang melakukan perlawanan terhadap polusi cahaya, salah satu organisasi nirlaba terbesar yang melawan polusi cahaya adalah International Dark-sky Association (IDA)
  5. Mendukung kegiatan-kegiatan earth-hour, dan earth-day, seperti mematikan lampu-lampu yang tidak penting / tidak digunakan.
  6. Dan lain-lain

 

Yeah, cara-cara diatas diambil dari website IDA, dan sudah mulai banyak orang yang ikut berkontribusi, bahkan, ada satu kota yang bekerja sama dengan IDA untuk menciptakan kota dengan langit yang gelap.

Bayangkan, suatu saat nanti, kita kembali bisa melihat milky-way tanpa harus susah payah naik ke atas gunung. Bayangkan, suatu saat nanti kita bisa lagi melihat pasangan saling menengadah melihat keatas menikmati indahnya bintang-bintang, bayangkan, saat anak cucu kita nanti bisa lagi melihat angkasa dan saling bercanda dengan membuat pola-pola bintang. Kembali ke masa, ketika bulan tidak lagi sendirian.

Isn’t that just perfect?

 

Referensi :

[1] https://timeline.com/los-angeles-light-pollution-ebd60d5acd43?gi=695d24fb0fde
[2] http://www.elanvalley.org.uk/explore/dark-skies/light-pollution
[3] https://skyglowproject.com/light-pollution/
[4] https://www.quora.com/What-do-you-guys-think-about-light-pollution/answer/Mike-Tian-1
[5]http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0095069616000097
[6]http://www.darksky.org/light-pollution/wildlife/
[7]http://www.darksky.org/light-pollution/human-health/