A password will be e-mailed to you.

    Semakin ke sini, ternyata masih banyak orang yang ikut-ikutan anti terhadap vaksin.

    Bagi mereka, vaksin itu tidak penting.

    Atau yang lebih ekstrim, bagi mereka vaksin itu hanya akal-akalan elit global untuk melemahkan orang-orang dan untuk memperkaya diri sendiri.

    Orang-orang pada zaman dahulu tidak divaksin dan mereka juga tetap sehat-sehat saja tuh. Umur mereka bahkan lebih panjang. Iya kan?

    Buat apa pula memasukkan bahan yang tidak jelas asal muasalnya ke tubuh bayi? Bahan kimia lagi! Denger-denger isinya itu juga penyakit.

    Dalam argumen yang menyoal tentang kebenaran vaksin, tentu kamu sering mendengar kata-kata seperti itu.

     

    Orang zaman dulu hidup lebih lama

    Kita mulai terlebih dahulu dari klaim bahwa orang zaman dahulu bisa hidup lama.

    Ini adalah grafik perubahan life expectancy atau usia harapan hidup manusia rata-rata dari masa ke masa.

    Dari sini terlihat bahwa semakin ke sini usia harapan hidup manusia jadi lebih tinggi, rata-rata 71,4 tahun pada tahun 2015.

    Bandingkan dengan seratus tahun sebelumnya yang rata-rata hanya mencapai 50 tahun. Atau lebih jauh lagi, 200 tahun yang lalu angka harapan hidup hanya sekitar 35 tahun.

    Kenapa bisa begitu?

    Salah satu penyebabnya yaitu karena tingkat kematian yang tinggi.

    Zaman dahulu, orang sakit sedikit saja sudah bisa meninggal.

    Sementara zaman sekarang, kalau kita sakit ada dokter yang bisa merawat, obat-obatan, teknologi medis yang makin maju, serta beberapa penyakit ganas seperti polio, cacar, campak, dan lain-lain yang dapat diatasi menggunakan vaksin.

    Mari kita kilas balik sejenak untuk melihat sejarah…

    Ada suatu penyakit ganas mematikan yang berusia lebih dari 10.000 tahun. Penyakit ini bernama smallpox (cacar yang sangat parah dan mengerikan), diakibatkan oleh virus variola mayor dan minor.

    Ilustrasi smallpox di suku Nahua Meksiko (Zenius)

    Kalau mau melihat kondisi penyakit smallpox yang sebenarnya, silahkan googling sendiri. Saya tidak menaruhnya di sini karena gambarnya cukup menjijikkan (saya sendiri bergidik melihatnya)

    Angka kematian smallpox ini sangat tinggi, yang akibatnya 20 – 60% yang terkena akan meninggal. Dan kalaupun bertahan hidup, sepertiganya mengalami kebutaan dan memiliki bekas luka di sekujur tubuh.

    Pada anak-anak, angka kematian jauh lebih tinggi lagi. Di London (Inggris) angka kematian tercatat mencapai 80%, sedangkan di Berlin (Jerman) mencapai 98%.

    Artinya, jika virus ini menyerang anak-anak, hampir bisa dipastikan akan meninggal.
    Smallpox ini pula yang berperan besar dalam menjatuhkan kerajaan Aztec dan Inca daripada penyerangan Conquistador Spanyol.

    Hanya dengan 180 orang melawan 6 juta pasukan, bangsa Spanyol mampu menaklukkan bangsa Indian di Amerika. Tak lain karena wabah smallpox yang mereka bawa adalah malapetaka bagi bangsa Indian, yang mengakibatkan 3-4 juta orang meninggal akibat penyakit ini.

    180 orang berhasil melawan 6 juta pasukan dengan bantuan penyakit akibat virus!

    Untungnya, dengan telah ditemukannya vaksin untuk smallpox, penyakit itu tak lagi mematikan untuk kita semua dan telah dinyatakan musnah pada 1980 oleh WHO.

    Begitu pula untuk penyakit-penyakit mematikan lain, yang dahulu dapat membunuh manusia dalam hitungan hari, kini tak lagi mempan pada tubuh kita karena kita telah menerima vaksin.

    Penurunan kasus penyakit polio setelah ada vaksin

    Penurunan kasus penyakit gondongan setelah ada vaksin

     

    Apa itu vaksin?

    Secara umum vaksin adalah patogen (penyakit) yang telah dilemahkan, yang berfungsi untuk memunculkan reaksi kekebalan tubuh.

    Umumnya, vaksin berasal dari kuman (bakteri, virus atau patogen) yang telah dilemahkan atau mati. Ketika vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan langsung menyerang kuman lemah tersebut.

    Baca juga:  Udara Jakarta Lebih Bersih Saat Lebaran, Benarkah? Mari Lihat Datanya

    Dengan begini, sistem kekebalan tubuh sudah mengenali jenis patogen ini. Dan ketika virus yang sesungguhnya datang, tubuh dapat melawan kuman tersebut dengan lebih efektif.

     

    Efek negatif dari vaksin

    Kalau vaksin memang bisa mencegah penyakit, kok masih banyak penyakit yang justru diakibatkan oleh vaksin?

    Demam, autism, atau bahkan sampai meninggal…

    Seperti pada video ini

    Nyatanya, vaksin memang memiliki efek samping.

    Efek samping ini biasa disebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yang di dalamnya termasuk demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi.

    Tapi tenang, ini bukan hal negatif.

    Ini adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari.

    Hal ini pun justru mengindikasikan bahwa antibodi tubuh sedang bekerja untuk menyerang dan mengenali kuman lemah tersebut agar dapat bekerja secara lebih efektif jika kuman yang sebenarnya datang.

    Untuk memastikan KIPI ini hanya terjadi secara ringan, orang tua dan petugas imunisasi harus memastikan bahwa anak yang sedang disuntik vaksin sedang berada dalam kondisi yang sehat.

    KIPI ini pun terus berusaha dimonitor oleh pemerintah. Contoh dalam kasus pemberian vaksin MR di Indonesia tahun 2016, tercatat dari 17,133,271 vaksin yang sudah diberikan, hanya ada 17 laporan anak sakit setelahnya.

    Itupun semua hasilnya menyatakan bahwa sakit yang terjadi hanya kebetulan setelah imunisasi, dan ditemukan penyebab asli penyakit yang diderita.

    KIPI ini terus dimonitor dan dievaluasi untuk memberikan hasil yang terbaik tanpa ada efek samping yang buruk dari vaksin.

    Jika memang terjadi KIPI berat (tapi jarang), maka penanganan medis lanjutan perlu diberikan.

    Dalam contoh kasus anak di Demak yang mengalami kelumpuhan setelah diberi vaksin MR, hasil investigasi KIPI juga menunjukkan bahwasanya penyakit tersebut tidak diakibatkan oleh vaksin, melainkan akibat hal lain berupa infeksi susunan syaraf tulang belakang.

     

    Vaksin adalah biang autisme

    Salah satu kekhawatiran yang digaduhkan oleh para orang tua adalah isu bahwa vaksin ini dapat menyebabkan autisme pada anak.

    Isu ini pula yang kemudian mempercepat merebaknya gerakan antivaksin.

    Klaim ini didukung oleh penelitian Andrew Wakefield yang diterbitkan dalan jurnal The Lancet pada tahun 1998.

    Singkatnya, penelitian tersebut menemukan hubungan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme pada anak.

    Tentu saja penelitian Wakefield menyebabkan kegaduhan para orang tua.

    Lha siapa pula yang mau anaknya mengalami autisme karena melakukan suntik vaksin?

    Autisme sendiri adalah ganguan perkembangan otak yang menyebabkan gangguan sosial, kognitif, dan komunikasi. Autisme dapat terjadi pada anak manapun, tanpa membedakan etnis atau kelompok sosial.

    Secara umum gejala autisme baru terlihat saat anak berusia 6 bulan, walaupun autisme sebenarnya adalah bawaan lahir. Sementara itu, rata-rata usia wajib vaksin mulai dari 0-2 tahun.

    Bagi masyarakat yang tidak mengetahui secara pasti, tentu bukan hal yang aneh jika secara sepihak menyalahkan vaksin jika terjadi autisme pada anaknya.

    Karena hasil penelitian yang begitu menghebohkan tersebut, banyak peneliti yang melakukan penelitian ulang terhadap hasil yang didapat Wakefield.

    Penelitian ini dilakukan oleh berbagai pakar pada jumlah sampel yang lebih besar pada tempat dan waktu yang berbeda. Total ada lebih dari 25 juta anak yang diteliti.

    Jumlah sampel yang banyak ini sangat-sangat penting untuk mendapatkan kondisi umum yang sebenarnya. Sebagaimana yang pernah dibahas Saintif tentang “Kenapa Banyak Perokok Yang Tetap Sehat?

    Baca juga:  Terobosan Terapi Obat Kanker Ini Mendapatkan Nobel Fisiologi dan Kedokteran 2018

    Pada akhirnya, dari penelitian lanjutan ini disimpulan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme.

    Juga tidak ada hasil penelitian yang meyerupai hasil temuan Wakefiled.

    Penelitian Wakefield ini pun ditarik pada tahun 2010 karena:

    • Tidak berdasarkan statistik
    • Tidak memiliki kelompok kontrol
    • Bergantung pada ingatan orang-orang untuk catatan vaksinasi
    • Kesimpulan samar-samar tidak berdasarkan hasil statistik
    • Penggunaan kelompok kecil seperti itu 12 anak sebagai subjek uji

    Lisensi medisnya pun dicabut di Inggris karena hal itu.

    Namun karena info soal ‘vaksin menyebabkan autis’ ini telah menyebar kemana-mana, banyak orang tua yang terlanjur percaya.

    Yang akibatnya terjadi penurunan jumlah vaksinasi pada anak.

    Salah satu akibatnya baru saja kita liat beberapa waktu lalu. Ketika terjadi Kasus Luar Biasa (KLB) difteri yang menjangkiti banyak anak-anak, yang orangtuanya tidak memperkenankan mereka untuk divaksin.

    Padahal, difteri ini adalah penyakit yang sudah sedari dulu hilang. Tapi muncul lagi dan menyebar dengan sangat cepat karena gerakan antivaksin ini.

     

    Vaksin sama saja memasukan racun ke dalam tubuh

    Ya, sebenarnya hal ini benar juga.

    Tapi tidak semerta-merta seperti itu.

    Seperti yang dijelaskan di awal, bahwa melakukan vaksinasi memang sama saja dengan kita sengaja memasukan virus, bakteri atau patogen ke dalam tubuh.

    Tapi, patogen yang dimasukan ke dalam tubuh sebelumnya sudah dilemahkan. Jadi tidak akan berbahaya bagi tubuh kita dan akan bermanfaat positif dalam bentuk antibodi spesifik yang dapat melawan patogen yang sebenarnya.

     

    Anak saya tidak divaksin tapi sehat-sehat aja tuh!

    Sebenarnya hal ini adalah salah satu efek tak langsung dari adanya vaksinasi.

    Istilahnya, ini disebut dengan Herd Immunity atau kekebalan kelompok.

    Ini merupakan situasi dimana sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect) yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang lain.

    Dengan mekanisme ini, vaksin tak hanya memeberikan kekebalan individual pada orang yang divaksin, tapi dia juga melindungi masyarakat di sekitarnya.

    Hal ini akan sangat bermanfaat, sebab tidak semua orang bisa divaksin (orang yang sedang sakit, wanita hamil dan menyusui, lansia, dsb)

    Maka dengan melakukan vaksin, itu berarti kamu telah berperan dalam menjaga orang lain di sekitarmu untuk terhindar dari penyakit berbahaya.

     

    Antivaksin dan Bumi Datar

    Kalau dilihat dari polanya, gerakan antivaksin tak jauh berbeda dengan gerakan bumi datar.

    Mereka menganggap bahwa sains hanyalah tipuan belaka.

    Vaksin dibuat seolah-olah masuk akal dengan penjelasan sains, padahal tujuannya hanya untuk memperlemah orang-orang dan memperkaya elit global.

    Bumi bola dibuat seolah-olah masuk akal dengan penjelasan sains, padahal tidak sesuai realita dan hanya akan memperkaya bisnis triliyunan dollar para elit global

    Antivaksin sudah memberikan dampak buruk yang begitu nyata (seperti kasus luar biasa difteri kemarin), begitu juga gerakan bumi datar yang telah mengobrak-abrik jagat internet dan membuat banyak orang awam termakan oleh bualan mereka.

    Untuk mencegah gerakan bumi datar makin menyebar, kami di Saintif telah menulis sebuah buku “Meluruskan Miskonsepsi Bumi Datar”, yang membahasnya dengan tuntas dan jelas.

    Adapun untuk antivaksin, semoga sedikit penjelasan dalam tulisan ini dapat membantu.

    Untuk mendapatkan buku ini, silahkan langsung klik di sini.

     

    Referensi:

     

    No more articles