A password will be e-mailed to you.

    Sabtu 29 September 2018 lalu, Saintif bekerjasama dengan KokBisa dan Ayo Mikir, mengadakan event ANTERO Science Discussion.

    Sebuah event diskusi sains yang dikemas secara ringan, mempertemukan pakar, praktisi, influencer, dan semua orang yang tertarik dengan sains.

    Ada lebih dari 160 peserta yang mendaftar–sebuah antusiasme yang luar biasa, akan tetapi karena keterbatasan tempat, hanya 70 orang yang dipilih untuk mengikuti acara diskusi ini.

    Moderator: Nicho Lintang – Educator dan Youtuber Ayo Mikir Channel

    Narasumber :
    1. Dr. Fuad Muhammad, M.Si – Peneliti Departemen Biologi Universitas Dipenogoro
    2. Hario Laskito Adi – CEO dan Founder Lindungihutan.com

    Notulensi oleh Muhammad Fadel Dwi Nugraha

     

    Pengantar oleh Nicho Lintang: Benarkah Bumi Sekarat?

    ANTERO Nicho Lintang

    Nicho Lintang dari Ayo Mikir

    Bumi yang kita tinggali saat ini sudah hampir habus masa batasnya. Kawasan Kutub telah mengalami pencairan es sebesar 50%, yang salah satunya berdampak terhadap fauna kutub.

    Selain itu, Indikator untuk mengetahui kondisi bumi (terutama lingkungan sekitar) adalah dengan melihat jumlah capung. Capung adalah bioindikator yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas lingkungan.

    Jika Capung berjumlah sedikit, lingkungan tersebut dikatakan buruk, begitu pula sebaliknya.

    Indikator terakhir, yakni Hutan. Hutan memiliki sejumlah fungsi, salah duanya sebagai sistem pengairan alami dan paru-paru dunia. Akan tetapi, berdasarkan laporan dari DW.com, dalam setahun saja hutan di dunia berkurang seluas Pulau Jawa.

     

    Kerusakan Hutan dan Dampaknya Terhadap Manusia – oleh Dr. Fuad

    ANTERO Science Discussion - Fuad Muhammad

    Dr. Fuad Muhammad, M.Si

    Kerusakan hutan dimulai ketika revolusi industri di Perancis sekitar 800 tahun yang lalu. Banyak pembangunan pabrik yang menggusur lahan perhutanan sehingga mengurangi persentase jumlah hutan dunia.

    Kilas balik kembali ke kondisi hutan di Indonesia. Kalimantan sebagai pulau yang masih memiliki banyak hutan. Kondisi Kalimantan tersebut disebabkan faktor netralitas dan antropologi budaya.

    Baca juga:  Penelitian Terbaru Ungkap Polusi Udara Membuat Manusia Semakin Bodoh

    Namun, saat ini Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan kerusakan hutan. Penebangan sembarangan dan kebakaran hutan menjadi sumber utama peringkat tersebut. Padahal, Hutan Indonesia dilabeli sebagai paru-paru dunia.

    Perubahan iklim dan perubahan efek rumah kaca berdampak ke kondisi alam dunia, seperti kenaikan air laut.

    Akibat dari kondisi tersebut, dikumandangkan Ecological Threshold sebagai keprihatian terjadi banyak kepunahan (extinction) spesies pada tahun 2050.

    Pada intinya, kerusakan adalah sebuah kepastian karena sudah sunatullah. Manusia hanya bisa mencegah dan menanggulangi bencana.

    Namun, akibat kerusakan hutan mungkin manusia tidak akan punah karena sifat manusia yang memiliki kemampuan mitigasi dan adaptasi. Hanya saja, kualitas hidupnya pasti akan jauh menurun.

     

    Sesi Diskusi Pertama

    Pertanyaan 1 : Mungkinkah langkah penghijauan tanpa ribet?

    “Bisa ikut peran dalam reboisasi dengan memanfaatkan masyarakat untuk ikut gerakan dan konsolidasi dengan pemerintah. Kalau berhasil, pemerintah akan melirik dengan sendirinya dan memberi applause. Selain itu, memberi reward sebagai timbal balik untuk masyarakat yang berkontribusi.”

    Peserta berdiskusi

    Pertanyaan 2 : Pada tahun 2017, Luas hutan Indonesia sebesar 128 Juta Hektar, Potensi hutan yang luas tersebut untuk apa? Tanggapan terhadap kelapa sawit.

    “Alih fungsi untuk hutan primer. Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk lahan gersang. Kelapa sawit termasuk yang flora yang boros air. 85% hutan sawit terdapat di Indonesia dan Malaysia. Tanpa sadar, menggunakan produk primer berarti merusak lingkungan. Ada program untuk menanggulangi kerusakan tersebut dengan zerowaste dan urban farming.”

     

    Pertanyaan 3 : Tanggapan terhadap masalah bubuk kertas.

    “Di Universitas Dipenogoro (UNDIP), sekitar 300 ribu mahasiswa/i mengikuti KKN. Ada sekitar 380 laporan dan harus digandakan. Tentu, hal tersebut sangat boros kertas. Oleh karena itu, Saya (Dr. Fuad Muhammad, S.Si) menggunakan konsep paperless dan jarang sekali untuk menyuruh mahasiswa mengerjakan tugas diatas kertas.”

    Baca juga:  Nicolas Steno, Ilmuwan Tercadas Yang Pernah Ada

     

    Bagaimana Kita Memperbaikinya? – oleh Hario Laskito Adi

    Hario Laskito Adi dari Lindungihutan.com

    Cara untuk memperbaiki hutan yang rusak adalah dengan menyeimbangkan antara eksploitasi dan konservasi.

    Selanjutnya, menghimbau masyarakat untuk membeli produk-produk konservatif. Artinya, produk hasil eksploitasi kurang laku dan penebangan liar akan berkurang.

    Cara tepat untuk mencegah kerusakan hutan dengan memakai kekayaan alam secara biodiversity (beragam produk). Artinya, masyarakat tidak serta-merta menggunakan satu produk karena akan lebih berdampak punahnya suatu jenis flora.

    Selain itu, pengabdian terhadap masyarakat dengan mengembangkan produk ramah lingkungan, seperti pupuk cair. Terakhir, memilih produk perusahaan yang ramah lingkungan.

    Di Jepang, NGO (Non Government Organization) mengadakan konservasi di Lembaga Oisca Jepang. Produk yang dihasilkan seperti sedotan fleksibel yang ramah lingkungan. Selain itu, NGO mengadakan sosialiasi untuk Masyarakat Jepangagar hemat menggunakan air dan listrik.

     

    Sesi Diskusi Kedua

    Pertanyaan 1 : Tanggapan untuk berkontribusi terhadap lingkungan

    “Dengan menyulami pohon mati, lalu ditanam kembali. Selain itu, mencari funding lebih banyak dari masyarakat untuk gerakan penanaman.”

    Pertanyaan 2 : Penanaman Mangrove lebih baik dimana, Pegunungan atau Pesisir?

    “Menurut Saya, lebih baik menanam mangrove di daerah pegunungan karena mangrove sebagai holding tanah pegunungan yang rawan longsor.” – Hario Laskito Adi

    “Jika Mas Hario mengatakan lebih baik di pegunungan, maka Saya lebih baik menanam di daerah pesisir karena mangrove memiliki kekuatan bahan daripada bangunan untuk menahan gelombang laut.” – Dr. Fuad Muhammad, M.Si

     

    Pertanyaan 3 : Bagaimana etika dalam lingkungan?

    “Dengan menghargai dan berinteraksi dengan alam secara langsung.”

     

    Closing Statement

    “Marilah menjaga lingkungan dengan berkontribusi dan berdonasi di lindungihutan.com” – Hario Laskito Adi

    “Jika pohon terakhir telah mati, sungai terakhir telah kering, maka kamu akan sadar uang tidak bisa membeli segalanya” – Dr. Fuad Muhammad, M.Si

     

    ANTERO~~ #ThinkBeyond

    Terima kasih untuk semua yang sudah datang. Jangan lupa untuk datang di diskusi yang selanjutnya 😀

     

    No more articles