Jika ada kasus persidangan jaman ini yang membuat emosi kita teraduk: sedih, kasihan–tapi juga jengkel… Itu adalah persidangan Jessica dalam kasus kopi sianida.

Sidang kopi sianida memang penuh drama. Untuk ukuran orang biasa seperti Jessica dan Mirna, kasus ini mendapatkan sorotan begitu dahsyat dari media. Sampai-sampai stasiun tv nasional secara kontinyu menayangkan persidangan ini seperti serial sinetron–yang tidak kunjung selesai… dan meraup untung besar darinya.

tirto-pendapatan

pendapatan tv dari iklan selama penayangan sidang Jessica-tirto.id

Banyak orang menyangsikan kelakuan stasiun televisi dan media nasional dalam pemberitaan kasus ini. Mereka berkata ini kasus tidak penting, dan pemberitaaan besar-besaran ini adalah sebuah bentuk pengalihan isu dari kasus yang lebih besar. Banyak pula yang berasumsi kasus ini tidak selesai-selesai karena ada banyak uang yang mengalir di persidangan sana.

Kita belum bisa memastikannya, hanya saja, perlu dipahami bahwa kasus ini adalah sebuah kasus yang berat, dengan potensi vonis yang berat pula–yaitu hukuman mati.

Maka dari itu, daripada kita berkata ngalor-ngidul tentang proses persidangan yang tidak selesai-selesai ini… mari kita melihat kasus ini dari sudut pandang yang lain: metode ilmiah.

Showcase Metode Ilmiah

Pengadilan jaman modern merupakan ajang pengaplikasian metode ilmiah—berbeda dengan pangadilan di jaman dahulu, dan inilah hal yang patut kita perhatikan dari proses pengadilan Jessica.

Metode ilmiah dalam pengadilan mensyaratkan bukti empirik untuk menentukan vonis hukuman… bukan sekedar pengakuan saksi.

kopi2

Pengakuan saksi memiliki potensi kesalahan yang besar karena ke-subjektif-annya, maka dari itu keterangan saksi tidak bisa dijadikan dasar vonis, tetapi hanya digunakan sebagai referensi untuk menemukan bukti empirik.

Yang membuat kasus ini belum selesai adalah karena belum adanya bukti empirik yang menunjukkan bahwa benar Jessica adalah orang yang meracun Mirna dengan Sianida…

Yang ada hanya asumsi-asumsi yang belum terbukti kebenarannya secara empirik.

Beberapa asumsi awal penetapan status tersangka Jessica adalah gelagat Jessica yang dianggap mencurigakan:

– memindah-mindahkan gelas kopi dan menutupinya dengan tas kertas

– mundur beberapa langkah dari Mirna yang sedang sekarat, bukannya mendekat dan menolong

– membuang celana yang digunakannya pada saat kematian Mirna

– dan beberapa hal lainnya

Logika akan mengarahkan Jessica sebagai tersangka… tetapi logika tidak selalu benar, dan secanggih apapun logika tanpa bukti empirik tidak bisa digunakan dasar untuk memvonis.

Lebih jauh lagi…

Dalam sains, sesuatu dikatakan ada/eksis bukan berarti sesuatu itu sekedar bisa dilihat, dirasa atau diterima indera, melainkan bisa diukur.

Kita tidak bisa melihat atau merasakan gelombang radio tetapi kita bisa mengukurnya: kita bisa mengukur panjang atau frekuensi dari gelombang radio.

Itulah yang membedakan sains dengan yang lainnya.

Hal ini serupa dengan perdebatan bumi datar yang sempat ramai beberapa waktu lalu. Para Flat Earther mengatakan bahwa foto bumi dari luar angkasa yang memperlihatkan bumi bulat itu semua hoaks..

Padahal kita menerima bahwa bumi itu bulat bukan karena ada foto yang menujukkan hal tersebut tetapi karena ada bukti empirik dan kita punya metode untuk mengukur kebulatan bumi (jari-jari Bumi). Apakah ada metode mengukur ketebalan dari bumi datar? Flat Earther sendiri mengakui mereka tidak punya metode mengukur ketebalan dari bumi datar.

scientific-method

Metode ilmiah (zenius)

Begitulah metode ilmiah..

Jadi baiknya, ketika melihat liputan sidang kopi sianida di televisi atau media lainnnya, kita tidak lagi sekedar mengutuk kasus ini sebagai kasus tidak penting yang tak kunjung selesai, tapi juga belajar mengenai metode ilmiah darinya: betapa besar perjuangannya.
 Sumber: