Loading Likes...

Gosip memang tidak ada matinya.

Di TV, tayangan infotaiment tak pernah habis.

Begitu pula di media sosial, konten-konten gosip tak pernah sepi pengunjung.

Tak hanya itu.

Sesekali cobalah menguping di antara perbincangan sekumpulan perempuan (atau kadang laki-laki juga), tak susah menemukan gosip terbaru di perbincangan semacam ini.

Hmmmm…

Sebenarnya tak ada yang aneh dengan kondisi ini, karena memang… gosip bermanfaat untuk keberlangsungan hidup manusia. Ya!

Dan ini telah terjadi sejak zaman dahulu kala di awal peradaban umat manusia, walau dalam format yang agak sedikit berbeda.

 

Awal mula seni dan kreativitas

Kebanyakan ahli berpendapat bahwa manusia yang mirip dengan kita mulai menghuni Bumi sejak 130.000 tahun yang lalu, walau masih dibutuhkan waktu yang lama sebelum mereka pertama kali berperilaku dan berpikir seperti kita.

Akan tetapi, para ahli masih berbeda pendapat tentang kapan, di mana, dan bagaimana manusia modern ini mulai menunjukkan kreativitas dan kemampuan berpikir abstrak.

Ada yang berpendapat kreativitas mungkin diakibatkan oleh mutasi genetik sekitar 20.000 – 50.000 tahun lalu.

Ada yang berpendapat kreativitas muncul bersamaan dengan semakin kompleksnya organisasi masyarakat

Dan lebih banyak yang berpendapat bahwa seni dan kreativitas telah berkembang lama sejak ratusan ribu tahun lalu, dengan perkembangan yang bersifat gradual. Hal ini didasarkan pada berbagai temuan arkeologis pada rentang masa itu, seperti objek yang didekorasi dengan pola simbolik, bebatuan yang dipahat dengan tangan dengan variasi warna yang menarik, dan lain sebagainya.

Yang artinya, manusia pada zaman itu telah memiliki rasa artistik yang cukup tinggi.

Setelah rasa artistik yang tinggi ini, kreativitas pun mulai berkembang.

 

Perkembangan kreativitas manusia

Ada satu teori menarik tentang perkembangan kreativitas manusia yang diajukan oleh John Tooby dan Leda Cosmides dari Universitas California di Santa Barbara.

Kedua orang ini bertanya-tanya apa yang menyebabkan ketertarikan universal manusia terhadap pengalaman fiksi.

Tak usah jauh-jauh mencari contoh, cukup lihat ke dalam diri kita sendiri.

Kenapa kita suka menonton film, walaupun kita tahu itu tidak nyata? Thanos, Ironman, Spiderman, dkk itu tidak nyata kan?

Kenapa kita (terutama ibu-ibu) suka menonton sinetron yang jelas-jelas tidak masuk akal? Seperti tokoh antagonis yang selalu mendengar percakapan penting dari jarak puluhan meter.

Popularitas gossip-gosip selebriti di TV dan media social juga tak lepas dari keinginan yang sama, bahwa kita tertarik untuk mengetahui cerita di balik hidup orang lain.

Nyatanya, ini terjadi karena otak manusia tidak dilahirkan dengan paket program yang lengkap. Otak kita terlahir dengan pengetahuan akan fungsi dasar untuk  membantu kehidupan awal kita, seperti bernafas, menangis, bergerak dan menyedot susu ibu.

Adapun untuk sebagian besar pengetahuan lainnya, otak kita hanya menyediakan untuk diisi melalui pembelajaran dan pengalaman.

 

Jawabannya ada di zaman purbakala dulu

Di masa purbakala dulu, pembelajaran tidak dilakukan di sekolah-sekolah atau universitas. Karena belum ada.

Di sinilah fungsi penting cerita dan permainan.

Cerita dan permainan adalah sarana untuk belajar tentang hidup dan kehidupan. Melalui permainan seperti petak umpet, mereka belajar cara menghadapi binatang buas. Melalui cerita dari para tetua yang telah berpengalaman, mereka pun bisa belajar banyak.

Tentu cara seperti ini jauh lebih efektif daripada harus mengorbankan nyawa untuk belajar lewat pengalaman nyata menghadapi binatang buas.

Permainan, seni, dan kegiatan ritual juga memiliki fungsi social: mempererat hubungan antar sesama kelompok.

Oleh karena itu, ketertarikan manusia pada pengalaman fiksi, yang merupakan cikal bakal kreativitas artistik, sebenarnya memiliki fungsi penting menjaga keberlangsungan hidup umat manusia karena menyediakan wadah pembelajaran tanpa resiko besar.

Dan ketertarikan pada pengalaman fiksi itu masih terus turun hingga saat ini, walaupun fungsinya tidak lagi sevital permasalahan hidup-mati pada zaman dahulu.

 

Kesimpulan

Ketertarikan pada pengalaman fiksi pada dasarnya telah terpogram di dalam otak kita sebagai upaya untuk pembelajaran secara efektif dan efisien. Dalam konteks saat ini, pengalaman fiksi ini dapat berupa cerita, film, gosip, sinetron, dan lain sebagainya.

Ketertarikan pada pengalaman fiksi ini digunakan sejak zaman dahulu, salah satunya untuk belajar dalam menghadapi binatang-binatang buas, yang berperan penting dalam menjaga keberlangsungan hidup umat manusia.

 

Referensi:

Konten diolah dari subbab dalam buku Ketika Archimedes Berteriak Eureka, “Ketika Para Anak Manusia Purba Bermain-main: Mengapa gossip, drama, dan sinetron mampu menjaga keberlangsungan hidup manusia?

  • Arndt, Jamie, et al. “Creativity and terror management: Evidence that creative activity increases guilt and social projection following mortality salience.” Journal of personality and social psychology 77.1 (1999): 19.
  • Gazzaniga, Michael S. (2009). Human: The Science Behind What Makes Your Brain Unique. Harper Perennial.
  • Henderson, M. (17 Feb 2003), Genetic changes trigered man’s artistic abilities, London Times.
  • Klein, R.G., & B. Edgar (2002), The dawn of human culture, Wiley New York.
  • Pfeiffer, J.E. (1982). The creative explosion: An Inquiry into origins of art and religion. Harper & Row, New York