A password will be e-mailed to you.

Sudah tidak sabar untuk mengamati peristiwa gerhana Bulan total 28 Juli 2018? Atau justru kamu belum tahu kalau di tanggal itu ada peristiwa gerhana Bulan total? Sambil menunggu hari gerhana tiba, bagaimana kalau kita simak dulu lima fakta menariknya?

Sekadar informasi bila kamu lupa, gerhana Bulan total bisa terjadi ketika Matahari-Bumi-Bulan berada dalam satu garis lurus yang dikenal sebagai posisi syzygy. Posisi ini membuat cahaya Matahari yang seharusnya menyinari Bulan menjadi terhalang oleh Bumi. Tapi, karena Bumi memiliki atmosfer, cahaya Matahari tetap menyinari Bulan, namun terbiaskan sehingga hanya cahaya merahnya saja yang tersisa.

Itulah yang membuat alih-alih membuat Bulan gelap gulita, gerhana Bulan total malah tampak berwarna merah.

Nah, agar tidak berpanjang lebar, mari kita mulai bahas apa saja lima fakta menarik mengenai gerhana Bulan total 28 Juli 2018 mendatang.

 

Satu, Gerhana Bulan Berdurasi Terpanjang Abad Ini

Seberapa durasi gerhana Bulan? Paling lama, bisa sampai 106 menit. Yang menarik dari gerhana Bulan total 28 Juli 2018 ini, durasinya akan mencapai 103 menit! Lama gak tuh~

Ya, Bulan akan sepenuhnya masuk ke bayangan umbra (bayangan gelap) Bumi selama 103 menit, membuat gerhana ini merupakan gerhana Bulan total berdurasi terpanjang di abad ke-21. Namun, durasi itu hanya untuk fase totalitasnya saja, untuk seluruh fase gerhana, mulai dari fase penumbra dan parsial, akan memakan waktu 6 jam 14 menit dari awal hingga selesai.

Apa yang membuat durasinya sangat lama? Jawabannya sederhana, ini karena Bulan akan melintasi bagian tengah umbra. Semakin ke tengah, durasi semakin lama.

Setelah gerhana Bulan total 28 Juli 2018, gerhana dengan durasi yang cukup lama lainnya akan terjadi pada 26 Juni 2029, di mana totalitas akan berlangsung selama 102 menit.

 

Dua, Gerhana Bulan Mini

Tepat pada pukul 12:43 WIB pada tanggal 27 Juli 2018, Bulan purnama akan mencapai apogee — titik terjauh pada orbitnya dalam mengelilingi Bumi. Hal itupun akan membuat Bulan tampak kecil, yang kini populer disebut sebagai Mini Moon atau Bulan Mini.

Baca juga:  Bagaimana cara mengidentifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat terbang?

Nantinya, kita akan melihat gerhana Bulan total yang diameter sudutnya kecil bila dibandingkan dengan Bulan purnama lainnya di tahun ini. Posisi Bulan yang berada di apogee juga cukup menguntungkan, sebab Bulan akan butuh waktu lebih lama untuk bergerak melintasi bayangan umbra Bumi saat di jarak terjauhnya. Inilah juga penyebab mengapa durasi gerhana ini akan lebih lama daripada gerhana Bulan lainnya di abad ini.

 

Tiga, Ada Planet Mars

Ada planet Mars? Ya~ Kita bisa melihat planet Mars di dekat gerhana Bulan total. Planet Merah, pada saat gerhana Bulan total berlangsung, akan mencapai titik oposisi, yakni titik yang berseberangan dengan Matahari di langit Bumi, dengan konfigurasinya adalah Matahari-Bumi-Mars berada dalam satu garis lurus di bidang tata surya.

Pada tanggal 31 Juli 2018, Mars juga akan berada pada jarak terdekat ke Bumi — yakni sekitar 57 juta kilometer. Kedua peristiwa ini (oposisi dan jarak terdekat antara Bumi-Mars) akan membuat Mars muncul lebih terang dan lebih mudah dilihat di langit malam.

Bagaimana cara menemukan Mars? Mudah saja, ia muncul bagaikan bintang dengan warna merah dengan cahaya yang stabil (tidak berkelap-kelip). Pada saat gerhana Bulan total berlangsung, Mars akan berada di titik konjungsi dengan Bulan, sehingga mereka akan tampak berdampingan.

Yang menariknya lagi, ini merupakan jarak terdekat antara Bumi dan Mars dalam lima belas tahun terakhir. Jarak terdekat antar kedua planet berikutnya baru akan terjadi lagi pada 28 Agustus 2287.

 

Empat, Perbedaan Waktu

Berbeda dengan peristiwa gerhana Matahari total yang terjadi pada waktu yang hampir bersamaan di berbagai tempat, peristiwa gerhana Bulan total memiliki perbedaan waktu pengamatan.

Baca juga:  Medali Nobel Hanya untuk Ilmuwan yang Berumur Panjang

Hal itu disebabkan karena gerhana Bulan total bisa diamati di seluruh wilayah Bumi yang sedang mengalami malam hari. Dengan kata lain, ada wilayah-wilayah di Bumi yang bisa mulai mengamati gerhana Bulan total 28 Juli 2018 ini saat dini hari, ada yang mulai larut malam, sampai ada yang bisa mengamatinya sejak Matahari terbenam.

Gerhana Bulan total 28 Juli 2018 sendiri akan terlihat dari sebagian besar Eropa, Asia, Australia, Selandia Baru, Afrika, dan sebagian Amerika Selatan.

Orang-orang di bagian timur Amerika Selatan akan dapat melihat fase akhir dari gerhana setelah Matahari terbenam pada 27 Juli, sementara orang-orang di Selandia Baru akan dapat menikmati awal gerhana tepat sebelum Matahari terbit pada 28 Juli.

Lokasi terbaik untuk mengamatinya adalah di Asia dan Australia, yang mana akan dapat melihat seluruh fase gerhana dari awal malam 27 Juli 27 sampai dini hari 28 Juli.

Bagaimana dengan di Indonesia? Kita bisa melihat gerhana ini mulai pukul 01:24 WIB tanggal 28 Juli 2018. Puncak gerhana akan terjadi pukul 03:21 WIB, lalu gerhana akan berakhir pukul 05:19 WIB.

 

Lima, Perseid Ikut Meramaikan

Apa itu Perseid? Ia merupakan sebutan untuk hujan meteor yang memiliki titik radian di rasi bintang Perseus.

Jika kamu beruntung, kamu mungkin bisa nih melihat beberapa “bintang jatuh” atau meteor-meteor Perseid. Hujan meteor ini biasanya aktif antara tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus, dan akan memuncak pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus.

Untuk mengamati Perseid juga tidak butuh alat khusus seperti teleskop. Karena meteor-meteor melesat cepat di langit, kamu bisa mengamatinya tanpa alat bantu pengamatan. Cukup dengan berbaring, menikmati gerhana Bulan total sambil ditemani meteor.

Nah, itulah lima fakta menarik mengenai gerhana Bulan total 28 Juli 2018 mendatang. Sudah siapkah kamu untuk mengamatinya?

Clear skies!

No more articles