Cegah TB untuk Eliminasi TB

Tepat 137 tahun yang lalu kuman tuberkulosis (TB) pertama kali ditemukan oleh Robert Koch [1]. Akan tetapi, sampai saat ini, ia masih menjadi musuh dunia yang tak kunjung menyerah.

Indonesia menjadi salah satu negara yang dibetahi oleh kuman TB. Terang saja, pada tahun 2016, Indonesia naik peringkat dari nomor 5 menjadi nomor 2 sebagai negara dengan kasus TB terbanyak di dunia [2,3].

Pemerintah semakin gencar untuk menyudahi masalah besar yang ditimbulkan oleh kuman TB, meliputi angka kematian yang tinggi, kerugian ekonomi yang tinggi, serta beban kesehatan yang juga tinggi. Gerakan untuk membasmi TB menjadi salah 1 dari 3 fokus utama lintas sektor Kementerian Kesehatan dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional, yaitu penurunan stunting, percepatan eliminasi TB, dan peningkatan cakupan serta mutu imunisasi [4].

Upaya pemberantasan TB membutuhkan peran banyak pihak, tidak terkecuali masyarakat luas. Upaya yang terangkum dalam jargon TOSS TB (Temukan TB Obati Sampai Sembuh) tersebut meliputi upaya pencegahan, penemuan kasus, pengobatan tuntas, pencegahan kekambuhan, hingga pemutusan penularan [2].

Agar tercegah dari infeksi TB, kita perlu mengetahui apa saja faktor risikonya. Terdapat 3 faktor utama yang saling berinteraksi yang menjadikan seseorang berisiko terinfeksi, yaitu pejamu (host), penyebab (agent), dan lingkungan (environment) [2]. Dari sisi pejamu, imunitas atau kondisi kekebalan tubuh seseorang sangat menentukan kerentanan. Oleh karena itulah diperlukan imunisiasi BCG pada bayi, yang merupakan imunisasi menggunakan kuman TB yang dilemahkan untuk membangun pertahanan terhadap tuberkulosis. Orang yang terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus) atau orang yang mengidap kencing manis (diabetes mellitus) memiliki sistem imun yang lemah, begitupun orang dengan status gizi yang buruk. Selain itu, kebiasaan merokok menyebabkan kerusakan sel-sel yang berfungsi menyapu benda asing dari saluran napas sehingga kuman lebih mudah masuk [5].

Baca juga:  4 Teknologi yang terinspirasi dari alam

Perlu diingat juga bahwasanya TB tidak hanya hidup nyaman di paru-paru. Tuberkulosis dapat menginfeksi jaringan dan organ lain dalam tubuh, suatu kondisi yang disebut sebagai infeksi TB ekstra paru. Sebagai contoh adalah meningitis TB (radang selaput otak), limfadenitis (radang kelenjar getah bening) TB, colitis (radang usus besar) TB, dan sebagainya. TB menyebar di tubuh melalui kelenjar getah bening dan pembuluh darah terutama ketika sistem kekebalan menurun. Tuberkulosis ekstra paru biasanya parah, memiliki luaran yang tidak baik, serta sulit disembuhkan [5].

Semakin kebal, semakin kuatlah kuman TB dalam menginfeksi. Saat ini, semakin banyak kuman TB yang kebal terhadap obat-obatan kelas prajurit (obat-obatan lini pertama). Mengapa demikian? Beberapa faktor yang memengaruhi adalah pengobatan yang tidak tuntas. Banyak orang yang menghentikan pengobatan TB karena merasa sudah sehat. Padahal jika demikian, kuman TB belum semuanya mati dan di antara mereka ada yang justru memanfaatkan kondisi ini untuk membangun kekebalan terhadap obat yang pernah diberikan. Terjadi perubahan di tingkat genetik yang menyebabkan kuman dapat menyesuaikan diri dan tidak terpengaruh oleh kerja obat. Yang lebih kacau lagi adalah bahwa perubahan genetik ini dapat diturunkan kepada anak cucunya atau ditularkan kepada teman sejawatnya. Berkembanglah jenis kuman yang kebal. Timbullah masalah baru karena ketika obat-obatan kelas prajurit tidak mampu mengalahkan kuman, dibutuhkan obat-obatan dari kelas lebih tinggi yang lebih sulit didapatkan, lebih mahal, dan/atau lebih banyak efek sampingnya. Selain itu, ketika sudah diberikan obat-obatan kelas dari lebih tinggi tetapi pengobatannya juga tidak berjalan dengan baik (tidak patuh dan/atau tidak tuntas), infeksi TB semakin sulit disembuhkan. Pada akhirnya, jika obat lini terakhir tidak juga mampu membasmi kuman, kuman tersebut menjadi tak terkalahkan [5].

Baca juga:  Benarkah karbon dioksida (CO2) bermanfaat bagi tubuh kita?
Mycobacterium tuberculosis, kuman penyebab infeksi tuberkulosis, dilihat dibawah mikroskop optik dengan perbesaran 1000x

Dari segi lingkungan, infeksi TB lebih mudah terjadi pada kondisi rumah yang kumuh dan kurang ventilasi. Kuman yang mudah menular melalui percik dahak ini mati di bawah sinar matahari sehingga rumah dengan penerangan yang baik menurunkan risiko infeksi TB. Perilaku hidup bersih dan sehat perlu dijunjung untuk mencegah penyakit infeksi secara umum karena infeksi TB juga seringkali menumpangi infeksi kuman lain karena di saat itu sistem kekebalan tubuh sedang menurun. Selain itu, orang yang tinggal serumah dengan penderita TB, terutama dengan hasil tes dahak positif, memiliki risiko terinfeksi akibat tertular [6].

Referensi

[1] Barberis I, Bragazzi NL, Galluzzo L, Martini M. The history of tuberculosis: from the first historical records to the isolation of Koch’s bacillus. Journal of preventive medicine and hygiene. 2017 Mar;58(1):E9.

[2] Kementerian Kesehatan RI. InfoDATIN: Tuberkulosis. Jakarta. 2018.

[3] Kementerian Kesehatan RI. Strategi Nasional Pengendalian TB. Jakarta. 2011.

[4] Kementerian Kesehatan RI. Tuberkulosis, Stunting dan Imunisasi Merupakan Isu Nasional Lintas Sektor. Diakses pada 23 Maret 2019 dari https://www.litbang.kemkes.go.id/ tuberkulosis-stunting-dan-imunisasi-merupakan-isu-nasional-lintas-sektor/

[5] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.[6] Kartasasmita CB. Epidemiologi tuberkulosis. Sari Pediatri. 2009 Agustus;11(2):124-129.

About Vita Arfiana Nurul Fatimah 8 Articles
Stay updated to feed my curiosity.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*