Loading Likes...

Awan tersusun dari tetes-tetes kecil air ataupun es.

Tetes-tetes kecil air dan kristal es pada awan memiliki ukuran yang pas untuk dapat menghamburkan semua warna cahaya, dibanding dengan ukuran molekul udara yang lebih kecil yang hanya efektif menghamburkan warna biru saja di siang hari.

Saat cahaya memiliki semua warna, mata kita melihatnya menjadi warna putih.

Saat ketebalan awan masih tipis, dia meloloskan sejumlah besar cahaya yang menembusnya dan tampak menjadi putih. Tapi seperti kebanyakan benda lain yang meneruskan cahaya, semakin tebal benda, maka semakin sedikit cahaya yang diloloskan.

Selagi awan tumbuh semakin tebal, semakin banyak cahaya matahari yang dipantulkan dan semakin sedikit cahaya yang mampu menembus awan.

Karena semakin sedikit cahaya matahari yang mampu mencapai sisi bawah awan, semakin sedikit cahaya yang dihamburkan, dan bagian bawah awan tampak abu-abu.

Terlebih lagi jika tetes-tetes air berukuran besar terletak di bagian bawah awan, saat tetes air sudah berat cukup untuk jatuh ke tanah, tetes air ini menjadi tidak efektif untuk menghamburkan cahaya dan lebih mampu untuk menyerap cahaya.

Sebagian besar cahaya matahari dipantulkan dan diserap sebelum mencapai dasar awan. Semakin tebal awan, semakin gelap bagian dasarnya. Dengan sedikitnya cahaya yang mampu mencapai mata kita di tanah, itulah sebabnya mengapa awan mendung tampak keabu-abuan dan gelap sebelum tetes-tetes air itu jatuh ke tanah menjadi hujan.